Showing posts with label ITB. Show all posts
Showing posts with label ITB. Show all posts

Thursday, January 19, 2012

Seputar 1978, kisah kang Sonny

From: Sonny Djatnika SD
Sender: ITB74@yahoogroups.com
Date: Tue, 17 Jan 2012 16:41:35 +0800 (SGT)
To: ITB74@yahoogroups.com
ReplyTo: ITB74@yahoogroups.com
Subject: Re: Tragedi - Re: [ITB74] Saya, Agus Darmadi, diantara Sudomo dan Imaduddin JILID 2

Saya tidak banyak punya cerita.... Saya coba dengan keterpaksaan untuk bercerita (dari sisi saya)....

Saat temen-teman Mahawarman yang lain, Iwan DS SI74, Ocim MS74, Dadan TI74, Aussie GL74, Samudra GL74, Adam Pieter TP74(??), Al Johnet GL73, Basuki Rahardjo TA73, dll. masing-masing di Komando Brigade kuadran, posko Mahawarman menjadi kosong. Sebab yang lain juga ada di Staff Resimen Mahawarman (Jl. Surapati, kalau nggak salah ITB74 disana adalah Eddy Gaffar GL74, Bambang Suhardi MS74, Abadi TA73 dan Anna D Permana GD74). Hanya satu orang ITB'74 yang aktif di posko Mahawarman ITB, Joko Purwono MS'74.

Saya yang sudah tidak lagi banyak aktif di Mahawarman. Karena rencananya semester-7 itu adalah ingin menghabiskan sisa 22-SKS, di smstr 8 tinggal 1-SKS humaniora dan kredit kerja praktek dan tugas akhir. Rencananya mengemplang mematahkan mitos TA yang umumnya lulus di atas 7 tahun. Saat itu, saya mendapat keringan ITB untuk tidak lagi membayar uang smesteran dan bebas biaya SKS. Rencana tinggal rencana, dengan Setiawan S dan yang lainnya lebi betah duduk-duduk di lapangan basket mendengarkan Dadan dan Aussie teriak-teriak. Toh ruang kuliah juga sepi. Bersama Aden S Ottoloewa TA73 mulai membantu lagi di posko, jadi James Bond keliling luar kampus agar tidak ada orang luar masuk dan mengacau kampus. Bahkan pernah dengan Dadan ke SMA-SMA untuk melihat juga pergerakan disana. Mungkin karena saya sering memakai topi ala Baretta, Joko Purwono mengangkat saya menjadi Kasi Intelejen Mahawarman, padahal saya sama sekali belum pernah mengikuti pendidikan intelejen. Jadilah intel dadakan.

Saat RPKAD masuk pertama-kali, tidak banyak yang tahu kalau Aden SO lah yang sedang di lapang basket, sebagai mahasiswa pertama yang diambil CPM. Target mereka mengambil dahulu yang mungkin menjadi pagar. Malamnya kami jemput ke jalan Jawa, ternyata sudah tidak ada. Saya ke asramanya dan disana pun tidak ada. Aden saat itu tinggal di asrama Gorontalo bersama Harso PL74 (seingat saya dulu nama panggilannya bukan Harso, kalau nggak salah ingat Akiaw, atau apa ya?). Beberapa hari kemudian saya baru tahu, Aden "disimpan" di Homann. Saya lupa apa yang yang ditanyakan CPM rincinya, paling sekitar siapa orang luar yang berdiri di belakang buku putih. Tentu karena bukan aktifis, jawabnya tidak tahu.

Isu pada waktu itu adalah kalau Mahawarman adalah alat ABRI. Kecuali Mahawarman yang aktifis di DM, Mahawarman lain tidak diikutkan dalam pertemuan mahasiswa di kampus. Tetapi dari beberapa aktifis membuat pertemuan dengan anggota Mahawarman tertentu di rumah Heman Afif di sekitar Jl Dederuk. Bagaimana membuat skenario untuk mengalihkan dan mengacaukan perhatian para informan resmi. Fihak Mahawarman mengindikasikan, lebih dari 100 mahasiswa ITB yang menjadi informan. Beberapa di antaranya memang ada yang masuk juga di tubuh Mahawarman. Jadi kita harus hati-hati. Dari cara fihak ABRI mengambil Aden, mencari Iwan DS, Aussie BG dan lainnya lah kami berkesimpulan tentang nama-nama yang telah dibocorkan dan disampaikan oleh para informan. SAYA TIDAK TAHU SIAPA?

