Showing posts with label Gerakan Mahasiswa ITB 1978. Show all posts
Showing posts with label Gerakan Mahasiswa ITB 1978. Show all posts

Thursday, January 19, 2012

Seputar 1978, kisah kang Sonny

From: Sonny Djatnika SD
Sender: ITB74@yahoogroups.com
Date: Tue, 17 Jan 2012 16:41:35 +0800 (SGT)
To: ITB74@yahoogroups.com
ReplyTo: ITB74@yahoogroups.com
Subject: Re: Tragedi - Re: [ITB74] Saya, Agus Darmadi, diantara Sudomo dan Imaduddin JILID 2

Saya tidak banyak punya cerita.... Saya coba dengan keterpaksaan untuk bercerita (dari sisi saya)....

Saat temen-teman Mahawarman yang lain, Iwan DS SI74, Ocim MS74, Dadan TI74, Aussie GL74, Samudra GL74, Adam Pieter TP74(??), Al Johnet GL73, Basuki Rahardjo TA73, dll. masing-masing di Komando Brigade kuadran, posko Mahawarman menjadi kosong. Sebab yang lain juga ada di Staff Resimen Mahawarman (Jl. Surapati, kalau nggak salah ITB74 disana adalah Eddy Gaffar GL74, Bambang Suhardi MS74, Abadi TA73 dan Anna D Permana GD74). Hanya satu orang ITB'74 yang aktif di posko Mahawarman ITB, Joko Purwono MS'74.

Saya yang sudah tidak lagi banyak aktif di Mahawarman. Karena rencananya semester-7 itu adalah ingin menghabiskan sisa 22-SKS, di smstr 8 tinggal 1-SKS humaniora dan kredit kerja praktek dan tugas akhir. Rencananya mengemplang mematahkan mitos TA yang umumnya lulus di atas 7 tahun. Saat itu, saya mendapat keringan ITB untuk tidak lagi membayar uang smesteran dan bebas biaya SKS. Rencana tinggal rencana, dengan Setiawan S dan yang lainnya lebi betah duduk-duduk di lapangan basket mendengarkan Dadan dan Aussie teriak-teriak. Toh ruang kuliah juga sepi. Bersama Aden S Ottoloewa TA73 mulai membantu lagi di posko, jadi James Bond keliling luar kampus agar tidak ada orang luar masuk dan mengacau kampus. Bahkan pernah dengan Dadan ke SMA-SMA untuk melihat juga pergerakan disana. Mungkin karena saya sering memakai topi ala Baretta, Joko Purwono mengangkat saya menjadi Kasi Intelejen Mahawarman, padahal saya sama sekali belum pernah mengikuti pendidikan intelejen. Jadilah intel dadakan.

Saat RPKAD masuk pertama-kali, tidak banyak yang tahu kalau Aden SO lah yang sedang di lapang basket, sebagai mahasiswa pertama yang diambil CPM. Target mereka mengambil dahulu yang mungkin menjadi pagar. Malamnya kami jemput ke jalan Jawa, ternyata sudah tidak ada. Saya ke asramanya dan disana pun tidak ada. Aden saat itu tinggal di asrama Gorontalo bersama Harso PL74 (seingat saya dulu nama panggilannya bukan Harso, kalau nggak salah ingat Akiaw, atau apa ya?). Beberapa hari kemudian saya baru tahu, Aden "disimpan" di Homann. Saya lupa apa yang yang ditanyakan CPM rincinya, paling sekitar siapa orang luar yang berdiri di belakang buku putih. Tentu karena bukan aktifis, jawabnya tidak tahu.

Isu pada waktu itu adalah kalau Mahawarman adalah alat ABRI. Kecuali Mahawarman yang aktifis di DM, Mahawarman lain tidak diikutkan dalam pertemuan mahasiswa di kampus. Tetapi dari beberapa aktifis membuat pertemuan dengan anggota Mahawarman tertentu di rumah Heman Afif di sekitar Jl Dederuk. Bagaimana membuat skenario untuk mengalihkan dan mengacaukan perhatian para informan resmi. Fihak Mahawarman mengindikasikan, lebih dari 100 mahasiswa ITB yang menjadi informan. Beberapa di antaranya memang ada yang masuk juga di tubuh Mahawarman. Jadi kita harus hati-hati. Dari cara fihak ABRI mengambil Aden, mencari Iwan DS, Aussie BG dan lainnya lah kami berkesimpulan tentang nama-nama yang telah dibocorkan dan disampaikan oleh para informan. SAYA TIDAK TAHU SIAPA?

Beberapa kejadian seru di kampus tidak lagi saya ikuti, melainkan saya mengikuti gerak-gerik Komanda Jihad Imron, mulai dari mesjid Salman, Istiqomah sampai mesjid Baros Cimahi. Seru, karena saya bergerak sendiri tanpa punya kemampuan bela diri sedikit pun. Saat berada di kampus, saya sengaja ke halaman Salman, disana ada Sintong Panjaitan yang menjadi Komandan Pengepungan ITB dari Kodam Siliwangi saat itu. Kalau tidak salah lihat RPKAD juga dipimpin oleh Prabowo yang masih baret hijau (yang ini mohon koreksi karena saya tidak ingat wajah dan tokoh). Anehnya waalau sering keluar-masuk halaman Salman, tidak pernah ada yang bertanya dan memeriksa saya, walau harusnya saya gampang dilihat karena saat itu sudah sering memakai topi bulu Rusia.

Begitu pun di sore itu, saya harus mengamankan posko dengan menyembunyikan senjata, karena saat kami punya 7 garrand, 2 bren dan satu pelontar mortir. Informasi dari teman di posko membuat saya khawatir, karena laporan piket posko malam sebelumnya yang ditawari seseorang satu truk senjata dan pelurumnya, konon untuk mempertahankan kampus. Dalam hati, untung teman-teman akalnya sehat untuk menolak (Saat kejadian 1966, banyak kampus menerima kiriman senjata semacam itu). Sore itu adalah terakhir saya berdiri di dekat tiang di depan gerbang kampus, berusaha mencegah tentara masuk. Tentara yang mengepung saat itu adalah bukan lagi yang dipimpin LetKol Sintong, walau bajunya sama dari Kostrad. Logat bahasanya adalah logat Jawa Tengah. Setelah keadaan mereda, saya pulang menembus penjagaan bersama para wartawan dan penonoton yang saat itu berdatangan dan pulang.

Malamnya, saya kembali ke kampus. Tetapi ada penjagaan di Jl. Ganesha yang melarang masuk kendaraan. Kemudian saya ke Rektorat, karena biasanya, Ibu Wiranto mengirimkan nasi bungkus dari sana, rencana saya akan ikut rombongan pengirim nasi bungkus. Di sana saya baru tahu, kalau kampus sudah diduduki. Entah beberapa malam berkumpul di Rektorat, termasuk berita adanya kejadian penembakan rumah Pak Alisjahbana yang hanya berjarak 50 meter dari Rektorat. Sampai akhirnya kami diminta oleh Pak Wiranto untuk mewakili ITB menjaga kampus agar tidak lagi ada fitnah tentang penemuan-penemuan disana. Saya, Samudra GL74, Dani GL74, Sampurno GD74 adalah merupakan anggota dari 16 wakil ITB yang menginap di dalam kampus. Bahkan anggota Mahawarman ITB lainnya yang saat itu berkumpul di Rektorat tidak boleh masuk. Kami harus menjaga agar mahasiswa lain dan staff ITB juga tidak boleh ada masuk melewati batas jam di depan 8EH. Tujuannya adalah agar saat inventarisasi dan penyerahan kembali kampus dari ABRI ke ITB tidak ada yang dijadikan fitnah di kemudian hari.

Sering saya pergi membeli rokok (awal saya membeli sendiri) melewati asrama Ganesha, atau kadang saat sedang menjaga di gerbang, didatangi oleh penduduk asrama. Bukan saja mahasiswa biasa, ada juga yang Mahawarman. Saya kira mereka mau memberi sesuatu, tetapi kami sering diserang oleh mereka, dikatakan alat ABRI dan sebagainya. Bukan saja oleh teman seangkatan, bahkan oleh yang lebih muda dan paling keras oleh yang lebih tua, kami terima saja. Melawan saya kagak berani biar pun pakai seragam. Saya tidak pernah tahu kemana para mahasiswa lain yang dulu bergerombol di lapangan basket, tahu itu kemudian. Konon dari teman-teman banyak yang diinapkan di Jl. Jawa.

Kampus mulai dibuka hanya untuk mahasiswa baru angkatan 1978. Kami, 16 orang, ditugaskan untuk melatih mereka baris-berbaris untuk pembukaan upacara penerimaan mahasiswa baru. Bahkan saya tidak tahu, kapan mereka testing masuk ITB-nya. Sial-nya saya lah yang mengajari Ganeshi. Sampai akhirnya, kampus diserahkan dan dinormalkan oleh NKK. Saat teman-teman masih ada yang ikut ujian semester-7 dan melanjutkan semenester-8, saya masih tidak ikut ujian hampir 8-SKS semester 7 dan hanya 4-SKS di semester 8, yaitu Humaniora dan kerja praktek saja. Saat mengambil SKS yang belum ujian di smester-9 dan 10, saya harus mengambil hampir 14-SKS pelajaran baru. Total selama di ITB saya mengambil hampir 182-SKS, lebih banyak dari yang lainnya. Rencana mengemplang tidak berhasil, tetapi banyak belajar dari kejadian 1978 itu.... Tidak aneh saya baru sidang pada akhir 1981, selain karena tugas akhirnya hampir 1,5 tahun. Saya tidak ikut wisuda Okt 1981, malahan ijazahnya jadi yang pertama keluaran baru pada awal 1982 yang berbentuk lebih kecil.....

Banyak cerita kemudian setelah 1978, termasuk Mahawarman ITB yang dianggap kurang kerja-samanya oleh Hankam sehingga kemudian diambil alih dari sebelumnya di bawah Rektor menjadi di Bawah SKB 3-menteri. Baret dan badge diganti lebih nasionalis. Tetapi saya, Joko dan Aden adalah yang membuat poernyataan terlis dan menolak. Kono, pada waktu itu Pangdam Siliwangi, Mayjen Himawan Soetanto juga prihatin atas kejadian tersebut, terutama penembakan rumah Pak Alisjahbana. Pak Himawan dan Pak Jendral Awaliudin Jamin (Kapolri) adalah menantu Bapak Ir. Hadji Djuanda. 12 tahun setelah kejadian 1978, saya menjadi membantu di perusahan Nunun Nurbaiti Daradjatoen, dimana saya sering dipanggil menjelaskan proyek-proyeknya oleh para Komisaris, yaitu Pak Himawan dan pak Awaludin. Konon pula ke tempat saya sering datang mas Heri Akhmadi, hanya saya sendiri belum pernah bertemu. Maklum sering wara-wiri di proyek mereka.


salam.....sd

Irzadi Mirwan (ITB-1973), temanku yang Meninggal Muda, semoga kusnul kotimah

Diposting oleh: M. Ridlo 'Eisy | 21 Apr 2011, 12:07

SEDIKIT orang yang tahu siapa Irzadi Mirwan. Ia yang meninggal tahun 1981 itu adalah penyair yang tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra ITB dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa ITB 1976-1977. Ia juga salah seorang penulis Buku Putih yang berisikan platform perjuangan mahasiswa yang menuntut agar Jenderal Soeharto tidak dipilih lagi sebagai Presiden RI lagi dalam SU MPR 1978. Gara-gara tulisan itu ia dipenjara oleh rezim Orde Baru. Sajak-sajak Irzadi Mirwan akan didiskusikan di Aula Barat ITB, Sabtu, 19 Januari 2008, dan Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2008, pukul 18.00 WIB-21.00 WIB.

Ketika mendengar kabar Irzadi Mirwan mengikuti kegiatan penerimaan anggota baru Wanadri tahun 1981, saya sedikit keheranan dengan berbagai pertanyaan yang tidak sempat saya sampaikan kepadanya. Dan ketika saya mendengar Irzadi Mirwan meninggal dalam acara itu, seluruh pertanyaan itu tidak pernah terjawab.

Irzadi Mirwan meninggal terlalu muda, saat ia berusia 26 tahun. Ia adalah seorang aktivis mahasiswa ITB pada masa yang paling bergolak antara tahun 1974 dan 1979. Ia menjabat Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa ITB 1976–1977, dan kemudian menulis Buku Putih yang menjadi platform perjuangan mahasiswa saat itu.

Buku Putih itu mengkritik arah pembangunan yang tidak memihak rakyat dan membahayakan (perekonomian) Indonesia. Untuk itu, pada awal 1978, mahasiswa meminta MPR agar tidak memilih lagi Jenderal (Purn.) Soeharto. Buku Putih itu pula yang membuat Irzadi Mirwan ditahan rezim Orde Baru lebih dari satu tahun.

Selain sebagai aktivis mahasiswa, saya tahu Irzadi senang menulis sajak, tetapi kami tidak pernah berdiskusi tentang masalah sastra. Setiap kali bertemu dengannya, yang kami bicarakan adalah kegiatan kemahasiswaan. Dia sebagai Sekretaris Umum DM dan saya sebagai Ketua Komisi Organisasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) ITB.

