Showing posts with label Supriadi Legino. Show all posts
Showing posts with label Supriadi Legino. Show all posts

Thursday, January 19, 2012

Supriadi dan Agus Darmadi diantara Sudomo dan Imaduddin

Kisah ini sekedar  nostalgia paska revolusi 1978 di kampus ITB yang  ingin saya ceritakan sebelum  rekaman dalam memori saya semakin banyak yang tergerus karena usia. Saya kira tidak banyak orang ITB yang mengetahui sempalan kehidupan kampus ini selain para pelaku yaitu saya dan Agus Darmadi dari ITb EL 74,  Dr. KT Ing Sirait yang Kajur Elektro, Dr. Sudjana Sapiie yang ketua Rektorium waktu itu, Almarhum yang kita cintai Prof. Dr. Doddy Tisna Amijaya yang saat itu menjabat Dirjen Dikti, Pangkopkamtib Sudomo, almarhum bang Imad sendiri beserta istri beliau. Bahkan mungkin para pelakunya sendiri sudah lupa atas kisah yang tersisih ini.

Pagi itu saya yang sekretaris umum HME sedang merapikan berbagai dokumen dan peralatan himpunan yang  terasa masih semrawut  setelah digunakan untuk perjuangan melawan tirani yang walaupun gagal secara fisik pada saat itu tapi secara moral berhasil menggulingkan tirani orde baru melalui reformasi dua puluh tahun kemudian.   Satu unit televisi 14 inci merk Sanyo dan sebuah gitar Hoffner  yang saya bawa dari rumah untuk hiburan teman-teman yang piket siaga ketika itu baru hari ini rencananya akan saya bawa pulang karena anak-anak elektro sudah mulai kuliah lagi setelah dicabutnya aksi mogok  sebulan yang lalu.

Nampaknya perjuangan anak-anak itb untuk sementara sudah selesai, teman-teman yang sempat ditahan baik yang diciduk tibum maupun yang disortir di kampus sudah semuanya dibebaskan kecuali mereka yang harus disidangkan karena memproklamirkan DPRS seperti Al Hilal, Ramses, Indro Cahyono, dan sisanya saya lupa. Saya sendiri secara mujur tidak ditahan walaupun kepergok membawa notulen rapat siaga karena yang mensortir saya di kampus kebetulan anggota RPKADyang pro mahasiswa, dan ketika aksi lempar poster di pohon saya selamat dari kejaran Tibum  karena berkat Vespa sakti saya sempat menyelinap ke Jalan Merdeka Lio setalah balapan dengan mobil tibum di Wastu Kencana. Nggak percuma saya kan anak Bandung yang hapal liku-liku sampai gang-gang dan branhang di kota Kembang tempat lahirku . Saya termasuk orang yang beruntung bisa mengalami langsung dua kali penyerbuan kampus, yang pertama kampus diduduki secara santun oleh pasukan Siliwangi yang menganggap mahasiswa ITB sebagai sedulur, dan yang kedua penyerbuan brutal karena konon dilakukan oleh pentol korek yang baru pulang dan selamat dari pembantaian di Timor Timur, wallahu alam.

Saya sempat merinding bila teringat bahwa saking emosinya melihat cewek itb anak 75 pujaan saya  (beraninya dalam hati saja sih) kena tendang sepatu lars hampir saja keluar penyakit nekat saya untuk menggelindingkan kapasitor yang telah saya isi tegangan tinggi 300 ribu volt (mentang mentang asisten lab tegangqan tinggi) ke tengah tengah para budugul cepak yang tidak punya perasaan itu. Kecolek sedikit saja kapasitor itu, prajurit-prajurit pentol korek itu dijamin garing. Untung saja kunci laboratoriumnya ketinggalan di bagasi Vespa yang diparkir jauh di halaman HME, sehingga tragedi besar tersebut tidak terjadi.