Beberapa kejadian seru di kampus tidak lagi saya ikuti, melainkan saya mengikuti gerak-gerik Komanda Jihad Imron, mulai dari mesjid Salman, Istiqomah sampai mesjid Baros Cimahi. Seru, karena saya bergerak sendiri tanpa punya kemampuan bela diri sedikit pun. Saat berada di kampus, saya sengaja ke halaman Salman, disana ada Sintong Panjaitan yang menjadi Komandan Pengepungan ITB dari Kodam Siliwangi saat itu. Kalau tidak salah lihat RPKAD juga dipimpin oleh Prabowo yang masih baret hijau (yang ini mohon koreksi karena saya tidak ingat wajah dan tokoh). Anehnya waalau sering keluar-masuk halaman Salman, tidak pernah ada yang bertanya dan memeriksa saya, walau harusnya saya gampang dilihat karena saat itu sudah sering memakai topi bulu Rusia.

Begitu pun di sore itu, saya harus mengamankan posko dengan menyembunyikan senjata, karena saat kami punya 7 garrand, 2 bren dan satu pelontar mortir. Informasi dari teman di posko membuat saya khawatir, karena laporan piket posko malam sebelumnya yang ditawari seseorang satu truk senjata dan pelurumnya, konon untuk mempertahankan kampus. Dalam hati, untung teman-teman akalnya sehat untuk menolak (Saat kejadian 1966, banyak kampus menerima kiriman senjata semacam itu). Sore itu adalah terakhir saya berdiri di dekat tiang di depan gerbang kampus, berusaha mencegah tentara masuk. Tentara yang mengepung saat itu adalah bukan lagi yang dipimpin LetKol Sintong, walau bajunya sama dari Kostrad. Logat bahasanya adalah logat Jawa Tengah. Setelah keadaan mereda, saya pulang menembus penjagaan bersama para wartawan dan penonoton yang saat itu berdatangan dan pulang.

Malamnya, saya kembali ke kampus. Tetapi ada penjagaan di Jl. Ganesha yang melarang masuk kendaraan. Kemudian saya ke Rektorat, karena biasanya, Ibu Wiranto mengirimkan nasi bungkus dari sana, rencana saya akan ikut rombongan pengirim nasi bungkus. Di sana saya baru tahu, kalau kampus sudah diduduki. Entah beberapa malam berkumpul di Rektorat, termasuk berita adanya kejadian penembakan rumah Pak Alisjahbana yang hanya berjarak 50 meter dari Rektorat. Sampai akhirnya kami diminta oleh Pak Wiranto untuk mewakili ITB menjaga kampus agar tidak lagi ada fitnah tentang penemuan-penemuan disana. Saya, Samudra GL74, Dani GL74, Sampurno GD74 adalah merupakan anggota dari 16 wakil ITB yang menginap di dalam kampus. Bahkan anggota Mahawarman ITB lainnya yang saat itu berkumpul di Rektorat tidak boleh masuk. Kami harus menjaga agar mahasiswa lain dan staff ITB juga tidak boleh ada masuk melewati batas jam di depan 8EH. Tujuannya adalah agar saat inventarisasi dan penyerahan kembali kampus dari ABRI ke ITB tidak ada yang dijadikan fitnah di kemudian hari.

Sering saya pergi membeli rokok (awal saya membeli sendiri) melewati asrama Ganesha, atau kadang saat sedang menjaga di gerbang, didatangi oleh penduduk asrama. Bukan saja mahasiswa biasa, ada juga yang Mahawarman. Saya kira mereka mau memberi sesuatu, tetapi kami sering diserang oleh mereka, dikatakan alat ABRI dan sebagainya. Bukan saja oleh teman seangkatan, bahkan oleh yang lebih muda dan paling keras oleh yang lebih tua, kami terima saja. Melawan saya kagak berani biar pun pakai seragam. Saya tidak pernah tahu kemana para mahasiswa lain yang dulu bergerombol di lapangan basket, tahu itu kemudian. Konon dari teman-teman banyak yang diinapkan di Jl. Jawa.