Saya juga jarang melihat Irzadi memublikasikan sajak-sajaknya dan ketika saya diminta untuk mengulas dan memberi pengantar terhadap kumpulan sajaknya, saya terkagum karena produktivitas karyanya, khususnya karya-karya Irzadi ketika dalam tahanan.

Membaca sajak-sajak Irzadi seakan mendengar suaranya yang sedang menuturkan impian-impiannya dan melihat lukisannya tentang keadaan masyarakat Indonesia. Dengan sajaknya, Irzadi melukis keadaan Jakarta, “jakarta yang asing dengan dunia sendiri/mengamuk dengan cepat/tak mengijinkan/getar-getar rasa manusia berkembang biak” (Jakarta, Juli 1979).

Sewaktu dia naik kereta api di Madiun tahun 1973, dia melihat anak kecil di stasiun kecil. Irzadi menulis:

aku mencoba menyapamu sia sia
kau melintas cepat
dan akupun beranjak pergi
walau bayangmu masih tertinggal
diantara tabir air mata
yang kuseka diam diam

Andaikata Irzadi masih hidup saat ini dan melihat begitu banyak anak jalanan, baik yang asli maupun yang dikoordinasi untuk menjadi pengemis, mungkin air matanya bercucuran tiada henti. Sebagaimana para aktivis mahasiswa yang lain, ia memberi kesaksian tentang ketidakadilan di Indonesia dalam sajaknya “kata berjawab”, ‘untuk kalian yang teraniaya/barangkali mereka cuma punya kata kata/dan tidak mampu berbuat apa apa (Bandung, 2 Desember 1975).

Melihat semua ketidakadilan di Indonesia itu, Irzadi menyatakan ikrarnya dalam sajak yang berjudul “Asmara Jalan Jawa”,
….
disini cita cita
mengkristal jadi keyakinan
tangan, kaki dan punggung kita
telah mengeras
untuk tak canggung lagi
dijalan panjang nanti

berhenti dititik ini
berarti dihancurkan
(Bandung, 21 April 1978)

Namun Irzadi merasa kecewa dengan jalan perjuangan yang sedang berlangsung karena kompromi sering dikedepankan walaupun terkadang menusuk hati nurani. Sajak “Pengkhianatan” yang ditujukan kepada Pak Doddy Tisnaamidjaja mengungkapkan hal itu.

Dengan pedih Irzadi menulis:

kita telah tak jujur lagi
untuk mengatakan “ya”
dan juga “tidak”,
semuanya tak berharga lagi

dalam hidup penuh kompromi
(yang telah kita pilih
entah kapan)

diam diam kita tikam
nurani masing masing,
untuk kehidupan hanya tersisa
(Bandung, 6 Juni 1978)

Walaupun Irzadi kecewa, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengotori perjuangannya dengan dendam. Melalui sajaknya Irzadi berdoa, ‘Tuhan maha pengasih/turunkanlah rahmatMu/pada kami dibalik pagar ini/agar tak tersisa dendam dan sakit hati,/dan karat karat benci… dari balik pagar/dengan kawat kawat tak ramah/kami meminta kepadaMu/karena kami tak dapat berhenti lagi/dalam jalan yang telah kami pilih’ (“Doa dari Balik Pagar”, Bandung, 22 April 1978)

Sajak-sajak dalam tahanan

Membaca sajak-sajak Irzadi, saya merasakan pengaruh WS Rendra dan Saini KM. Harus diakui banyak aktivis mahasiswa pada saat itu yang menyenangi sajak-sajak dan lakon-lakon teater WS Rendra karena mampu mengungkapkan aspirasi mahasiswa. Bahkan, Rendra pun ditahan rezim Orde Baru pada tahun 1978.

Sementara itu, Saini KM adalah penyair yang sabar dan caranya bersajak banyak memengaruhi penyair Bandung (Jawa Barat) karena kecermatannya dalam memilih kata-kata. Irzadi juga sangat cermat memilih kata-kata dalam bersajak. Selain banyak, sajak-sajak Irzadi yang ditulisnya dalam tahanan, menyentuh perasaan.

Pada subuh pertama saat Irzadi ditahan rezim Orde Baru, ia justru memperoleh ketenteraman hati. Ia menulis, “kemarin jadi bukan apa apa lagi/ketika tentram Mu menyapu tubuh/bersama air wudhu/mengalir diantara jemari…subuh ini yang pertama/dalam dunia tanpa kebebasan…” (“Disubuh, Kehadiran Mu”, Bandung, 3 April 1978).

Walaupun banyak nada getir yang mewarnai sajak-sajak yang ditulis dalam tahanan, akibat kebebasan yang dirampas rezim Orde Baru, Irzadi tetap memelihara kemerdekaannya yang tercermin dalam sajaknya yang berjudul “Masih Ada Tempat” (Bandung, 20 Mei 1978)

masih ada celah
diantara jendela kamar tahanan
untuk mengintipnya

masih ada tempat
untuk perasaan perasaan kita
yang sering tak sempat bicara
Maut dan cinta

Yang paling menarik dan mencekam adalah sajak-sajak kematian yang ditulis Irzadi, seakan-akan ia punya firasat bahwa maut akan menjemputnya tidak terlalu lama lagi. Pada tahun 1977 Irzadi menulis sajak “Penjemput”. Dalam sajak itu ia menggambarkan suasana yang sepi, dingin membeku, ia mendengar detak sepatu penjemput, di sisi rumah, yang akan mengantarkannya untuk menghadap Tuhan.

Banyak sekali sajak-sajak Irzadi yang mengungkapkan kedekatannya dengan maut antara lain “Jika Besok Aku Mati” dan “Surat Cinta dari Akhirat”. Yang menarik, pada saat Irzadi mengungkapkan masalah kematian, meluncur juga masalah cinta yang dihadapinya. Dalam sajak “Jika Besok Aku Mati”, Irzadi menyampaikan pesan kepada kekasihnya:

Kekasihku perempuan cantik dan muda
namun jika besok aku mati
kutinggalkan padanya sebuah kalimat tanya
sungguh benarkah kau cinta padaku
sungguh benarkah.

Irzadi tidak yakin, apakah perempuan cantik yang dikasihinya benar-benar cinta kepadanya. Mungkin keraguan inilah yang membuat Irzadi akan mengirimkan “Surat Cinta dari Akhirat”

Sesaat sebelum darah sekali lagi membeku
aku akan mengetuk kelopak matamu berkali kali
untuk secangkir kopi dan minta diri

Kekasihku, namun angin terasa lagi
mendorong lurus ke depan… kesisi Tuhan
maka kukirimkan saja surat ini
semoga sampai padamu

Semoga sampai padamu
surat cinta terakhir dari akhirat
dengan kata penutup… selamat tinggal
selamat tinggal, sejenak dan selamanya

Saya tidak kenal siapa kekasih Irzadi karena ia tidak pernah memperkenalkannya. Saya juga jarang melihat Irzadi berjalan berdua dengan mahasiswi (atau luput dari perhatian saya). Padahal, perasaan cintanya sudah ditulisnya sejak di Bogor pada tahun 1976.

Sajak Percintaan

hati hati kurangkai
butiran butiran
dalam rasa
dengan benang halus
kususupkan kedalamnya
satu
demi
satu

*) Wartawan “Pikiran Rakyat” dan “Galamedia”, nggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Sastrawan Asia Tenggara di Bali (1985) dan Singapura (1987).

Monday, January 16, 2012

Lanjutan kisah pembebasan bang Imad (Imaduddin Abdulrohim) bagian ke 3

agungeka@yahoo.com

To: ITB74@yahoogroups.com

Teman teman,

Ingin menambahkan; peristiwa 1978 dan Buku Putih pernah kita tayangkan
di milis ITB74 pada bulan February 2009 mulai thread 24525. Semoga informasi
disana bisa digabungkan dengan informasi baru yang kita tulis thn 2012 ini.
Diakhir tulisan ini, saya kopas kesan saya yang saya tulis waktu itu akan peristiwa
1978 itu.

Entah kebetulan entah ada yang mengatur, hari Sabtu tgl 14 Januari kemarin
saya bertandang ke sesepuh ex alumni ITB untuk bernostalgia. Beliau lulusan
jurusan arsitektur ITB - mungkin angkatan 50-an karena usia beliau sudah 82 tahun.
Lulusan Harvard awal thn 60-an sebelum G30S PKI meletus dan pernah menjadi
dosen ITB, yang kemudian menduduki posisi sangat tinggi dibidang perencanaan
di Citicorp Headquarter di NYC.

Kita berbincang bab peranan ITB, Soekarno s/d kondisi ITB sekarang ini dari kaca
mata beliau yang baru saja menengok kampus thn 2010 kemarin. Ternyata bukan
hanya Malari (1974) dan Buku Putih (1978) saja ITB di"permak" oleh Suharto.
Beliau menyebutkan beberapa orang nama dosen ... apakah saya pernah mendengar
nya?. Dia menguraikan cerita ... apakah saya pernah mendengarnya? Saya jawab
belum. Dari beliau saya terhenyak karena banyak sekali kekejaman yang dilakukan
rezim Suharto yang dikubur dan kita tidak tahu. Ternyata banyak sekali dosen
ITB yang brillian yang "lenyap" jaman pergoalakan G30S PKI. Dia bilang, ITB
sebetulnya kehilangan asset luar biasa, karena mereka yang hilang itu cream
of the cream nya ITB waktu itu. Seperti yang saya maklumi setelah sekian lama
hidup merantau di Amrik, biasanya orang orang top-markotop seperti ini (baik
di Amrik, Eropa, dan Asia) alirannya adalah humanist-sosialist dan sering dicap
kiri (sosialisme di Amrik kan nyaris disamakan dengan komunis - paling tidak
dianggap ekstrim kiri dan NO-NO-NO di kacamata masyarakat kapitalis Amrik).
Mereka yang lenyap bahkan banyak yang lulus dari Amrik sendiri.

Dengan mata berkaca-kaca ... saya tergagap .... menceritakan pengalaman
dari mata kepala sendiri ... bagaimana manusia berdiri berjejer disumur tua
rumahku membasuh darah dan mencuci luka korban penyiksaan RPKAD.
Hari demi hari, minggu demi minggu , bulan berganti bulan ... wajah wajah
baru berdatangan, pria dan wanita yang bersimbah darah, kepala yang tanpa
bentuk ... masih terbayang baju dan celana yang lusuh wajah yang pucat
ketakutan seperti mayat ... mereka berjajar bagaikan jeruji jeruji besi ... diam
dan kelu. Seorang anak umur 11 tahun, adik-adiknya serta teman temannya
... mereka mengenal kebiadaban anak negeri ini.

Semoga tidak terulang lagi.

salam

*******************************************************************
Re: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.


Teman teman,

Mata saya masih berkaca kaca kalau mengingat peristiwa itu. Saya waktu itu
masih dosen muda dan masih jabrig sepanjang bahu. Pada waktu tentara
masuk kampus saya bersama teman-teman di Jalan Ganesa, dimuka Salman
menghadang tentara. Dan kita kemudian buyar, maklum mereka memakai
mobil dengan kawat berduri dimukanya.

Sewaktu kampus diduduki selama enam bulan, hanya dosen yang boleh
masuk. Saya waktu itu masuk kampus dengan kartu dosen (KTP ku sudah
diganti pula sebagai dosen tahun 1977 - jadi konsisten). Saya lupa persisnya
kapan saya masuk kampus setelah pendudukan. Tetapi semua teringat
jelas sekali.

Saya melihat kampus sepi sekali - lengang. Daun daun kering dimana-mana,
sampah dan kertas berserakan, beberapa kaca terutama di student center
pecah. Lengang amat lengang. Di tengah kampus rasanya seperti ditengah
kuburan (kuburan masih lebih ramai) ... teman teman mudah-mudahan bisa
membayangkan yang saya saksikan dan rasakan waktu itu.

Kemudian saya masuk keruang kerjaku di departemen ... debu dimana-mana.
Meja, kursi, kertas riset dan persiapan kuliah tertutup debu. Saya
sempatkan duduk dikursi rotan ... tidak ada siapa-siapa ... saya tatap
tembok tembok. Saya berdiri dan menuju jendela kaca yang kusam ...
lengang teramat lengang ... kepalaku kusandarkan dikaca jendela,
tanganku berpegangan pada bingkai jendela dan aku menangis disitu.

Sangat pedih ... saya sampai sekarang masih bertanya "mengapa
kita semua harus melewati saat saat gelap seperti itu dalam hidup
kita yang singkat ini".