Lepas dari lamunan tersebut saya mulai membuka lagi ketikan skripsi yang sempat saya tinggalkan selama revolusi berlangsung. Ternyata saya harus beli tip-ex karena masih banyak salah ketik dan terjemahan bebas yang kurang pas, padahal besok hari saya sudah buat janji untuk konsultasi dengan pembimbing utama yaitu pak Sirait. Teringat akan dosen pembimbing, tiba-tiba muncul dalam benak saya nama Imaduddin sebagai salah satu dosen senior yang lebih dari satu tahun statusnya masih dalam tahanan Kopkamtib padahal seluruh tahanan ITB lainnya sudah dibebaskan atau di vonis di pengadilan. Rasa tanggung jawab sebagai pimpinan mahasiswa elektro mendorong saya untuk membicarakan cara pembebasan bang Imad ini kepada pak Sirait sebagai Ketua Jurusan Elektro, mumpung ada  kesempatan ketemu beliau sambil konsultasi skripsi. Alih-alih membahas skripsi saya, pak Sirait justru tertarik dengan permohonan saya untuk membantu pembebasan bang Imad, saya bilang kasihan pak teman-teman saya yang dibimbing beliau akan terkatung-katung studinya. Tanpa menunggu lama pak Sirait menelpon rektorium dan Dr. Sudjana Sapiie yang dikenal dengan pak John sebagai ketua rektorium merangkap teman berdebatnya bang Imad langsung merespons dan meminta kita untuk membicarakan hal ini di kantor biro rector.

Kebetulan saya ketemu Agus Darmadi yang kelihatan tersenyum, mungkin habis menang karambol, dan mengajak dia untuk mengatur rencana pembebasan bang Imad ini. Singkat kata pak John, dengan gaya Amriknya, kaki di atas kursi, langsung menelepon pak Doddy Tisna yang dia bilang sebagai satu dari sedikit orang yang disegani oleh pak Sudomo. Di luar dugaan kami, ternyata Pak Doddy sangat antusias dan merespons sangat cepat untuk membantu pembebasan bang Imad ini, apalagi katanya idenya datang dari mahasiswa. Kami ditunggu di rumah beliau keesokan hari setelah magrib. Esok paginya, kita berangkat dan saya kebetulan diajak naik sedan built up bikinan Amrik yang dilengkapi dengan selimut otomatis punya pak John. Dan saya mendapat kehormatan duduk di samping beliau sekalian ngobrolin strategi apa yang akan kita gunakan menghadapi Sudomo. Saya usul sebaiknya bapak bapak sampaikan maksud untuk mengantarkan mahasiswa yang ingin menolong kawan-kawannya yang sekolahnya tertunda karena pembimbing skripsinya sudah lama ditahan. Pak John setuju, dan karena janjian dengan pak Doddy setelah magrib, kami punya cukup waktu untuk singgah dulu di RM Simpang Raya Puncak untuk menyantap ayam pop dan rendang paru yang nikmat sekali terutama karena ditraktir oleh Rektor ITB.

Sebelum melanjutkan cerita pembebasan bang Imad, saya mencoba menguras memori saya untuk mengingat cirri-ciri unik dari para karakter dalam kisah ini sebagai berikut

………Doktor lulusan Amrik yang ngajar analisa sistim tenaga ini merupakan dosen kebanggaan anak-anak elektro 74 walaupun lebih dari 90 % jadwal kuliahnya ngaco karena dia sering travelling sehingga kuliahnya sering dirapel pada hari Sabtu dari pagi sampai sore, dan bahan kuliahnya tulisan tangan sendiri (belum ada laptop boo) yang dibuat di pesawat katanya. Ciri khas pak John yang anak Pangalengan tapi istrinya bule ini, kalau ngajar kakinya lebih banyak di atas meja daripada di lantai, mungkin ini yang membuat anak-anak semangat walaupun 3 malam nggak tidur karena harus menyelesaikan iterasi yang nggak kunjung mengerucut (maklum saat itu Cuma kalkulator hp saya saja sudah termasuk yang paling top).saat ini Dr. Sudjana Sapiie mengajar di ITB dan masih segar dan sehat, data yang bagus-bagusnya tentang beliau silakan google aja ya……

Prof. Dr. D.A. Tisnaamijaya menurut saya adalah satu-satunya Rektor ITB sementara yang lainnya hanya menggantikan beliau. Sosok pak Doddy yang tegas bercahaya tapi tetap menunjukkan ciri “orang Sunda yang santun” membuat beliau disegani kawan maupun lawan dan layak dijadikan panutan anak itb sepanjang masa. Saya bangga karena ijazah itb saya ditanda tangani beliau walaupun saat itu pak Doddy sudah tidak di itb lagi. Pak Doddy yang dalam kisah ini menjabat dirjen dikti merupakan karakter kunci dalam proses pembebasan bang Imad.