Kampus mulai dibuka hanya untuk mahasiswa baru angkatan 1978. Kami, 16 orang, ditugaskan untuk melatih mereka baris-berbaris untuk pembukaan upacara penerimaan mahasiswa baru. Bahkan saya tidak tahu, kapan mereka testing masuk ITB-nya. Sial-nya saya lah yang mengajari Ganeshi. Sampai akhirnya, kampus diserahkan dan dinormalkan oleh NKK. Saat teman-teman masih ada yang ikut ujian semester-7 dan melanjutkan semenester-8, saya masih tidak ikut ujian hampir 8-SKS semester 7 dan hanya 4-SKS di semester 8, yaitu Humaniora dan kerja praktek saja. Saat mengambil SKS yang belum ujian di smester-9 dan 10, saya harus mengambil hampir 14-SKS pelajaran baru. Total selama di ITB saya mengambil hampir 182-SKS, lebih banyak dari yang lainnya. Rencana mengemplang tidak berhasil, tetapi banyak belajar dari kejadian 1978 itu.... Tidak aneh saya baru sidang pada akhir 1981, selain karena tugas akhirnya hampir 1,5 tahun. Saya tidak ikut wisuda Okt 1981, malahan ijazahnya jadi yang pertama keluaran baru pada awal 1982 yang berbentuk lebih kecil.....

Banyak cerita kemudian setelah 1978, termasuk Mahawarman ITB yang dianggap kurang kerja-samanya oleh Hankam sehingga kemudian diambil alih dari sebelumnya di bawah Rektor menjadi di Bawah SKB 3-menteri. Baret dan badge diganti lebih nasionalis. Tetapi saya, Joko dan Aden adalah yang membuat poernyataan terlis dan menolak. Kono, pada waktu itu Pangdam Siliwangi, Mayjen Himawan Soetanto juga prihatin atas kejadian tersebut, terutama penembakan rumah Pak Alisjahbana. Pak Himawan dan Pak Jendral Awaliudin Jamin (Kapolri) adalah menantu Bapak Ir. Hadji Djuanda. 12 tahun setelah kejadian 1978, saya menjadi membantu di perusahan Nunun Nurbaiti Daradjatoen, dimana saya sering dipanggil menjelaskan proyek-proyeknya oleh para Komisaris, yaitu Pak Himawan dan pak Awaludin. Konon pula ke tempat saya sering datang mas Heri Akhmadi, hanya saya sendiri belum pernah bertemu. Maklum sering wara-wiri di proyek mereka.


salam.....sd

The Bandung Old School: Institut Teknologi Bandung

t,

Keterangan Gambar :
Beberapa bangunan utama sudah di bangun, Aula Barat dan Aula Timur, juga diluar Kampus telah dibangun pula Villa Merah, bangunan serba merah. Ciri dari bangunan-bangunan tadi berarsitekturkan rumah adat Minangkabau dengan tanduk kerbau nya.


Pemilihan lokasi kampus ITB atau yang dahulu dikenal dengan nama Technische Hoogeschool (THS) di daerah utara kota Bandung merupakan keputusan yang tepat karena udaranya yang sejuk dan sepi. Sangat ideal untuk lingkungan tempat studi.

THS mulai dibangun secara bertahap pada tahun 1918-1935. Bangunan pertama yang dibangun adalah gedung Aula Barat (1920) karya arsitek Henri Maclaine Pont bergaya arsitektur Eropa yang mengacu kepada gaya arsitektur Vernakuler Jawa (perpaduan gaya antara arsitektur tradisional Nusantara dan keterampilan teknik konstruksi Barat) dengan gaya arsitektur atap rumah Batak dan sentuhan gaya arsitektur atap rumah Minangkabau. Berturut-turut kemudian dibangun antara lain : Departemen Teknik Sipil (1920), Gedung Fisika dan Teknik Fisika (1922), gedung Aula Timur (1924) gedung Teknik Lingkungan (1935) yang juga merupakan karya arsitek H.Maclaine Pont dengan gaya arsitektur yang sama.