Salam




From: Robert delinom
Subject: Re: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.
To: ITB74@yahoogroups.com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 1:15 AM

Agung,

Terimakasih untuk mengingatkan kembali peristiwa 31 tahun yang lalu. Saya juga jadi ingat betapa dulu ikut merasakan dinginnya Jalan Jawa 13. Saya, Damai, Dede Tresnahadi, Harry Rahaedjo (GL 74), Denny dan Suriadarma (GL 75)m serta Widiatma (GL 76) ikut terjaring ketika sedang rapat di Sekeloa dan waktu itu kampus kita sudah dipenuhi tentara. Teman2 kita di GL menyebut kita, 7 Pendekar Bloon karena tidak lari ketika markas diserang. Waktu itu takut juga kalau ketembak, euy. Damai sebenarnya lebih bloon lagi. Saat ditangkap sebenarnya cuma berlima, tidak termasuk Damai dan Widiatma. Mereka ikut ditangkap ketika mereka datang kemudian dan ditanya, apakah anda teman mereka ini? Salah satu intel yang galak pasang aksi. Saya, Harry, Dede, Surya dan Deni sudah diam saja, dengan harapan mereka segera pergi dan pura2 tidak kenal. Eh, malah Damai menjawan, iya. Ayo, kamu ikut bergabung. Akhirnya, jadi deh 7 Pendekar Bloon. rasanya lebih sebulan kita disana. Ada Ramles Manampang (MS 75?) dan Komaruddin (Biologi 68?) dan yang lainnya. Ada juga beberapa tahanan G 30 S. Lumayan juga pengalaman disana.

RD

--- On Tue, 2/17/09, agung hertanto wrote:
From: agung hertanto
Subject: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.
To: "ITB74"
Date: Tuesday, February 17, 2009, 10:57 AM

Teman Teman,

Mari kita tundukkan kepala sebentar. Semoga kita tidak lupa sejarah.

salam
************ ********* *******
Penyerbuan Militer ke Kampus ITB 1978
Mengapa Kalian Begitu Pengecut?


Oleh
Daud Sinjal

JAKARTA – PAGI hari 13 Februari 1978, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Iskandar Alisyahbana mendatangi rumah Panglima Kodam Siliwangi di Jl. Wastukencana, Bandung. Ia ingin menuntut penjelasan sekaligus tanggung jawab atas perbuatan pengecut yang diyakininya dilakukan tentara.
Rumahnya, semalam, diberondong tembakan senapan mesin membabi buta. Sejumlah peluru menerabas sampai ke kamar tidur anaknya. ”Hoe kunnen jullie zo laf zijn (mengapa kalian bisa begitu pengecut?)”, katanya begitu bertemu Panglima, Mayjen TNI Himawan Soetanto.
Panglima Siliwangi menyatakan sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti motif penembakan tersebut. Kepada Alisyahbana, ia menegaskan, ”Keuntungan apa yang saya dapat? Sebaliknya perbuatan itu malah merugikan dan mencoreng kehormatan saya dan Siliwangi”.
Peristiwa penembakan rumah Rektor ITB di Jl. Sulanjana, Bandung adalah bagian dari tindakan kalap penguasa yang sudah tidak bisa lagi mentolerir gerakan ”inkonstitusional yang merongrong kewibawaan kepemimpinan nasional, yang menjurus penggagalan SU MPR 1978, mengancam kelangsungan pembangunan nasional, kestabilan dan keutuhan bangsa”.
Gerakan mahasiswa sudah bersemi sejak pertengahan 1977, yang diwujudkan dalam demonstrasi, arak-arakan, diskusi, DPR Jalanan, penyebaran pamflet, serta pemasangan poster dan spanduk. Hampir seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta bangkit bersuara. Tapi pusat kegiatannya adalah di Bandung, tepatnya di ITB.
Di kampus ITB, 24–27 Oktober 1977, diselenggarakan pertemuan 68 senat dan dewan mahasiswa se-Indonesia. Mereka mencetuskan Ikrar Mahasiswa Indonesia yang isinya mendesak MPR menggelar sidang istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden RI tentang penyelewengan- penyelewengan dalam pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila.

Operasi Kilat
Memasuki Januari 1978, gerakan mahasiswa makin bergelora. Pada 14 Januari, ITB menerbitkan Buku Putih, dan 16 Januari menggelar apel kesiapsiagaan yang diikuti sekitar 3.000 mahasiswa dan dihadiri oleh rektor.

Di sini dibacakan sikap mahasiswa ITB yang ”tidak mempercayai dan tidak menginginkan Soeharto kembali sebagai Presiden RI”.
Sehari setelah apel ITB, Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) bertekad menghentikan gerakan mahasiswa dan merancang operasi gerak cepat dan bersifat ”shock treatment”. Pernyataan mahasiswa ITB juga dianggap menantang pernyataan ABRI (ditandatangani Menhankam/Pangab, Wapangab, para kepala staf angkatan dan Kapolri) tepat sebulan sebelumnya yang ”akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang akan merongrong kewibawaan kepemimpinan nasional”.
Operasi gerak cepat ini dilancarkan 18 Januari dan dinamai ”Operasi Kilat”. Pokok-pokoknya adalah: menangkap semua pimpinan dewan dan senat mahasiswa yang menandatangani ”Ikrar Mahasiswa 28 Oktober 1977”, ”black out” kampus dari media massa dan memberangus untuk sementara koran-koran yang ”mengipasi” (antara lain Sinar Harapan, Kompas, Merdeka).
Kemudian, masuk ke kampus-kampus untuk menindak rapat-rapat dan poster-poster. Menindak tegas Pati ABRI yang memberi angin. Membantu rektor untuk berani menjatuhkan sanksi akademis terhadap mereka yang terlibat gerakan.
Fokus operasi adalah Bandung, khususnya ITB. Ke sana dikerahkan pasukan berkekuatan 2.000 personel, terbagi dalam 12 satuan setingkat kompi. Pada 20 Januari mulai dilakukan penangkapan- penangkapan dan dini hari 1 Februari, tentara masuk menertibkan kampus-kampus.
Operasi Kilat di Jawa Barat menangkap 98 aktivis mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpar, IPB, Unisba, IKIP Bandung, dll. Namun kendati pimpinan mahasiswa sudah ditangkap atau buronan (Rizal Ramli dan Al Hilal Hamdi baru ketangkap tiga bulan kemudian), kegiatan perlawanan di Kampus ITB (aksi mogok kuliah dan agitasi radio) terus berlangsung.
Kampus itu malah dijadikan tempat konsentrasi, bukan saja oleh mahasiswa ITB, tapi juga mahasiswa perguruan tinggi lain. Maka pada Kamis, 9 Februari, khusus pada ITB dilancarkan penyerbuan, kali ini dengan cara bengis yang menyebabkan delapan mahasiswa dan pelajar luka-luka. Kampus ITB diduduki tentara.
Setelah pendudukan militer itu, Rektor ITB Iskandar Alisyahbana masih membentuk Dewan Pemulihan yang diketuainya sendiri, padahal Jakarta menghendaki dia diganti, serta Menteri P dan K telah mengirim Dirjen Perguruan Tinggi Prof. Dody Tisnaamijaya, untuk menormalkan ITB.
Lagipula, Alisyahbana harus dicegah kehadirannya pada rapat kerja rektor se-Indonesia yang akan dibuka presiden 14 Februari.
Pak Harto jangan sampai bertatap muka dengan sang rektor yang telah membiarkan mahasiswa dan kampusnya menyinggung kehormatannya sebagai kepala negara. Rumah sang rektor diberondong tembakan, itulah salah satu isyarat keras dia harus mundur. Tanggal 16 Februari, Alisyahbana menyerahkan jabatannya kepada rektorium ITB yang diketuai Prof. Soedjana Sapi’ie.

”Strategy of Indirect Approach”
Panglima Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto mengatakan bahwa pasukan yang menyerbu ITB 9 Februari itu bukanlah kesatuan organik Kodam Siliwangi. Dan ketika penyerbuan brutal itu terjadi, ia sedang berada di Cirebon. Penembakan rumah rektor—berdasarkan pengakuan—juga oleh oknum dari luar Siliwangi.
Sejak semula Himawan merasa tidak perlu melakukan tindakan militer terhadap gerakan mahasiswa. Dalam pengarahannya kepada jajaran Kodam Siliwangi dan ABRI se-Garnisun Bandung-Cimahi dan juga di depan rapat pimpinan Golkar Jawa Barat serta Angkatan Muda Siliwangi, Panglima menggariskan strategi pendekatan tidak langsung.
Ia adalah penganut ajaran Liddle Hart, strategy of indirect approach. Dalam briefing semenjak Oktober 1977 sampai Januari 1978, berulangkali ia menguraikan siasat tersebut, yakni ”pengikatan” gerakan mahasiswa dalam lingkungannya sendiri agar tidak link-up dengan masyarakat luas.
Pendekatan ke tokoh masyarakat, partai politik, alim-ulama untuk membentuk basis massa yang kebal dari pengaruh agitasi mahasiswa (dan kelompok pressure group lainnya). Terhadap mahasiswa sendiri diadakan pendekatan dan dicegah turun ke jalan.
Kekerasan militer haruslah benar-benar sebagai last resort, karena dikhawatirkan akan merusak kepercayaan pada Siliwangi sebagai tentara rakyatnya Jawa Barat. Dan memulihkannya tidak cukup satu-dua generasi. Tapi sikap Himawan Soetanto itu oleh Jakarta dianggap sebagai keraguan, bahkan insubordinasi.
Maka bertepatan dengan pelaksanaan Operasi Kilat, Kopkamtib menurunkan Panglima Kowilhan II Jawa Letjen Wijoyo Suyono ke Bandung. Namun, Laksus Kopkamtib Wilayah Jawa-Nusa Tenggara itu memilih bermarkas di Batujajar. Belakangan, ia mengatakan menjalankan perintah atasan, tapi percaya Himawan Soetanto tahu apa yang sebaiknya ia perbuat.
Rabu pagi, 20 Februari 2008, para eksponen gerakan mahasiswa ITB 1977-1978 akan memperingati peristiwa 30 tahun lalu itu dengan diskusi dan pameran foto di Gedung Usmar Ismail, Jl. Rasuna Said. Para eks tawanan Operasi Kilat tersebut antara lain Rizal Ramli, Al Hilal Hamdi, Heri Akhmadi, Moh. Iqbal, Indro Tjahyono. n