Kalau ngajar, jagoan petir dan proteksi ini lebih banyak ngobrol sendiri dengan papan tulis, tapi anak-anak elektro juga boleh bangga sama doctor lulusan Jerman ini. Dr. Ing. KT Sirait termasuk satu diantara sedikit pakar tegangan tinggi yang ada di Indonesia saat itu. Apalagi beliau adalah pembimbing utama skripsi saya walaupun waktu sidang dia yang menghajar saya sehingga harus ada perbaikan (belakangan dia minta maaf karena dia tidak sempat membaca detail skripsi saya yang memilih outlier case, dasar supriadi senangnya cari penyakit). Dalam kisah ini pak Sirait yang waktu itu Ketua Jurusan Elektro merupakan pembuka jalan dalam proses pembebasan bang Imad. Seperti kebanyakan alumni itb yang pembosan di profesinya, pak Sirait saat ini menjadi staf ahli di DPR setelah sempat menjadi wakil rakyat mewakili Partai Damai Sejahtera.

Agus Darmadi, anak itb 74 yang satu ini merupakan salah satu sosok unik dari species elektro. Walaupun badannya nyaris kaki semua (Nyuwun sembah pangapunten injih den Agus) dan gayanya yang dingin tapi anak Semarang ini sering menjadi andalan untuk bikin PR karena ditunjang keenceran otaknya yang di atas rata-rata. Yang saya selalu ingat adalah keberanian AD yang rajin bikin tulisan di Papeng (papan pengumuman) HME dan menyebut dirinya sebagai PKI (penulis karangan ini). Selepas itb Agus seperti saya bekerja di PLN karena terjebak ikatan dinas 30 ribu rupiah yang saat itu bisa untuk nraktir 10 orang di sate hadori dan goreng jeroan di Ponyo . Saya hanya ingat bahwa hanya Agus sendiri yang menemani saya dalam usaha pembebasan bang Imad ini, tapi otak bapak Satar saya yang sudah dumb ini tidak berhasil mengorek memori, bagaimana asal usul Agus Darmadi ikut dalam cerita ini. Mungkin lebih baik Agus sendiri nanti yang sharing di Milis yaa….

Sudomo, sebagai panglima Kopkamtib waktu itu, Jendral bermuka ramah tap ber hati dingin ini bisa diibaratkan sebagai Giam Lo Ongnya (dewa pencabut nyawa) orde baru yang setiap saat bisa memerintahkan Hek Pek Moko, iblis kembar hitam putih dengan penggebuk Tok Kak Tong Jin nya untuk menghabisi siapa saja yang dianggap menghalangi kerajaan orde baru. Walaupun saat itu saya sangat benci pada kedzaliman baju hijau, tapi secara pribadi saya respek sama Sudomo, kenapa? Berkat perkenan dialah saya sama Herdi Waluyo (El itb 74) berhasil mendapatkan sumbangan pemerintah untuk menyelesaikan mosaic putih menara Salman yang berdiri tegar sampai saat ini…………

Supriadi (waktu itu nggak pakai Legino)…. Naah kalau karakter yang ini saya kenal baik, maklum hampir semua sifat dia luar dalam mirip banget sama saya. Cuma bedanya dengan Supriadi, saya seperti Yan Satar Kuryana kepalanya bolenang sementara Supriadi lebih kurusan dan rambutnya tebal dan panjang dan sedikit ikal di bahu. Tapi jauh lumayan daripada kayak Rawono Sosrodimulyo, anak Cepu yang setiap hari perlu “ngeblow rambutnya pakai sisir alumunium yang diikat di solderan (catok.com). Salah satu kebanggaan EL 74 adalah Dedi Dhores mirip Supriadi dan Rawono mirip Edi S. Tonga.

Strength: Dia adalah anak ITB 74 !!