Arsitektur bangunan ini merupakan contoh yang sangat baik dalam penerapan unsur lokal, baik gaya arsitektur maupun bahan material lokal yang dipadukan dengan gaya arsitektur dan konstruksi dari Barat (Eropa). Paduan ini menghasilkan satu bentuk gaya arsitektur vernakuler. H.P. Berlage (arsitek terkenal Belanda) memuji rancangan bangunan THS. Di tengah ragam bentuk bangunan dengan gaya arsitektur kolonial yang menjiplak bentuk arsitektur di Belanda yang sebenarnya kurang tepat jika diterapkan di alam tropis, kehadiran gedung THS diharapkan menjadi inspirasi bagi arsitek lain untuk lebih memperhatikan unsur lokal.

Gagasan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Teknik muncul pada awal tahun 1917 dari sebuah yayasan swasta yang bernama Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Onderwijs in Ned.Indie yang diketuai C.J.K van Aalst yang kemudian diganti oleh J.W.IJzerman, pegawai Staats Spoorwagen –SS (Jawatan Kereta Api). Pada tahun 1919 ditetapkan bahwa Perguruan Tinggi Teknik akan didirikan di Bandung dengan nama Technische Hoogeschool (THS). K.A.R.Bosscha sang Raja Teh Malabar adalah salah satu tokoh pendiri THS.

Pada tanggal 3 Juli 1920 Technische Hoogeschool (THS) yang merupakan perguruan tinggi teknik pertama tidak saja di Bandung tapi juga di Hindia Belanda, resmi dibuka. THS merupakan cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB) sekarang. Pada tanggal 18 Oktober 1924, Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Onderwijs in Ned.Indie menyerahkan THS kepada pemerintah Hindia Belanda. Pertengahan tahun 1942 sebagian fungsi akademik THS dibuka kembali setelah beberapa bulan ditutup oleh pemerintahan Jepang dengan nama Institute of Tropical Sciences, dan pada 1 April 1944 THS kembali dibuka seperti semula dengan nama Bandung Kogyo-Daigaku.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, THS dibuka kembali dan dipindahkan ke Yogyakarta dengan nama Sekolah Tinggi Teknik (STT), tetapi kemudian ditutup pada bulan Desember 1948 akibat Aksi Militer II Belanda. Pada tanggal 21 Januari 1946 perguruan tinggi teknik didirikan kembali di Bandung yang merupakan fakultas teknik dalam Nood Universiteit di Jakarta yang kemudian berganti nama menjadi Universiteit van Indonesie (Universitas Indonesia sekarang).

Pada tanggal 2 Maret 1959 secara resmi didirikan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merupakan penggabungan Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia dengan tempat di kompleks THS Bandung. Kebutuhan ruang yang luas tanpa terhalang tiang penyangga merupakan masalah ketika merancang konstruksi bangunan Aula Barat THS karena pada saat itu belum dikenal konstruksi beton bertulang. Jalan keluar yang ditempuh adalah dengan mengadopsi konstruksi karya Kolonel A. Emy anggota kesatuan Zeni tentara Perancis di Brogspanten (1830), yaitu konstruksi lapisan kayu yang dibuat melengkung dengan bantuan pembautan. Konstruksi ini dapat menghasilkan ruang yang luas tanpa terhalang oleh tiang-tiang penyangga.

Konstruksi susunan lapisan kayu dengan pembautan ini pernah dipasang di gudang pabrik gula Cilacap tetapi pada tahun 1930-an habis terbakar. Sekarang konstruksi macam ini mungkin hanya tinggal satu-satunya di Indonesia, yaitu di gedung Aula Barat dan Aula Timur ITB saja. Konstruksi bagian samping Gedung Aula Barat dan Aula Timur sempat digunakan di beberapa tempat di Bandung, antara lain pada koridor bangunan sekolah van der Capellen School yang terletak di Zeelandiastraat (Jl.Maulana Yusuf). Sayang gedung ini dirubuhkan tahun 1980-an untuk pembangunan rumah-rumah bertingkat.