Copyright © Sinar Harapan 2003

ITB DAN PERUBAHAN MASYARAKAT DI INDONESIA

KILAS BALIK DAN PERSPEKTIF
1
Oleh: Gede Raka
PENDAHULUAN
‘KOK ITB DIAM SAJA?’
1. ‘ Mengapa ITB diam saja?’. Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering diajukan
oleh banyak orang dari luar ITB kepada orang-orang ITB, khususnya kepada
civitas akademika ITB. Pertanyaan ini dilontarkan khususnya pada saat
masyarakat Indonesia mengalami masalah sosial, ekonomi dan politik yang
meresahkan masyarakat luas.
2. Pertanyaan ini menyiratkan bahwa masyarakat mengharapkan ITB menjalankan
peran besar dalam mengahadapi masalah sosial, ekonomi dan politik di Indonesia.
Apabila ITB dirasakan tidak melakukan apa-apa dalam menanggapi masalah
tersebut, orang-orang-orang akan bertanya dan berkomentar , ‘ Kok ITB diam
saja?’
3. Hal yang sangat menarik adalah reaksi orang-orang ITB menghadapai pertanyaan
seperti itu. Pada umumnya atau majoritas orang-orang ITB tidak siap menjawab
apabila pertanyaan seperti itu diajukan secara langsung dan tiba-tiba . Reaksinya,
bisa hanya tersenyum saja karena tidak tahu apa yang harus dikatakan, atau
mencoba mencari-cari jawab, sekedar menjawab, supaya tidak kelihatan ‘tidak
tahu’. Sudah barang tentu ada orang-orang ITB yang bisa memberi jawaban yang
masuk akal, namun menurut pendapat saya, mereka itu sangat sedikit jumlahnya.
4. Keadaan seperti di atas memberi indikasi adanya ketidak-selarasan atau
kesenjangan antara harapan yang sangat besar pada masyarakat tentang
kontribusi yang dapat diberikan oleh ITB dalam perubahan masyarakat di
Indonesia dengan kesadaran, pemahaman, persepsi atau sikap majoritas
masyarakat ITB tentang peran ITB di tengah-tengah masyarakat. Risalah ini akan
menengok kembali beberapa hal yang secara langsung atau tidak langsung
nampaknya menjadi penyebab dari tumbuh dan berkembangnya harapan
masyarakat terhadap ITB agar mengambil peran besar dalam perubahan
masyarakat. Di samping itu akan ditunjukkan juga beberapa keterlibatan dan
upaya unsur-unsur Kampus Ganesa 10 dalam perubahan masyarakat yang tidak
banyak dibicarakan. Dari sini kemudian ditarik beberapa pelajaran dan dijajagi d
1
Risalah disampaikan pada Lokakarya Majelis Guru Besar ITB, ‘Dari TH hingga ITB 2003’, di Gedung
BPI ITB, tanggal 26-27 Januari 2004.
1lingkup upaya yang dapat dilakukan ITB dalam menyikapi harapan masyarakat
yang sangat besar itu.
BAGIAN I. PEMICU BESARNYA HARAPAN MASYARAKAT
TERHADAP ITB
EFEK HALO SOEKARNO.
1. Dalam psikologi dikenal adanya fenomena efek Halo. Sifat atau karakter yang
menonjol pada seseorang dipakai sebagai dasar untuk menilai keseluruhan sifatsifat seseorang. Walaupun kemampuan mengajarnya sama, seorang guru yang
rupawan kemungkinan besar mendapat penilaian lebih baik dari murid-muridnya
dalam kualitas pengajaran dari seorang guru yang tidak rupawan. Dalam
kaitannya dengan kontribusi ITB dalam perubahan masyarakat di Indonesia,
fenomena efek halo terjadi terhadap ITB. Perjuangan Soekarno, sebagai salah
seorang alumni TH, sebagai pemimpin yang sangat menonjol dalam pergerakan
kemerdekaan, menyebabkan masyarakat mengasosiasikan ITB sebagai sebuah
lembaga yang menjadi sumber dari pikiran-pikiran baru dan sumber dari
pemimpin-pemimpin berkarakter yang mampu membawa perubahan besar pada
masyarakat, khususnya perubahan sosial dan politik. ITB diasosiasikan dengan
Soekarno
2. Soekarno, masuk TH pada tahun 1922. Dalam angkatan 1922 ini ada empat
orang mahasiswa ‘Indonesia’. Soekarno menyelesaikan studinya pada tahun 1926.
[1]. Apabila dicermati, dalam gerakan politiknya, Bung Karno tidak membawa
atribut ITB, apakah itu atribut mahasiswa atau alumni ITB. Untuk mewadahi
kegiatan politiknya Soekarno mendirikan Partai Politik. Bahkan kegiatan
politiknya meningkat sesudah Soekarno menyelesaikan kuliahnya di TH. Enam
puluh dua Soekarno yang dikumpulkan dalam Buku Di Bawah Bendera
Revolusi , tulisan petamanya dimuat dalam ‘Suluh Indonesia Muda’ pada tahun
1926 [ 2 ]. Pengadilan terhadap Soekarno di Bandung terjadi pada tahun bulan
Agustus 1930 [3].
3. Suka atau tidak suka, sebagai imbas dari peran Soekarno yang sangat menonjol
sebagai salah satu pemimpin dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, ITB
telah diasosiasikan oleh masyarakat sebagai pengambil inisiatif gerakan
pembaharuan, sebagai tempat digemblengnya pemuda-pemuda dengan potensi
kepemimpinan yang tinggi. Oleh sekelompok orang,hal ini dilihat sebagai beban
sejarah, sebab ada yang berpendapat bahwa sebagaian terbesar masyarakat ITB
tidak sehebat yang dibayangkan orang lain. Di pihak lain bagi sebagaian civitas
akademika ITB, terutama para mahasiswa, hal ini menjadi sumber inpirasi,
menjadi pendorong untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang dianggap
dapat membawa dampak luas dan besar di masyarakat.
24. Dari sudut pandang perubahan sosial, berikut ini adalah beberapa upaya
Soekarno untuk membangkitkan kekuatan rakyat Indonesia untuk mencapai dan
mempertahahankan kemerdekaan: .
 Menumbuh-kembangkan rasa kebangsaan yang kuat.
Memang banyak tokoh pergerakan yang beraliran kebangsaan. Namun
Soekarnolah tokoh yang paling depan dalam menanamkan rasa
kebangsaan dalam hati sanubari setiap warga Indonesia (dulu Hindia
Belanda) dan tanpa kenal lelah terus memupuk dan menguatkannya.
Sebelum kehadiran Soekarno dalam kancah perjuangan kemerdekaan,
warna kedaerahan dalam pergerakan melawan Belanda sangat kuat.
Soekarno tidak pernah hentinya-hentinya mengingatkan masyarakat
Indonesia bahwa di balik perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas
sebuah kelompok masyarakat ada sebuah ideologi dan perasaan yang
menyatukan masyarakat yang berbeda-beda ini, yaitu ikatan batin sebagai
sebuah bangsa.
 Menumbuhkan aspirasi tentang masa depan bersama.
Di tengah aspirasi kelompok yang berbeda-beda, Soekarno dapat
merumuskan aspirasi yang dapat diterima oleh semua pihak yaitu aspirasi
mencapai kemerdekaan segera. Soekarno menggambarkan kemerdekaan
sebagai ‘jembatan emas’ yang diperlukan agar bisa menyebarang untuk
membangun Indonesia yang dicita-citakan di seberang jembatan emas itu.
Sebagai komunikator ulung, sebelum kemerdekaan, Soekarno dengan
sangat cerdas merumuskan, mengkomunikasikan, dan memfokuskan
pandangan bangsa ini tentang masa depan yaitu persatuan dan
kemerdekaan.
 Menumbuhkan kepercayaan diri dan harga diri bangsa.
Soekarno mengembalikan kepercayaan diri rakyat Indonesia dengan terus
menerus menyatakan dan memberikan argumentasi bahwa bangsa
Indonesia sudah siap merdeka ‘sekarang’. Harga diri masyarakat
ditegakkan dengan menunjukkan kebesaran yang dicapai bangsa Indonesia
di masa lalu dan betapa kayanya bumi Indonesia.
 Membangun jati diri bangsa.
Pancasila, yang kemudian menjadi bagian dari Mukadimah UUD 45,
adalah pandangan Soekarno mengenai jati-diri bangsa Indonesia yang
merdeka. Ini adalah sebuah usaha untuk menunjukkkan ciri khas bangsa
Indonesia di tengah-tengah bangsa lian di dunia.
KETERLIBATAN MAHASISWA ITB DALAM GERAKAN 1966.
1. Peristiwa kedua yang menyebabkan tingginya harapan masyarakat dalam
memelopori perubahan sosial adalah keterlibatan mahasiswa ITB dalam gerakan
3tahun 1966 sebagai reaksi terhadap Peristiwa 30 September 1965. Peristiwa 30
September 1965 telah menempatkan Partai Komunis Indonesia ( PKI) sebagai
tertuduh, sebagai penggerak utama dari peristiwa tersebut. Muncullah gerakan
mahasiswa yang bergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)
yang salah satu tuntutannya adalah membubarkan PKI.
2. Banyak tokoh-tokoh mahasiswa ITB yang menjadi pimpinan KAMI. Dalam
gerakan ini mahasiswa bergandengan tangan dengan tokoh-tokoh militer dari
unsur-unsur Angkatan Bersenjata Indonesia. Aksi-aksi mahasiwa ini menjadi
salah satu penyebab utama dari ‘pengalihan kekuasaan’ atas dasar Surat Perintah
Sebelas Maret ( yang sampai saat ini masih kontroversial keberadaannya), dari
President Soekarno kepada Jenderal Suharto dan naiknya Jenderal Suharto
sebagai President Republik Indonesia yang mengawali lahirnya Orde Baru di
Indonesia.
3. Sebuah era baru mulai di Indonesia. Tokoh-tokoh mahaiswa ITB ikut aktif
melahirkannya. Perubahan-perubahan mulai dirasakan. Beberapa diantaranya
adalah:
 Indonesia dibuka lebar-lebar untuk modal asing. Doktrin ekonomi
Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri ) yang dicanangkan pada masa
pemerinatahan Presiden Soekarno ditinggalkan. Pasar Indonesia dibuka
lebar untuk barang-barang impor.
 Apabila pada era sebelumnya politik menjadi ‘panglima’, pada era baru
ini, pembangunan ekonomi menjadi issue utama dan peran IMF serta
Bank Dunia makin besar dalam menentukan arah pembangunan ekonomi
Indonesia.
 Ekonomi mengalami pertumbuhan sangat pesat. Demikian juga
pendapatan per-kapita rakyat Inonesia. Pertumbuhan ekonomi ini dibiayai
dengan pinjaman luar negeri dan eksploitasi secara intensif sumberdaya
alam Indonesia.
 Kekuasaan militer dalam dunia politik, dan dalam birokrasi, bahkan dalam
ekonomi makin besar. Kaum teknokrat bermitra dengan militer
menjalankan roda pemerintahan.
5. Pemerintahan Presiden Suharto berlangsung selama 30 tahun, sampai akhirnya
pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Suharto mengundurkan diri atas desakan
MPR, karena dianggap bertanggung atas krisis ekonomi yang sangat dahsyat yang
menerpa Indonesia sejak tahun 1997.
GERAKAN MAHASISWA ITB TAHUN 1978.
41. Gerakan Mahasiswa ITB tahun 1978 adalah gerakan yang sejak awal secara resmi
memakai simbol ITB, khususnya Dewan Mahasiswa ITB dalam seluruh
aktivitasnya. Ada beberapa alasan utama yang dinyatakan oleh para mahasiswa
ITB mengapa mereka melancarkan gerakan tersebut, diantaranya adalah:
 Para mahasiswa ITB, khususnya para aktivisnya,melihat bahwa kehidupan
rakyat Indonesia masih jauh dari cita-cita kemerdekaan .
 Para mahasiswa ITB berpendapat bahwa keadaan yang makin menjauhi
cita-cita itu disebabkan oleh kebijaksanaan pembangunan yang keliru,
makin maraknya penyelewengan dan penyalah-gunaan kekuasaan oleh
pejabat pemerintah.
 Para mahasiwa ITB memandang bahwa kepemipinan nasional gagal dalam
mengoreksi kebijakan pembangunan, agagal dalam mencegah
penyelewengan dan penyalah gunaan kekuasaan.
 Mahasiswa ITB berpendapat bahwa Sistem yang mengijinkan seorang
Presiden boleh memegang jabatan Presiden lebih dari dua masa jabatan
menjadi salah satu penghambat tumbuhnya dinamika politik di Indonesia
[ 4 ].
2. Hal-hal yang menjadi latar belakang gerakan mahasiswa ITB tahun 1978 ini
diuraikan oleh Dewan Mahasiswa ITB waktu itu dalam sebuah buku yang
dinamakan ‘Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978’ . Secara lebih spesifik Buku
Putih menyebutkan masalah-masalah besar dalam bidang politik, ekonomi,
hukum dan sosial-budaya yang menyebabkan mereka mejalankan gerakan
tersebut yang mereka angggap sebagai ‘manifestasi dari rasa tanggung jawab
generasi muda yang akan mengisi kemerdekaan’ . Misalnya, para mahasiswa
menyebutkan masalah-masalah politik berikut sebagai alasan mereka untuk mulai
sebuah gerakan:
 Para mahasiswa memandang bahwa Presiden mulai memusatkan
kekuasaan ditangannya, sehingga melumpuhkan kekuatan -kekuatan
politik lain.
 Makin membudayanya korupsi diseluruh sektor kehidupan.
 Anggota DPR dipandang tidak mewakili rakyat. Tidak ada sambungan
antara aspirasi rakyat kecil dengan anggota DPR.
 Sistem pemilihan umum yang proporsional bukan sistem distrik telah
menyebabkan kebanyakan anggota DPR tidak punya hubungan batin
dengan rakyat yang memilih. Anggota DPR justru diseleksi oleh
pemerintah.
 Ketua Lembaga-lembaga tinggi negara seperti Mahkamah Agung dan
BPK ditentukan oleh Presiden, sehingga mereka tidak bisa independent.
 MPR dianggap tidak mewakili rakyat karena 61 % anggota MPR tahun
1977 diangkat pemerintah.
3. Atas dasar alasan-alasan tersebut, pada tanggal 16 Januari 1978 Ketua Dewan
Mahasiswa ITB atas nama Keluarga mahasiswa ITB menyatakan ‘Tidak
5mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik
Indonesia’. Pernyataan Dewan Mahasiswa ITB ini nampaknya menjadi penyebab
utama didudukinya kampus ITB oleh militer, dan penangkapan beberapa orang
mahasiswa dan dosen ITB atas tuduhan menghina Presiden. Mahasiswa ITB
kemudian mogok kuliah, Rektor ITB mengundurkan diri, dan Pangkopkamtib
membekukan seluruh Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa seluruh Indonesia
Pasukan militer meninggalkan kampus ITB pada tanggal 25 Maret 1978.
BAGIAN II. SUMBANGAN DAN UPAYA YANG TIDAK BANYAK
DIBICARAKAN
KETERLIBATAN UNSUR-UNSUR GANESA 10 DALAM PERJUANGAN 45 [ 5 ].
1. Pada bulan Maret !942 Balatentara Dai Nippon telah mengambil alih seluruh
kepulaun Indonesia dari penjajahan Belanda. Terhentilah semua kegiatan sekolah,
dari sekolah rendah sampai sekeolah tinggi. Setelah kira-kira 5 bulan diduduki
Jepang, barulah sekolah-sekolah dibuka kembali berangsur-angsur. Pada awal
tahun 1944 di bekas Kampus Technische Hogeschool di Jalan Hogeschoolweg,
sekarang jalan Ganesa 10, dibuka Kogyo Daigaku ( Sekolah Teknik Tinggi) dan
Senmongakko ( Sekolah Teknik Menengah). Para mahasiswa Kogyo Daigaku
kuliah dengan pakaian seragam celana pendek putih, baju putih, kepala gundul
dan memakai peci warna putih, tinggal di asrama hanya makan sekepal sehari. .
Mereka mau belajar teknologi, namun dalam kenyataaan mereka banyak
menghabiskan waktu untuk menjalani militer atau latihan perang dari balatentara
Jepang .
2. Boleh dikatakan keterlibatan aktif unsur Ganesa 10 dalam Revolusi 45 terjadi
setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta
memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, atas nama bangsa Indonesia, pada
tanggal 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada tentara Sekutu pata
tanggal 15 Agustus 1945. Belanda yang didukung tentara Sekutu yang bermarkas
di Singapura, South East Asia Command (SEAC), tidak mengakui kemerdekaan
Indonesia. Mereka menginginkan Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda
menjadi jajahan Belanda. Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu menerima
perintah dari Sekutu untuk membubarkan Republik Indonesia, menangkap
pemimpin-mempinnya, dan menyerahkan Indonesia secara utuh kepada Sekutu.
3. Asrama mahasiswa Dago 104 ( sekarang Dago 126), Asrama Dacosta Boulevard
1-3, sekarang menjadi Hotel Sawunggaling, dan Kampus Ganesa 10 menjadi
tempat berkumpul dan berdiskusinya para pemuda daN mahasiswa yang
didadanya berkobar semangat perjuangan untuk mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan. Mereka mulai melucuti senjata tentara Jepang dan
menyembunyikannya.
4. Dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan Inggris masuk kota
Bandung. Mereka menempatkan diri di bagian Utara kota. Jepang mulai diperalat
6oleh Inggris. Asrama-asrama mahasiswa dicurigai. Asrama Dacosta diserbu
serdadu-serdadu Jepang yang diperintah Inggris-Belanda untuk mencari senjata.
Kampus Ganesa 10 ditingkar oleh pasukan Gurkha dan dan Jepang, dan kemudian
Kampus Ganesa 10 dihujani peluru mortir. Karena suasana kota Bandung, maka
Sekolah Teknik Tinggi, demikian sebutan resmi yang dipergunakan oleh para
mahasiswa di samping sebutan Kogyo Daigaku, diungsikan ke Ibu Kota Revolusi
Yoyakarta, dan disebut STT Bandung di Yogya.
5. Di Yogya, perkuliahan diatur sedemikian rupa untuk memungkinkan pembaktian
diri para dosen, mahasiswa dan karyawan dalam perjuangan mempertahankan dan
menegakkan kemerdekaan. Para mahasiswa bergabung membentuk pasukan
mahasiswa dengan nama Corps Mahasiswa (CM) dan yang bersama-sama
dengan Tentara Pelajar (TP) bergabung membentuk TNI Brigade XVII yang
langsung ada dibawah pimpinan MTT ( Markas Tertinggi Tentara). Para
mahasiswa yang tinggal di Bandung meneruskan perjuangan dengan
menggabungkan diri pada berbagai badan perjuangan dan ketentaraaan: ada yang
masuk menjadi anggota Polisi Tentara, masuk dalam jajaran kementerian luar
negeri, ada yang masuk badan intelijen, ada yang membentuk batalyon.
6. Unsur Ganesa 10, mahasiswa, pelajar, karyawan berperan besar dalam medirikan
Bagian Kimia Persenjataan dan Pabrik Senjata Siliwangi. Kesatuan inilah yang
mendirikan Persenjataan Divisi Siliwangi. Awal Pebruari 1948, Satuan
Persenjataan Siliwangi berhijrah ke Yogya melalui kota Tasikmalaya yang
diduduki militer Belanda. Bagian Kimia ini yang dengan bahan-bahan seadanya
menghasilkan bom-bom batok dan ranjau darat degan daya eksplosif tinggi,
dikemas dalam kaleng dinamit dari seng. Satuan ini juga mengahasilkan granat
tangan yang diberi nama Kanibal. Satua Kimia ini juga membuat aether ad
narcosin yang dipakai untuk mebius dalam operasi darurat bagi pejuang yang
tertembak. Unsur-unsur Ganesa 10 benar-benar terlibat dalam pertempuran.
Menurut catatan 10 orang mahasiswa dari kampus Ganesa 10 gugur dalam
berbagai pertempuran .
KEWIRAUSAHAAN DAN TEKNOLOGI TEPAT-GUNA
1. Ada beberapa pandangan dan keadaan yang menjadi pemicu dari perhatian dan
keterlibatan ITB dalam pengembangan kewirausahaaan dan pengembangan
teknologi tepat guna pada awal tahun 1970-an. Diantaranya adalah:
 Kecemasan akan makin melebarnya jurang antara kelompok kaya dan
miskin, perbedaan antara kemajuan di kota dan di daerah pedesaan.
 Laporan kelompok MIT kepada ‘Club of Rome’ yang dimuat dalam buku
‘The Limit to Growth’ yangmenyatakan bahwa apabila kecenderungankecenderungan di masa lalu dalam pembangunan ekonomi diteruskan,
dunia akan melampaui batas-batas kemampuannya untuk berkembang
dalam beberapa generasi yang akan datang dan akan mengalami
malapetaka.
7 Pandangan Schoemaher tentang ‘small is beautiful’.
 Adanya kebutuhan bantuan teknologi sederhana untuk memecahkan
persoalan hidup sehari dari beberapa daerah di Indonesia, yang
disampaikan oleh para pastur Indonesia, yang dilayani oleh sebuah
kelompok kecil di TH Eindhoven [ 6 ].
2. Tujuan ITB mengembangkan kewirausahaan dan teknologi tepat guna adalah
untuk memberikan sumbangan dalam memberdayakan masyarakat luas,
mengurangi penganguran dan meningkatkan pendapatan mereka. Walaupun ada
teknologi yang dikembangkan, namun kata kuncinya adalah pemberdayaan
masyarakat luas. Pengembangan kewirausahaan diharapkan akan lebih banyak
orang-orang yang bisa menciptakan pekerjaaan sendiri. Di samping itu kelompok
yang mengembangkan gagasan ini di ITB meyakini bahwa tanpa jiwa
kewirausahaan, teknologi tidak akan memberi manfaat yang diharapkan, bahkan
sebaliknya bisa menjadi beban.
3. Awal tahun tujuh puluhan, ITB adalah perguruan tinggi Indonesia yang pertama
terlibat dalam upaya pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Dengan bekerja
sama dengan UNIDO, McBer Company yang bermarkas di Boston dan Bank
Dagang Negara (BDN), Development Technology Center (DTC) ITB
mengembangkan paket pelatihan dan kelompok pelatih kewirausahaan dan
membantu beberapa pengusaha kecil nasabah BDN dalam mengembangkan
usahanya. Pelatihan-pelatihan kewirausahaan ini dimulai pada akhir tahun 1975.
4. Banyak yang tidak mengetahui bahwa kata kewirausahaan yang banyak dipakai
pada saat ini sebagai terjemahan entrepreneurship adalah istilah yang direka dan
dilontarkan oleh kelompok pembina kewirausahaan ITB. Waktu itu ada kelompok
lain yang memakai istilah ‘kewiraswastaan’ sebagai terjemahan dari
entrepreneurship dan istilah ini sering dipakai dalam media masa termasuk di
televisi. ITB tetap memperkenalkan dan mempertahankan istilah kewirausahaan
atas dasar pertimbangan bahwa ‘entrepreneursip spirit’ yang intinya semangat
berinovasi tidak hanya ada dalam perusahaan swasta namun juga di lembagalembaga publik dan lembaga swadaya masyarakat. Disamping itu kata
‘entreprendre’ yang menjadi dasar dari kata ‘entrepreneuship’ artinya ‘berusaha’
atau ‘mengusahakan’.
5. Sekarang, bermacam-macam lembaga, lembaga pemerintah, perguruan tinggi,
perusahaan swasta, lembaga swadaya masyarakat, memberikan pelatihan
kewirausahaan atau sejenisnya dan menjadi pendamping perusahaan kecil.
Demikian juga, bantuan atau kredit bank untuk Usaha Kecil dan Menengah
menjadi salah satu isssue besar di Republik ini dan dijadikan salah satu kriteria
untuk mengukur keberhasilan sebuah bank.
6. Program pengembangan teknologi tepat guna dijalankan dengan bekerja sama
dengan sebuah LSM Belanda yang bernama TOOL. Jenis produk yang
dikembangkan ditujukan untuk mebantu masyarakat di daerah pedesaan.
8Beberapa teknologi sederhana dikembangkan seperti: pompa hidram, pemanas air
tenaga surya, pembangkit listrik dengan kincir angin, ferro-semen, pompa microhydro, pintu air otomatis untuk pesawahan pasang surut. Sebenarnya, dalam
pemanfaat teknologi tepat guna di daerah pedesaan, bagian yang sangat penting
adalah kemampuan untuk membangun kesadaran masyarakat dan partsisipasi
masyarakat dalam seluruh proses pembuatan dan pengoperasiaannya sehingga
teknologi itu dapat dimanfaatkan dengan baik, dipelihara dan dikembangkan
apabila ada kebutuhan yang baru.
7. Di samping mengembangkan dan membuat produk untuk mengatasi masalah di
sebuah kelompok masyarakat, melatih dan mendidik masyarakat, ITB juga
mengembangkan paket pelatihan dan penerapan tenologi tepat guna untuk
Petugas Lapangan Teknologi Pedesaan (PLTP). Dalam program ini ITB bekerja
sama dengan LIPI, Universitas Diponegoro, dan Direktorat Jenderal
Pembangunan Desa Departemen Dalam Negeri. Di samping melakukannya
sendiri, team teknologi tepat guna ITB membantu kelompok-kelompok atau
lembaga lain untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang ini, termasuk
diantaranya membantu LIPI dalam mengembangkan Sistem Informasi Teknologi
Tepat Guna Indonesia (SITTGI) dan Warung Informasi (WARSI) bagi UKM di
Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
8. Kegiatan pengembangan teknologi tepat guna di ITB pada saat ini tidak lagi
segencar pada tahun-tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan, walaupun
demikian permintaan akan jasa penerapannya tetap ada. Namun demikian gagasan
dan beberapa jenis keterampilan sudah disebarkan oleh ITB ke beberapa lembaga
dan kelompok. Beberapa diantara gagasan produk atau proses bahkan oleh
beberapa pihak atau perusahaan dikembangkan menjadi kegiatan komersial
seperti pemanas air tenaga surya dan daur ulang plastik. Sayangnya ITB di masa
lalu sebagai lembaga pemerintah memang menghadapi banyak kendala dalam
memperolah manfaaat ekonomik dan finasial dari ptototipe produk yang
dikembangkannya. Memang harus diakui bahwa semangat filantropik dari
kegiatan-kegiatan pengembangan teknologi dan kewirausahaan pada saat itu
sangat menonjol.
PEMBANGUNAN YANG BERPUSAT PADA MANUSIA DAN MASYARAKAT.
1. Usaha lain yang dilakukan oleh ITB dalam hal ini dipelopori oleh Pusat Studi
Lingkungan Hidup ( PSLH) ITB dalam malakukan perubahan adalah
memperkenalkan apa yang disebut pembangunan yang berpusat pada manusia
dan masyarakat atau community-based development. Beberapa keadaan yang
berkembang pada tahun 1970-an memnjadi pemicu dari upaya memperkenalkan
konsep dan implentasi pembangunan berpusat pada manusia ini di lingkungan
ITB, diantaranya adalah:
 Pemerintahan Orde Baru memperkenalkan perencanaan pembangunan
yang terpusat dan boleh dikatakan bersifat ‘top down’. Akibatnya suara,
pandangan dan kepentingan rakyat lapisan bawah sering kali diabaikan.
9 Masyarakat lapisan bawah sering kali menjadi korban dari pembangunan
wilayah baik di kota maupun di daerah pedesaaan. Mereka bukannya
menjadi lebih berdaya karena adanya pembangunan, namun menjadi
makin tidak berdaya, mereka menjadi kelompok yang terpinggirkan.
 Pengalaman memperkenalkan teknologi tepat guna ke pedesaan
menunjukkan bahwa teknologi tidak akan memberi manfaat yang
diharapkan apabila masyarakat tidak merasa ‘memiliki’ teknologi yang
diterapkan.
2. PSLH ITB antara kurun waktu 1978-1993 tidak hanya memperkenalkan konsep,
namun juga mengiplementasikan nya pada beberapa kelompok masyarakat di
beberapa daerah. Konsep ini didasarkan atas keyakinan bahwa kelompok