Tanggal 2 Maret 1959 Institut Teknologi Bandung diresmikan oleh Presiden Soekarno yang merupakan alumnus Technische Hoogeschool (THS). Peresmian ditandai dengan sebuah tugu prasasti yang terletak di selatan lapangan sepak bola. Pada tugu prasasti terukir piagam peresmian dan dilengkapi dengan patung dada Ir.Soekarno di puncaknya. Sekarang patung dada Ir.Soekarno tersimpan di Gedung Rektorat ITB Jl.Sulanjana. Lapangan bola ITB sekarang ini telah menjadi bangunan perkuliahan, laboratorium dan perkantoran.

Mahasiswa ITB tanggal 16 Januari 1978 mengeluarkan pernyataan dahwa dinamika politik di Indinesia tidak dapat tumbuh bila jabatan Presiden diduduki dua kali berturut-turut oleh orang yang sama. Dewan Mahasiswa (DM) mengeluarkan Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 yang kemudian dilarang beredar oleh pemerintah. Tanggal 28 Januari 1978 mahasiswa ITB menyatakan mogok kuliah dan bertahan di dalam kampus walaupun kampus telah dikepung rapat oleh tentara.

Tanggal 21 Februari 1978 radio perjuangan mahasiswa (Radio ITB 8 EH) disegel dan pemerintah membubarkan seluruh DM dan SM (Senat Mahasiswa) di Indonesia. Tanggal 9 Februari 1978 kampus ITB diduduki tentara yang baru pulang dari medan perang Timor Timur yang masih beringas dan memperlakukan mahasiswa secara kasar ketika mengusir mereka ke luar kampus tercintanya. Pihak Laksusda Jabar baru menyerahkan kembali kampus ITB kepada Rektorium ITB tanggal 25 Maret 1978.

Dr.Ir.IJzerman berjasa besar dalam pendirian THS, sehingga sebuah taman artistik tertata rapih yang dibangun (1919) di depan komplek THS diberi nama IJzerman Park (sekarang Taman Ganesha). Di pintu masuk utara taman didirikan patung dada Dr.Ir.IJzerman di atas tiang beton. Tahun 1950-an patung dada Dr.Ir.IJzerman masih berdiri megah. Tahun 1960-an patung Dr.Ir.IJzerman sudah diganti oleh patung Ganesha, dan sekarang yang terletak di sana adalah sebuah patung kontemporer dari baja tahan karat berbentuk rangka kubus. Sekarang patung dada Dr.Ir.IJzerman disimpan di gedung Rektorat ITB yang lama di Jl.Sulanjana bersama patung dada Ir.Soekarno (presiden pertama Indonesia) yang dipindahkan dari tiang beton prasasti peresmian ITB.

Irzadi Mirwan (ITB-1973), temanku yang Meninggal Muda, semoga kusnul kotimah

Diposting oleh: M. Ridlo 'Eisy | 21 Apr 2011, 12:07

SEDIKIT orang yang tahu siapa Irzadi Mirwan. Ia yang meninggal tahun 1981 itu adalah penyair yang tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra ITB dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa ITB 1976-1977. Ia juga salah seorang penulis Buku Putih yang berisikan platform perjuangan mahasiswa yang menuntut agar Jenderal Soeharto tidak dipilih lagi sebagai Presiden RI lagi dalam SU MPR 1978. Gara-gara tulisan itu ia dipenjara oleh rezim Orde Baru. Sajak-sajak Irzadi Mirwan akan didiskusikan di Aula Barat ITB, Sabtu, 19 Januari 2008, dan Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2008, pukul 18.00 WIB-21.00 WIB.

Ketika mendengar kabar Irzadi Mirwan mengikuti kegiatan penerimaan anggota baru Wanadri tahun 1981, saya sedikit keheranan dengan berbagai pertanyaan yang tidak sempat saya sampaikan kepadanya. Dan ketika saya mendengar Irzadi Mirwan meninggal dalam acara itu, seluruh pertanyaan itu tidak pernah terjawab.

Irzadi Mirwan meninggal terlalu muda, saat ia berusia 26 tahun. Ia adalah seorang aktivis mahasiswa ITB pada masa yang paling bergolak antara tahun 1974 dan 1979. Ia menjabat Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa ITB 1976–1977, dan kemudian menulis Buku Putih yang menjadi platform perjuangan mahasiswa saat itu.