masyarakat yang terorganisisr sebagai komunitas dapat mengadakan mobilisasi
sumberdayanya untuk membangun bersama dan dengan demikian dapat mengatur
diri lebih baik. Dalam penerapannya, anggota masyarakat yang bergabung dalam
kelompok terlibat aktif sejak awal sejak pengembangan gagasan, menilai gagasan,
merumuskan gagasan bersama, merencanakan, melaksanakan, mengawasi, dan
menilai program-program pembangunan mereka. Di sini masyarakat menjadi
pelaku utama pembanguan dan penjadi pemilik proses dan hasil pembangunan itu
sendiri. Keterlibatan anggota masyarakat dari awal sampai akhir merupakan
pemberdayaan masyarakat melalui proses belajar bersama [ 7 ]
3. Implementasi kosep pembangunan berpusat pada masyarakat dijalankan di
beberapa daerah pedesaaan dan juga di daerah perkotaan. Dalam implementasi
konsep ini, diperkenalkan fungsi konsultan pembangunan yang bertugas
memfasilitasi proses belajar bersama angota masyarakat yang terlibat. Dalam
mengimplemntasikan konsep ini, PSLH ITB bekerja sama dengan Facultyof
Environment Study, York University, Canada.[ 8 ].
BAGIAN III. MENCERMATI PENGALAMAN DAN MENYIKAPI
MASA DEPAN
BEBERAPA PELAJARAN DARI MASA LALU
1. Di samping ‘peristiwa’ atau upaya-upaya di atas mungkin masih ada kejadian
yang berkaitan dengan unsur-unsur ITB atau dilakukan oleh ITB yang sudah atau
diharapkan membawa perubahan pada kelompok-kelompok masyarakat. Namun
demikian dengan mencermati lima hal yang dipaparkan di atas, ada beberapa
pelajaran yang bisa diambil.
2. Dari sisi karakteristik aktor atau pelaku utamanya, baik sebagai individu atau
kelompok mereka mempunyai kesamaan ciri berikut:
10 Digerakkan oleh idealisme.
Tidak ada yang bisa meragukan bahwa tindakan-tindakan Soekarno dalam
meperjuangkan kemerdekaan digerakkan oleh idealisme yang sangat
tinggi. Demikian juga keterlibatan kelompok mahasiswa ITB dalam
Gerakan 1966 dan Aksi mahasiswa ITB tahun 1978. . Mereka
menginginkan kehidupan masyarakat yang lebih demokratis, yang lebih
berkeadilan. Bahkan program kewirausahaan dan teknologi tepat guna
yang kelihatannya bersifat teknis dipicu oleh idealisme pada kelompok
yang memprakarsianya. Mereka mengaharapkan dapat melakukan sesuatu
yang mengubah kualitas hidup masyarakat luas.
 Peka terhadap masalah sosial.
Walaupun ITB sebuah institut teknologi, mereka bukanlah orang-orang
yang hanya tertarik pada masalah teknologi, sain atau seni dalam
pengertian sempit, tetapi juga tertarik pada masalah-masalah sosial yang
berkembang di masyarakat. Kepekaaan ini sering berkembang menjadi
kepedulian terhadap masalah-masalah sosial.
 Merasa punya tanggung jawab sosial.
Mereka merasa bahwa memecahkan atau mengatasi masalah sosial bukan
urusan orang lain, namun urusan mereka. Mereka merasa bersalah kalau
tidak ambil bagian dalam upaya mengatasi masalah atau berdiam diri saja.
Rasa tanggung jawab sosial inilah yang menyebabkan mereka merasa
terpanggil untuk melakukan ‘sesuatu’.
 Kemampuan membangun komunitas.
Pelaku utama dalam perubahan ini mampu membangun kelompok yang
terdiri orang-orang yang punya cita-cita bersama dan berhimpun atas
dasar rasa saling percaya. Kelompok ini bisa saja berasal dari latar
belakang yang berbeda-beda, namun mereka mampu menemukan atau
menyusun platform bersama yang mereka sepakati.
 Keberanian untuk bertindak atau mencoba sesuatu yang baru.
Cita-cita bersama ini diterjemahkan dalam tindakan nyata, tidak berhenti
pada tingkat konsep yang abstrak. Keberanian bertindak ini sering kali
dilatar belakangi rasa percaya diri yang kuat dan kerelaan untuk menerima
risiko apabila tindakan yang diambil tidak mencapai sasaran.
3. Dari sisi proses perubahan , contoh keterlibatan unsur-unsur Kampus Ganesa 10
dalam perubahan yang disampaikan di atas menunjukkan bahwa perubahan sosial
adalah sebuah proses yang sangat kompleks dan berlangsung dalam waktu yang
lama. Proses itu dipengaruhi oleh banyak sekali faktor yang berada di luar
kendali pengambil inisiatif perubahan sehingga hasil dari proses perubahan
sering kali tidak seperti dibayangkan sebelumnya. Misalnya, tidak ada yang
membayangkan bahwa Gerakan mahasiswa tahun 1966 yang diarahkan untuk
menurunkan Prediden Soekarno dari kekuasaan guna membangun kehidupan
11bernegara yang lebih demokratis, lebih berkeadilan, lebih makmur, dan tidak
korup, telah melahirkan Pemerintahan Orde Baru yang juga dianggap tidak
demokratis dan ditandai oleh tingkap korupsi yang tinggi dan berakhir pada tahun
1998 dengan sebuah krisis besar karena runtuhnya ekonomi Indonesia. Di pihak
lain, beberapa gagasan-gagasan yang diperjuangkan oleh Gerakan Mahasiswa
ITB 1978, seperti membatasi jabatan presiden RI hanya dua masa jabatan,
memisahkan pimpinan DPR dan MPR, Ketua Mahkamah Agung dan BPK agar
dipilih oleh DPR atau MPR, agar anggota MPR hanya terdiri dari mereka yang
dipilih bukan diangkat, justru dilaksanakan 25 tahun kemudian, pada era yang
disebut era reformasi.. Issue seperti pentingnya pemilu sistem distrik, pengadilan
yang berkeadilan, dan pembrantasan korupsi yang mereka lontarkan 25 tahun
yang lalu tetap menjadi issue sentral pada saat ini.
4. Inisiatif untuk melakukan sesuatu yang punya dampak sosial luas adalah sebuah
eksperimen. Sebagai sebuah eksperimen selalu ada kemungkinan bahwa
eksperimen itu tidak mencapai hasil yang diharapkan. Namun demikian
eksperimen untuk melakukan perubahan tetap perlu dicoba . Kalau dicoba selalu
ada peluang untuk berhasil, walaupun kecil. Namun kalau tidak dicoba, pasti tidak
berhasil.
5. Ada dua sifat upaya atau aksi unsur-unsur Ganesa 10 dalam mencoba
menimbulkan perubahan di masyarakat, upaya atau aksi yang bersifat
revolusioner dan yang bersifat evolutif. Keterlibatan mahasiswa ITB dalam
Gerakan 1966 dan Gerakan Mahasiswa ITB pada tahun 1978 bersifat
revolusioner, dalam arti melibatkan kadar emosi yang sangat tinggi, penuh dengan
suasana koflik dan ketegangan, dan menginginkan perubahan segera. Sedangkan
upaya pengembangan kewirausahaan, pengembangan teknologi tepat guna, dan
pembinaan lingkungan yang berpusat masyarakat bersifat evolutif. Pada
pendekatan evolutif, sejak awal disadari bahwa hasilnya tidak akan terlihat dalam
waktu dekat dan perubahan terjadi perlahan-lahan. Nampaknya aksi yang bersifat
revolusioner lebih menimbulkan kesan yang dalam dan lebih populer di mata
masyarakat luas.
6. Dilihat dari unsur-unsur yang terlibat dalam proses perubahan sosial, unsur-unsur
ini berbeda-beda. Ada keterlibatan alumni ( kalau hal ini dapat diakui sebagai
sumbangan ITB ) seperti yang dilakukan oleh Soekarno. Sebenarnya sekarang
inipun banyak alumni ITB yang aktif dalam berbagai LSM yang juga tujuannya
membawa perubahan sosial di Indonesia. Ada saatnya mahasiswa yang berada
pada barisan paling depan dalam memperjuangkan perubahan seperti pada
gerakan mahasiswa tahun 1966 dan tahun 1978. Sampai saat ini kedua gerakan ini
yang paling diingat oleh masyarakat luas. Ada inisiatif perubahan yang
dilaksanakan lebih melembaga seperti yang dilakukan melalui DTC ITB dan
PSLH ITB. Dua upaya yang terakhir ini tidak sepopuler gerakan mahasiswa. Hal
yang perlu digarisbawahi dari kenyataan ini adalah setiap unit, kelompok atau
orang yang terpanggil untuk menyumbangkan pikiran dan karyanya untuk
masyarakat luas dapat menjadi agen perubahan sosial yang potensial.
12TANTANGAN KINI DAN DI MASA DEPAN.
1. Lima puluh delapan tahun sesudah proklamasi kemerdekaan, dibanding dengan
bangsa –bangsa lain, bangsa Indonesia dalam banyak hal belum bisa
membanggakan hal-hal yang telah dicapainya. Berikut ini adalah bidang-bidang
di mana kita punya masalah besar;.
 Birokrasi Indonesia diakui atau tidak, telah menjadi salah satu birokrasi
yang paling korup di dunia. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa
birokrasi Indonesia telah berubah menjadi kleptokrasi. Dalam birokrasi
Indonesia, seperti yang dinyatakan oleh Bung Hatta, korupsi sudah
menjadi budaya, menjadi norma.
 Penegakkan hukum dan keadilan yang sudah dianggkat menjadi isssue
sentral dalam Gerakan Mahasiswa ITB tahun 1978, tetap menjadi masalah
besar. Ini adalah birokrasi yang sangat korup namun tanpa koruptor.
Seandainya ada satu dua yang dihukum atas tuduhan korupsi, itu
dipandang sebagai pengecualian.
 Indonesia mengahadapi masalah sangat besar dalam bidang pendidikan
dan kesehatan.Human Development Index Indonesia pada tahun 2003
berada pada peringkat 112 dari 175 negara di dunia. Ini adalah salah satu
posisi terendah diantara negara-negara di Asia [9 ].
 Tidak ada yang membantah bahwa makin banyaknya kota-kota dan daerah
di Indonesia yang dilanda banjir adalah akibat pengrusakan lingkungan
hidup terus berjalan..
 Daya tarik Indonesia untuk investasi baru sangat rendah sementara
beberapa perusahaan-perusahaan asing yang sudah lama beroperasi di
Indonesia sudah mulai meninggalkan Indonesia. Ini berarti kemampuaan
ekonomi Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja menurun, semetara
angkatan kerja bertambah terus.
 Daya saing indusrti atau ekonomi kita salah satu yang terendah di dunia.
Dari 30 negara yang berpenduduk lebih dari 20 juta, posisi daya saing
ekonomi Indonesa pada tahun 2003 berada pada peringkat 28 [10].
 Merebaknya konflik sosial yang berbau SARA.
2. Daftar masalah yang disampaikan di atas masih terus bisa diperpanjang. Secara
umum, Indonesia mengalami masalah besar dalam pemelihararaan dan
pengembangan modal yang diperlukan untuk mencapai kemajuan dan
kesejahteraan. Pertama, modal fisik dalam bentuk sumberdaya alam yang di masa
lalu dirasakan melimpah sekarang ini sudah menyusut drastis dan mengalami
pengusakan terus menerus. Ini terjadi karena eksploitasi besar-besaran
sumberdaya alam yang tak bisa diperbaharui dan penghacuran daya
memperbaharui-diri sumberdaya alam yang bisa diperbaharui. Kedua, Indonesia
mengalami masalah besar dalam pemeliharaan dan pengembangan modal maya,
13khususnya dalam tiga unsur modal maya yaitu kredibilitas, modal intelekual, dan
modal sosial. Korupsi yang makin berkembang dan berakar, lemahnya
penegakkan hukum, semua itu telah menurukan kredibiltas bangsa kita. Modal
intelektual yang sangat sedikit tercermin dari tingkat pendidikan dan tingkat
penguasaan pengetahuan dan teknologi. Sementara konflik sosial yang
berkepanjangan telah mengikis persediaan modal sosial bangsa kita. Pada hal,
dalam ekonomi baru yang sedang berkembang, modal maya inilah yang menjadi
sumber utama dari kesejaheraan masyarakat, bukan lagi modal fisik.
3. Hal yang lebih memeprihatinkan, sementara Indonesia terus bergulat dengan
masalah-masalah yang diciptakannya sendiri dan belum menemukan titik terang
untuk dapat dengan cepat memecahkannya, banyak negara-negara Asia yang
beberapa waktu yang lalu berada pada tingkat perkembangan yang sama bahkan
di bawah Indonesia, kini sudah berada jauh di depan Indonesia dan mereka
melaju dengan cepat. Malaysia sudah jauh di depan Indonesia, Cina maju pesat
dan menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang makin diperhitungkan. Bahkan
Vietnam dalm beberapa indikator pembangunan seperti HDI sudah berada di atas
Indonesia.
4. Tidak perlu menjadi seorang pakar untuk menyatakan bahwa Indonesia
memerlukan perubahan-perubahan besar. Indonesia perlu menemukan cara yang
dapat mengembangkan mentalitas dan tatatanan yang memungkinkan bangsa ini
keluar dari deretan masalah besar yang diuraikan di atas dan masalah lain yang
tak kalah besarnya. Kalau tidak , bangsa ini akan makin terus tertinggal dan tidak
akan pernah punya tempat terhormat di mata bangsa-bangsa lain di dunia. Namun
demikian perlu disadari bahwa ada kelompok kecil ( saya tidak mau menyebutnya
‘elite’) yang tidak yang lebih menyukai ‘status quo’ karena mereka mendapat
kenikmatan dari ‘kerusakan yang terjadi di negara kita’. Semua orang tahu
korupsi tidak baik, akan merusak negara ini, ketidak-adilan akan menghilangkan
kredibilitas, birokrasi kita dtidak efisien. Namun korupsi terus berjalan karena ada