Buku Putih itu mengkritik arah pembangunan yang tidak memihak rakyat dan membahayakan (perekonomian) Indonesia. Untuk itu, pada awal 1978, mahasiswa meminta MPR agar tidak memilih lagi Jenderal (Purn.) Soeharto. Buku Putih itu pula yang membuat Irzadi Mirwan ditahan rezim Orde Baru lebih dari satu tahun.

Selain sebagai aktivis mahasiswa, saya tahu Irzadi senang menulis sajak, tetapi kami tidak pernah berdiskusi tentang masalah sastra. Setiap kali bertemu dengannya, yang kami bicarakan adalah kegiatan kemahasiswaan. Dia sebagai Sekretaris Umum DM dan saya sebagai Ketua Komisi Organisasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) ITB.

Saya juga jarang melihat Irzadi memublikasikan sajak-sajaknya dan ketika saya diminta untuk mengulas dan memberi pengantar terhadap kumpulan sajaknya, saya terkagum karena produktivitas karyanya, khususnya karya-karya Irzadi ketika dalam tahanan.

Membaca sajak-sajak Irzadi seakan mendengar suaranya yang sedang menuturkan impian-impiannya dan melihat lukisannya tentang keadaan masyarakat Indonesia. Dengan sajaknya, Irzadi melukis keadaan Jakarta, “jakarta yang asing dengan dunia sendiri/mengamuk dengan cepat/tak mengijinkan/getar-getar rasa manusia berkembang biak” (Jakarta, Juli 1979).

Sewaktu dia naik kereta api di Madiun tahun 1973, dia melihat anak kecil di stasiun kecil. Irzadi menulis:

aku mencoba menyapamu sia sia
kau melintas cepat
dan akupun beranjak pergi
walau bayangmu masih tertinggal
diantara tabir air mata
yang kuseka diam diam

Andaikata Irzadi masih hidup saat ini dan melihat begitu banyak anak jalanan, baik yang asli maupun yang dikoordinasi untuk menjadi pengemis, mungkin air matanya bercucuran tiada henti. Sebagaimana para aktivis mahasiswa yang lain, ia memberi kesaksian tentang ketidakadilan di Indonesia dalam sajaknya “kata berjawab”, ‘untuk kalian yang teraniaya/barangkali mereka cuma punya kata kata/dan tidak mampu berbuat apa apa (Bandung, 2 Desember 1975).

Melihat semua ketidakadilan di Indonesia itu, Irzadi menyatakan ikrarnya dalam sajak yang berjudul “Asmara Jalan Jawa”,
….
disini cita cita
mengkristal jadi keyakinan
tangan, kaki dan punggung kita
telah mengeras
untuk tak canggung lagi
dijalan panjang nanti

berhenti dititik ini
berarti dihancurkan
(Bandung, 21 April 1978)

Namun Irzadi merasa kecewa dengan jalan perjuangan yang sedang berlangsung karena kompromi sering dikedepankan walaupun terkadang menusuk hati nurani. Sajak “Pengkhianatan” yang ditujukan kepada Pak Doddy Tisnaamidjaja mengungkapkan hal itu.

Dengan pedih Irzadi menulis:

kita telah tak jujur lagi
untuk mengatakan “ya”
dan juga “tidak”,
semuanya tak berharga lagi

dalam hidup penuh kompromi
(yang telah kita pilih
entah kapan)

diam diam kita tikam
nurani masing masing,
untuk kehidupan hanya tersisa
(Bandung, 6 Juni 1978)

Walaupun Irzadi kecewa, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengotori perjuangannya dengan dendam. Melalui sajaknya Irzadi berdoa, ‘Tuhan maha pengasih/turunkanlah rahmatMu/pada kami dibalik pagar ini/agar tak tersisa dendam dan sakit hati,/dan karat karat benci… dari balik pagar/dengan kawat kawat tak ramah/kami meminta kepadaMu/karena kami tak dapat berhenti lagi/dalam jalan yang telah kami pilih’ (“Doa dari Balik Pagar”, Bandung, 22 April 1978)

Sajak-sajak dalam tahanan

Membaca sajak-sajak Irzadi, saya merasakan pengaruh WS Rendra dan Saini KM. Harus diakui banyak aktivis mahasiswa pada saat itu yang menyenangi sajak-sajak dan lakon-lakon teater WS Rendra karena mampu mengungkapkan aspirasi mahasiswa. Bahkan, Rendra pun ditahan rezim Orde Baru pada tahun 1978.