kelompok yang mendapat kenikmatan atau menarik keuntungan untuk dirinya
dari keadaan yang korup,yang tidak efisien, yang tidak berkeadilan. Kelompok
ini bisa berada di lembaga-lembaga negara maupun di luar lembaga-lembaga
negara.
5. Pertanyaannya adalah , bagaimana ITB menyikapi keadaan seperti itu. Pada satu
ujung yang ekstrem komunitas ITB bisa saja menganggapbahwa masalahmasalah itu bukan urusan ITB. Apalagi dalam era BHMN sekarang ini dimana
ITB harus mati-matian mencari dana untuk membiayai kegiatannya sementara
dana yang disediakan oleh pemerintah sangat di bawah kebutuhan. Daripada
menghabiskan waktu untuk memikirkin masalah-masalah besar Republik ini,
lebih baik melakukan yang praktis-praktis saja. Di pihak lain adalah secara sadar
memberikan perhatian besar pada masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa
ini dan memperhitungkan hal ini dalam pengembangan ITB sehingga ITB dalam
posisi yang sangat baik, dengan berbagai cara melalui berbagai unsur , untuk
berkontribusi dalam proses pemecahan masalah besar ini dan mampu
14mngembangkan sisi-sisi positif masyarakat kita untuk mencapai kemajuan.
Apabila ITB berhasrat atau mencoba memenuhi harapan yang sangat tinggi dari
masyarakat, walaupun hanya sebagaian saja dari harapan itu, maka cara pandang
berikut ini perlu menjadi secara sadar perlu dijadikan bagian dari titik tolak
pengembangan ITB .
MEMBANGUN POTENSI DAN DAYA TANGGAP UNTUK BERKONTRIBUSI
DALAM PERUBAHAN SOSIAL
1. ITB sebagai lembaga pendidikan bukan lembaga pelatihan.
Secara formal ITB memang menamakan diri sebagai lembaga pendidikan.
Namun dalam perilaku masyarakatnya, sering kali tidak disadari bahwa yang
lebih menonjol adalah perilaku sebagai lembaga pelatihan. Dalam proses
pelatihan, yang dikembangkan adalah keterampilan atau skill. Apabila ribuan staf
pengajar ITB sibuk mengalihkan keerampilan atau pengetahuan dalam bidang
keahliannya kepada para mahasiswa, semua itu adalah kegiatan pelatihan.
Sedangkan pendidikan, lebih dari sekedar memindahkan keahlian atau
keterampilan. Dalam pendidikan, para peserta didik dibantu untuk menemukan
jati-dirinya, membangun karakternya. Hal ini dapat dilakukan dengan
membangun lingkungan belajar dan proses belajar yang mendewasakan, yang
meningkatkan intregritas. Jadi, dalam membangun lembaga pendidikan, bukan
hanya keahlian yang penting, namun nilai-nilai, sikap, perilaku masyarakat
akademiknya tidak kalah penting. Karena nilai-nilai, sikap dan perilaku inilah
yang akan dinilai oleh para mahasiswa untuk dijadikan bahan-bahan dalam
merumuskan atau memilih nilai-nilai, sikap atau perilaku yang mereka akan
kembangkan, yang akan menjadi bagian dari karakter mereka masing-masing.
Untuk berkontibusi dalam perubahan sosial diperlukan orang-orang yang
berkarakter, tidak hanya terampil.
2. ITB sebagai komunitas bukan pabrik.
Dalam perubahn sosial, unsur-unsur ITB akan berinteraksi dengan orang dengan
kelompok, dengan masyarakat. Sebab itu ketajaman rasa dan kepekaan sebagai
anggota komunitas hendaklah diasah dalam kehidupan di kampus dengan
mengembangkan kehidupan kampus sebagai komunitas. Dalam sebuah komunitas
cita-cita bersama, interaksi sosial, rasa saling percaya, rasa saling menghormati,
norma-norma, menjadi perekat sebuah komunitas. Seorang mahasiswa, seorang
staf non-akademik, seorang staf akademik, adalah anggota komunitas. Dia bukan
baut kecil dari sebuah mesin dalam sebuah pabrik. Sebab itu cara
memperlakukannyapun berbeda. Mahasiswa bukanlah bahan baku atau gelas
kosong, namun bibit-bibit unggul yang beragam dan potensi tumbuhnya mungkin
berbeda-beda. Staf akademik bukan mesin, bukan pula operator mesin, mereka
adalah mitra belajar, fasilitator dalam proses belajar. Dalam komunitas belajar,
pemegang sebuah jabatan bukanlah penguasa, namun hanya ‘the first among
15equals’. Komunitas ini akan berfungsi sebagai persemaian bagi semua unsurunsur ITB, mahasiswa, staf akademik, staf non akademik, sebagai perorangan
atau kelompok, untuk mengembangkan diri, mengembangkan gagasan,
mengembangkan cita-cita bersama, keahlian bersama tidak hanya untuk
berkontribusi di ITB namun juga di masyarakat luas.
3. Mengutamakan misi transformasional, tidak hanya transaksional.
Di toko-toko, di warung-warung, di super-market, terjadi kegitan transaksional.
Di perguruan tinggi pun banyak kegiatan-kegiatan yang bersifat transaksional.
Para mahasiswa harus membayar unuk mendapatkan jasa pendidikan di ITB. Para
dosen dibayar (walaupun sangat rendah) untuk jasa akademik yang mereka
berikan kepada mahasiswa atau ITB. ITB menerima bayaran untuk jasa-jasa
konsultasi yang atau jasa-jasa lain yang diberikan oleh stafnya kepada
perusahaan, lembaga-lembaga pemerintah, atau perorangan. Transaksi memang
perlu, namun tidak cukup untuk menguatkan posisi ITB dalam proses perubahan
sosial di Inonesia.. Untuk mengembangkan potensi sebagai pembaharu di
masyarakat, perlu dijaga atau dikembangkan kesadaran kuat tentang misi
transformasional dari komnitas ITB. Artinya, warga ITB dalam lubuk hatinya
merasakan bahwa ITB hadir untuk berkontribusi dalam proses perubahan
masyarakat Indonesia ke kualitas kehidupan yang lebih baik dalam arti luas.
Dalam kehidupan sehari-hari ini berarti fungsi ITB sebagai persemaian agen-agen
perubahan akan lebih mudah dijalankan bila para staf pengajarnya melihat
pekerjaan mereka di ITB tidak hanya sekedar sebagai kegiatan mencari nafkah,
atau para mahasiswa belajar di ITB tidak hanya untuk mendapatkan gelar. Dengan
lain misi transformasional komunitas ITB memerlukan adanya semacam
idealisme pada warga komunitasnya. Idealisme di sini diartikan sebagai kemauan
dan semangat untuk mencapai sesuatu yang luhur dan yang bermanfaat bagi
masyarakat luas. Dalam kaitan ini, komunitas ITB hendaknya dapat berfungsi
sebagai habitat yang dapat dimanfaatkan oleh anggotanya untuk menumbuhkan
dan mengasah idealisme mereka.
4. Perilaku komunitas yang dihela prinsip-prinsip, bukan diseret lingkungan.
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dikenal adanya prinsip-prinsip yang
diakui secara universal keampuhannya sebagai pedoman untuk membangun
kehidupan pribadi maupun masyakat yang baik dan sejahtera, seperti kejujuran,
dan keadilan. Perilaku proaktif adalah perilaku yang di hela oleh prinsip-prinsip.
Sebaliknya perilaku reaktif adalah perilaku yang diseret atau terseret lingkungan.
Salah satu penyebab dari meluasnya korupsi di Indonesia, di samping faktor
keserakahan dan lemahnya penegakkan hukum, adalah rendahnya atau tidak
adanya komitmen pelaku korupsi terhadap prinsip-prinsip yang mereka
sebenarnya sudah ketahui. Mereka melakukan korupsi, karena melihat orangorang disekitarnya juga korup dan tidak diapa-apakan. Perubahan memerlukan
orang-orang atau kelompok yang proaktif, yang berani memegang teguh prinsipprinsip, bukan orang-orang atau kelompok yang mudah terseret oleh lingkungan.
Dalam tataran praktek sehari-hari, baik sebagai perorangan, kelompok atau unit
organisasi, sangatlah penting mengklarifikasikan prinsip-prinsip yang dijadikan
16landasan, dan menguji apakah perilaku, sistem atau mekanisme yang dijalankan
sesuai dengan prinsip-prinsip. Kejelasan mengenai prinsip-prinsip ini dan
komitmen dalam menjalankannya akan menghindarkan ITB jatuh dalam jebakan
‘tujuan menghalalkan cara’, dan mencegah ITB menjadi lembaga yang bisa
‘dibeli’.
5. Meningkatkan pergaulan lintas disiplin.
Perubahan di masyarakat adalah sebuah proses yang kompleks, dan perlu
dipahami dari beraneka sudut pandang. Sebab itu ITB tidak akan dapat
mengembangkan potensinya secara optimal sebagai agen perubahan di
masyarakat apabila anggotanya terisolasi hanya dalam disiplin yang dipelajarinya
sendiri, tidak mampu berkomunikasi dengan mereka dari disipilin ilmu yang
berbeda dan mengapresiasi potensi dari disiplin atau cara pandang lain dalam
melihat sebuah masalah. Di samping pengetahuan substansial, anggota komunitas
ITB perlu memiliki pengetahuan kontesktual yang luas , seperti pengetahuan
sosial-budaya, pengetahuan ekonomi, sejarah, bahkan filsafat, agar pengetahuan
subtansial yang dimiliki dapat diterapkan dengan baik. Sering-kali niat baik untuk
menerapkan pengetahuan substantial tidak mencapai hasil yang diharapkan karena
kurangnya pengetahuan tentang nilai-nilai kulturral dan struktur masyarakat di
mana pengetahuan itu hendak diterapkan.
6. Mengembangkan lingkungan yang menyuburkan kreativitas.
Ini ungkapan klise. Namun di sini yang perlu diperhatikan adalah, dalam
lingkungan yang mendorong kreativitas selalu ada ruang untuk berbuat salah,
selama kesalahan tersebut adalah kesalahan yang tulus (honest mistake).
Kreativitas juga lebih mudah bekembang dalam lingkungan dengan budaya
apresiatif, bukan budaya sinis. Kreativitas inilah yang menjadi inti dari
kewirausahaan, baik di sektor swasta, sektor publik, dan sektor kemasyarakatan.
7. Mengembangkan modal sosial dan meningkatkan serta menjaga
kredibilitas.
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang tertua di Indonesia, ITB menjadi salah
satu sentra modal intelektual dalam bidang sain, teknologi dan seni di Indonesia.
Namun untuk menjadikan modal intelektual punya arti bagi perubahan sosial di
Indodesia, unsur-unsur komunitas ITB perlu bekerja sama dengan pihak-pihak
lain dan kerja sama itu didasarkan atas dasar prinsip-prinsip yang dihormati oleh
pihak-pihak yang bekerja sama. Nampaknya perlu dipikirkan kembali hubungan
ITB denganpara alumninya. Sebab para alumni dapat menjadi bagian utama dari
komunitas ITB dalam menjangkau masyarakat luas. Selanjunya, dalam
memperkenalkan sebuah perubahan, kredibilitas memegang peran sangat besar.
Kredibiltas ini sekurang-kurangnya bersumber pada dua hal, yaitu memebrikan
kinerja yang dijanjikan dan bertindak ethikaldalam memenuhi janji tersebut.
CATATATAN PENUTUP.
171. Dalam upaya mengembangkan ITB sebagai persemaian bagi mereka yang ingin
memberi sumbangan dalam perubahan sosial, tidak ada ilusi bahwa semua
anggota komunitas ITB akan menjadi agen-agen perubahan di masyarakat.
Niatnya adalah menyediakan lingkungan sosial yang lebih baik untuk membantu
mereka yang punya potensi untuk dapat mengembangkan potensinya secara
maksimal, dan memperkecil hambatan untuk pengembangan potensi tersebut.
2. Perlu juga diwaspadai jebakan dari gemerlapnya peristiwa-peristiwa yang
melambungkan nama ITB di masa lalu, sehingga kita cenderung mengecilkan
atau meremehkan sumbangan anggota komunitas ITB bagi masyarakat yang
dilakukan secara diam-diam namun tulus. Jebakan yang lain adalah, menganggap
bahwa cara-cara yang berhasil di masa lalu akan dengan sendirinya berhasil di
masa yang akan datang. Sebab itu sangatlah penting memahami konteks
permasalahan pada jamannya.
REFERENSI
[1] Adjat Sakri ( Editor) , ‘ Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan Lustrum 4’, Penerbit
ITB, 1979.
[2] Ir. Sukarno, ‘Di Bawah Bendera Revolusi”, Panitya Penerbit di Bawah Bendera
Revolusi, Cetakan Keempat, 1965.
[3] Ir. Sukarno, ‘Indonesia Menggugat’, PT. Gunung Agung Tbk., Cetakan II, 2001
[4] Dewan Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, ‘Buku Putih
Perjuangan Mahasiswa ITB 1978”, 1978.
[5] Samudro dkk, ‘Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950’,
Penerbit ITB, Bandung, 1995.
[6] Tim CIMM (Editor), ‘Menimbang Teknologi, Memberdayakan Peneliti : Refleksi
Perjalanan Seperempat Abad PPT ITB’ Bagian Penerbitan PPT ITB dan Penerbit
Nuansa, Cetakan I, Bandung, 1998.
[7] Tjuk Kuswartojo ( Penyunting), ‘ Gelar Nalar Prof. Hasan Purbo: Lingkungan
Binaan untuk Rakyat’, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup ITB bekerja sama dengan
Yayasan AKATIGA, 1999.
[8] Hasan Poerbo. et.al (Editor), Working with People: Indonesian Experiences with
Community-based Development’, The University Consortium on the Environment,
Toronto and Bandung, 1995.
[9] www. undp.org
[10] IMD World Competitiveness Year Book 2003.www01.imd.ch
18
19