Sementara itu, Saini KM adalah penyair yang sabar dan caranya bersajak banyak memengaruhi penyair Bandung (Jawa Barat) karena kecermatannya dalam memilih kata-kata. Irzadi juga sangat cermat memilih kata-kata dalam bersajak. Selain banyak, sajak-sajak Irzadi yang ditulisnya dalam tahanan, menyentuh perasaan.

Pada subuh pertama saat Irzadi ditahan rezim Orde Baru, ia justru memperoleh ketenteraman hati. Ia menulis, “kemarin jadi bukan apa apa lagi/ketika tentram Mu menyapu tubuh/bersama air wudhu/mengalir diantara jemari…subuh ini yang pertama/dalam dunia tanpa kebebasan…” (“Disubuh, Kehadiran Mu”, Bandung, 3 April 1978).

Walaupun banyak nada getir yang mewarnai sajak-sajak yang ditulis dalam tahanan, akibat kebebasan yang dirampas rezim Orde Baru, Irzadi tetap memelihara kemerdekaannya yang tercermin dalam sajaknya yang berjudul “Masih Ada Tempat” (Bandung, 20 Mei 1978)

masih ada celah
diantara jendela kamar tahanan
untuk mengintipnya

masih ada tempat
untuk perasaan perasaan kita
yang sering tak sempat bicara
Maut dan cinta

Yang paling menarik dan mencekam adalah sajak-sajak kematian yang ditulis Irzadi, seakan-akan ia punya firasat bahwa maut akan menjemputnya tidak terlalu lama lagi. Pada tahun 1977 Irzadi menulis sajak “Penjemput”. Dalam sajak itu ia menggambarkan suasana yang sepi, dingin membeku, ia mendengar detak sepatu penjemput, di sisi rumah, yang akan mengantarkannya untuk menghadap Tuhan.

Banyak sekali sajak-sajak Irzadi yang mengungkapkan kedekatannya dengan maut antara lain “Jika Besok Aku Mati” dan “Surat Cinta dari Akhirat”. Yang menarik, pada saat Irzadi mengungkapkan masalah kematian, meluncur juga masalah cinta yang dihadapinya. Dalam sajak “Jika Besok Aku Mati”, Irzadi menyampaikan pesan kepada kekasihnya:

Kekasihku perempuan cantik dan muda
namun jika besok aku mati
kutinggalkan padanya sebuah kalimat tanya
sungguh benarkah kau cinta padaku
sungguh benarkah.

Irzadi tidak yakin, apakah perempuan cantik yang dikasihinya benar-benar cinta kepadanya. Mungkin keraguan inilah yang membuat Irzadi akan mengirimkan “Surat Cinta dari Akhirat”

Sesaat sebelum darah sekali lagi membeku
aku akan mengetuk kelopak matamu berkali kali
untuk secangkir kopi dan minta diri

Kekasihku, namun angin terasa lagi
mendorong lurus ke depan… kesisi Tuhan
maka kukirimkan saja surat ini
semoga sampai padamu

Semoga sampai padamu
surat cinta terakhir dari akhirat
dengan kata penutup… selamat tinggal
selamat tinggal, sejenak dan selamanya

Saya tidak kenal siapa kekasih Irzadi karena ia tidak pernah memperkenalkannya. Saya juga jarang melihat Irzadi berjalan berdua dengan mahasiswi (atau luput dari perhatian saya). Padahal, perasaan cintanya sudah ditulisnya sejak di Bogor pada tahun 1976.

Sajak Percintaan

hati hati kurangkai
butiran butiran
dalam rasa
dengan benang halus
kususupkan kedalamnya
satu
demi
satu

*) Wartawan “Pikiran Rakyat” dan “Galamedia”, nggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Sastrawan Asia Tenggara di Bali (1985) dan Singapura (1987).