Gerakan Mahasiswa ITB 1978

by Facebook : Suara Rakyat on Wednesday, September 29, 2010 at 5:34am
Penolakan Soeharto sebagai Presiden kembali di ITB, 16 Januari 1978. Dan ini berbuntut panjang pada agresi aparat keamanan masuk ke dalam kampus ITB.

Gerakan Mahasiswa ITB 1978

Posted by Kaskusnews March 23, 2010

“Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Ia mau”

Mungkin mahasiswa ITB zaman sekarang sudah tidak mengenal lagi cerita ini. Dan mungkin juga mahasiswa-mahasiswa kampus lainnya, ketika almameter mereka mengalami tindakan represif yang sama. Tetapi gambar adalah bukti otentik bahwa benar kampus-kampus mereka pernah mencatat sejarah yang pahit.

memang ada benarnya apabila tugas utama mahasiswa itu belajar, tapi sudah seharusnya memang mahasiswa tetap menjadi kelompok yang juga paling dekat dengan masyarakat…

Jauh sebelum adanya “Gerakan Reformasi” di tahun 1998, para mahasiswa ITB di tahun 1978 telah melihat bahwa Presiden Soeharto sudah mulai keluar dari idealisme-idealisme membangun sebuah bangsa & negara dengan baik dan benar. Karena media massa saat itu sangat dikontrol oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak bisa mengutarakan pendapat, maka hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat.Dengan bersatu-padu, seluruh mahasiswa ITB saat itu melakukan berbagai kegiatan untuk “mengkoreksi” Presiden Soeharto melalui berbagai gerakan moral seperti menerbitkan buku putih dan mogok kuliah. Buku putih berisikan data-data kajian fakta dan juga pemikiran-pemikiran untuk perbaikan bangsa. Namun gerakan moral ini akhirnya di-“gebuk” dengan kekerasan melalui operasi pendudukan kampus ITB oleh tentara dan juga para tokoh mahasiswa-mahasiswanya dipenjara di tahanan politik, misalnya di tahanan Cimahi. Panglima Kodam Siliwangi di tahun 1978 adalah Mayor Jendral Himawan Soetanto.

Beberapa tokoh-tokoh pimpinan mahasiswa saat itu antara lain Heri akhmadi, Rizal ramli, Indro Tjahjono, Irzadi mirwan (alm), Al hilal, Ramles manampang, Jusman SD, Joseph Manurung, Kemal Taruc dan banyak lagi, ikut memimpin demonstrasi dan juga menuliskan sebuah buku putih. Dari sisi dosen ada nama Wimar witoelar yang cukup vokal dalam acara-acara demonstrasi.

wimar witoelar saat itu

Kisah Arya Rezavidi – Kisah tentang Dewan Mahasiswa ITB yang ketuanya ditangkap

Pada saat saya masuk ITB pada tahun 1977, suasana kampus saat itu sedang bergolak karena masalah politik. Suasana memang tidak terlalu kondusif untuk belajar, karena hampir setiap saat selalu ada orasi politik yang dilakukan oleh mahasiswa yang dilakukan di lapangan basket. Setelah memasuki kampus ITB, setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti paling tidak 2 jenis kegiatan ekstra kurikuler. Pada saat itu saya mengikuti 2 kegiatan yakni karate (KKI) dan PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan). Di PSIK ini saya berkenalan dengan Pudji Asmoro (sesama angkatan 1977) dan kemudian hari saya juga banyak mengenal beberapa tokoh mahasiswa yang menjadi anggotanya. Salah satu yang saya kenal adalah Anton Leonard (dari jurusan Geodesi). Saya sendiri tidak tahu apakah beliau anggota PSIK atau bukan, yang jelas pada saat itu sering kumpul-kumpul berdiskusi dengan tokoh-tokoh mahasiswa lainnya termasuk para pejabat Dewan Mahasiswa-ITB (DM-ITB). Pada saat itu sedang dilakukan pemilihan Ketua DM-ITB yang baru dan akhirnya terpilih Heri Akhmadi. Dalam kepengurusan DM ini, Anton Leonard menjadi Ketua Departemen penerangan DM-ITB.Seiring berjalannya waktu dan kemudian terjadi 2 kali pendudukan kampus oleh tentara, serta kemudian banyak pimpinan DM-ITB yang dibui termasuk juga Heri Akhmadi, maka kepengurusan DM-ITB akhirnya untuk sementara dijabat oleh sebuah presidium dengan salah satu ketuanya adalah Jusman SD, mahasiswa jurusan Mesin angkatan 1973 dan sekarang menjabat Menteri Perhubungan. Jusman terpaksa harus mengoperasikan organisasinya diluar kampus. Pada saat kepengurusan DM berada di luar kampus inilah, saya diminta Anton untuk membantu tugas-tugas Departemen Penerangan DM-ITB.

Terus terang saja karena saya sendiri masih awam dalam masalah kemahasiswaan dan karena saya sendiri belum genap setahun menjadi mahasiswa ketika terjadinya pendudukan kampus, maka keterlibatan saya ketika itu saya rasakan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak memiliki visi yang jelas benar sebenarnya kemana akan arah dari pergerakan mahasiswa ketika itu. Yang saya tahu hanyalah bahwa mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto tidak mencalonkan lagi menjadi presiden dalam SU-MPR berikutnya. Ketika kampus diduduki ini, kepengurusan DM beberapa kali membuat rapat di luar kampus berpindah dari rumah ke rumah, diantaranya yang saya ingat pernah ikut rapat di jalan Cipaganti, di jalan Tirtayasa dan bahkan pernah juga di kompleks Sesko ABRI di jalan Gatot Soebroto, Bandung. Saya tidah tahu rumah siapa saja yang dipakai rapat ini. Saya juga akhirnya berkenalan dengan Gembos, dari jurusan Geodesi angkatan 1975, yang bersama-sama Anton Leonard berada di Departemen Penerangan DM-ITB.

Digambar ini, mahasiswa di pagar betis dan dilakukan pemeriksaan KTM.

Kisah Arya rezavidi – Mencetak buku Putih I

Pihak Dewan Mahasiswa (DM) memutuskan untuk tetap berkomunikasi dengan seluruh mahasiswa yang ketika itu terpencar di luar kampus karena kampus diduduki tentara. Pihak DM menginginkan agar secara rutin menyebarkan selebaran untuk menunjukkan eksistensi mereka di luar kampus. Bersama-sama Anton dan Gembos, saat itu kami mencari beberapa lokasi untuk menempatkan mesin stensil milik DM, sampai akhirnya sampai di rumah Alex Supeli di Ciumbuleuit. Di tempat ini saya pertama kali berkenalan dengan Karlina Supeli, dari jurusan Astronomi angkatan 1977, adik dari rekan Alex. Selebaran sempat dicetak di rumah Alex Supeli ini, namun karena alasan keamanan Karlina menyarankan agar mesin stensil ini dipindahkan ke rumah Budiman Kresnaedi, teman seangkatan dari jurusan Planologi, yang biasa dipanggil Engkis. Kebetulan rumah Engkis tidak jauh dari rumah Alex yakni di jalan Panumbang Jaya, Ciumbuleuit.Akhirnya kami menuju ke rumahnya dan di rumah ini juga tinggal beberapa angkatan 1977 lainnya yakni Agus Dana, dari jurusan Biologi yang masih saudara sepupu Engkis, dan juga Ahmad Syamsi dari jurusan Fisika. Engkis tidak keberatan mesin ditempatkan di sana dan mulailah malam itu juga semua hasil rapat DM-ITB diperbanyak dan dijadikan selebaran stensilan untuk disebarkan keesokan harinya. Pengetikan selebaran dilakukan di tempat lain dan tugas kami hanya mencetak di atas mesin stensil tersebut.

Hampir setiap malam tangan kami belepotan hitam kena tinta stensil. Salah satu yang kemudian kami cetak juga adalah Buku Putih I yang penyusunan dan pengetikannya saya sendiri juga tidak tahu persis oleh siapa dan dimana. Yang pasti tugas kami hanyalah mencetak dan mencetak terus.Suatu saat Anton dan Gembos meminta saya untuk mengambil sumbangan dari seseorang, untuk membeli mesin stensil yang baru karena dengan hanya 1 mesin dirasakan kurang, tertutama pada saat mencetak Buku Putih I. Saya tidak tahu rumah siapa pada saat itu, tapi saya dibawa ke sebuah rumah di jalan Wastukancana. Di rumah ini Gembos menerima sejumlah uang yang menurut saya untuk saat itu ukurannya cukup banyak. Belakangan saya baru tahu bahwa rumah yang kami datangi tadi adalah rumah keluarga Panigoro. Dengan uang sumbangan tadi kami bisa membeli mesin stensil baru, tinta dan kertas-kertas yang semuanya kami beli di toko Gestetner di jalan Tamblong, Bandung. Dengan tambahan mesin stensil ini tugas kami mencetak semakin mudah dan cepat.

Penjagaan gerbang-gerbang kampus sejak suksesnya invasi aparat ke dalam kampus.

Kisah Karlina Supelli – terpaksa pindah tempat untuk pencetakan buku putih

Agus Dana dan Budiman (Engkis) dulu serumah di kawasan Ciumbuleuit. Di rumah merekalah “Buku Putih” ITB dan berkas-berkas sumber “Gerakan 1978” dibuat dan diperbanyak pakai mesin stensil, lalu disebar ke perguruan tinggi lain di Jawa. Beberapa mahasiswa ITB ditangkap di Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika sedang membawa Buku Putih itu. Saya ingat karena saya dan Alex ikut mengerjakan penerbitan gelap itu.Semula pengetikan dan perbanyakan dikerjakan di rumah kami, tetapi karena terlalu menyolok dan mulai didatangi intel, kami pindah ke rumah Engkis yang lebih terpencil tetapi masih di kawasan sama. Kegiatan di rumah Engkis dan Agus ini sangat menegangkan karena selalu dikerjakan tengah malam. Setelah selesai dicetak, berkas kemudian dibungkus, diangkut naik mobil atau motor secara diam-diam dan disebarkan. Buku putih ini merupakan salah satu sumber informasi bagi gerakan mahasiswa saat itu.

Kisah Agus Purnomo – mendistribusikan buku putih

Saya teringat sewaktu dikejar-kejar tentara dan punya KTP sampai 3 buah dengan nama yang berbeda-beda. Yang pasti, saya masih sedih mengingat cerita Kiswanti diseret dengan ditarik rambutnya oleh tentara yang dikirim dari Kodam Brawijaya pada saat pendudukan kampus. Terus ada juga yang mengalami patah tangan karena berhadapan dengan tentara, tapi rasanya bukan dari angkatan 1977.Salah satu dongeng kegiatan “perjuangan mahasiswa” -adalah bagaimana, Halim Mangunjudo (jurusan Elektro), Arie (Jurusan Sipil), June (Jurusan Teknologi Industri), Didi (Jurusan Arsitektur), Budi Kawi, Burhan, Goenarso (jurusan Teknik Industri) dan banyak teman angkatan 1977 lainnya melakukan operasi pencetakan dan pendistribusian buku-buku pleidoi dan “buku putih” di Motel di Karang Setra. Bagaimana mobil VW warna oranye punya Arie jebol mesin-nya di Jagorawi karena dipakai ke Jakarta pulang-pergi untuk dropping buku pleidoi. Padahal mobil itu pergi ke Jakarta tanpa meminta izin ke orang tua Arie.

Penjara Tahanan Politik Cimahi 1978

Kisah Husein Akil dipenjara bersama Tapol G-30-S & Gerakan DI-TII

Ketika baru menginjak tahun ke 2 sebagai mahasiswa ITB yaitu tahun 1978 terjadi gejolak mahasiswa dalam menentang pemerintahan Soeharto. Bagi angkatan saya pada saat itu pembagian jurusan belum dilaksanakan sehingga saat itu masih sebagai mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama). Meskipun demikian, cukup banyak mahasiswa seangkatan yang juga terlibat dalam pergerakan tersebut. Melakukan demonstrasi (unjuk rasa) saat itu dilarang sehingga melakukan penyebaran pamflet, poster dan spanduk sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah tidak dapat dilakukan secara terbuka.Salah satu cara dalam melakukan penyebaran/penempelan poster di tempat-tempat strategis di kota Bandung dilakukan dengan cara yang saat itu disebut bergerilya yaitu dilakukan pada waktu dini hari menjelang subuh (serangan fajar). Saya bersama sdr. Halim Mangunjudo, teman seangakatandari jurusan Elektro, ketika melakukan serangan fajar mengendarai vespa tertangkap polisi tibum (ketertiban umum) kemudian dimasukkan ke kendaraan truk terbuka dan ditahan sementara di kantor kodim baru di sore harinya kami dibawa ke penjara tahanan politik Cimahi diinapkan di sana selama 35 hari. Kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa ITB lainnya yang mereka juga tertangkap sedang melakukan serangan fajar di tempat lain.

Penjara Tahanan Politik Cimahi 1978

Sumber: http://kaskusnews.us/2010/03/23/gerakan-mahasiswa-itb-1978/