Weaknesses: banyak sekali! Yang jelas dia rajanya ngantuk (paling tidak dua kali dibangunkan dosen waktu kuliah di Amerika dan sekali nabrak oplet masuk selokan di Sicincin Padang). Dia juga sensornya suka eror kebalik atau rada suka cari penyakit; orang masuk SMA 3 Bandung yang ngetop dia malah masuk SMA I yang biang jojing, disarankan psychotest masuk arsitek malah pindah elektro sampai nyaris pindah ke ITT karena frustasi dengan teori medan sementara melihat temennya pinter-pinter seperti HGS, waktu masuk PLN orang rebutan di Jawa dia malah minta di Maninjau (alasannya pengen naik kapal terbang gratis).

Profil asmara remaja supriadi agak amburadul; kalau lagi ada yang dikecengin noraknya keluar (misalnya pernah waktu naksir anak TP dia pakai celana putih cutbray dan baju batik safari dengan bross serenceng peniti dan jarum pentul dilengkapi dengan sepatu putih hak 15 cm). Anehnya semakin dia ngebet sama cewek malah semakin jutek sama si cewek, kalau mau PDKT dating ke rumah cewek malah bersyukur kalau ceweknya nggak di rumah. Pernah pacaran sekali dan kapok karena rugi waktu katanya, dan memilih lebih suka bergerombolan sama batangan.com sebangsanya si Ujang Kusmayadi dan Rawono Silitonga. Tapi menuruk kisah yang lain dikabarkan akhir kisah cintanya berakhir bahagia karena mendapatkan anak ASMI kelahiran Cianjur yang mengerti bahwa dibalik kelakuannya yang judes norak terkandung kasih saying yang sejati sama wanita.

Anda puas sampaikan pada teman, anda kecewa sampaikan kepada kami, itulah semboyan Simpang Raya Cipanas yang baru saja kami tinggalkan setelah ditraktir pak John yang katanya lama di Amrik tapi ternyata makannya banyak hehejoan (daun singkong). Mobil meluncur melewati Puncak Pass dan menurun kembali menuju arah Cipayung di tengah perkebunan the dan hawa yang segar, sesegar harapan untuk dapat membebaskan bang Imad, guru dan tokoh yang saya hormati. Semakin dekat dengan kota Jakarta lepas dari tol (tambah ongkos lancar) jagorawi entah kenapa perasaan saya semakin tegang, maklum akan bertemu dengan Sudomo yang pastinya tahu persis apa yang terjadi di kampus ITB waktu itu. Walaupun saya sama Agus sudah siap dengan strategi untuk berbicara dengan Sudomo dan tentunya bakal diback-up juga oleh para Lo Cian Pwe ITB, tetap saja ngeri menghadapi Giam Lo Ong nya Indonesia itu. Akhirnya sampailah kita di kantor Dirjen Pendidikan Tinggi dan menemui kenyataan bahwa ada sedikit kendala dalam renana kita. Menurut staf Dirjen Dikti, pak Doddy ternyata minta kita untuk menemuinya setelah magrib di rumah dinas beliau karena konon kabarnya Sudomo tidak bisa ditemui di kantornya siang ini. Kondisi ini membuat saya semakin stress karena tiba-tiba bermunculan berbagai kekhawatiran di benak saya, mulai dari kemungkinan bang Imad harus menjalani dulu persidangan sampai ketakutan bahwa tindakan kita justru membuat Sudomo semakin alergi dan mengkucilkan bang Imad ke penjara yang lebih jauh dan sulit dijenguk. Walaupun lebih dari setahun ditahan, memang setahu saya bang Imad belum pernah diproses secara hukum apalagi sampai di pengadilan. Langkah pamungkas yang bisa saya lakukan adalah berdoa dan akhirnya menenangkan diri dengan keyakinan bahwa pak Doddy yang disegani pak Domo tentunya akan mendapat jalan terbaik.

Kegundahanku mulai sirna setelah kami masing-masing disuguhi secangkir kopi susu di rumah pak Doddy yang menyambut kami dengan wajah bersinar dan senyum khasnya yang memberikan ketenangan. Pak Domo menunggu kita di rumahnya, sekarang juga!!! Serempak kami segera meneguk habis kopi dalam cangkir dan sigap berdiri untuk memasuki kendaraan menuju rumah Pangkopkamtib, Giam Lo Ong yang ditakuti semua orang Indonesia.....dan diluar dugaan, ternyata pak Domo sendiri menyambut kami di depan pintu rumahnya sehingga kami terhindar dari remeh temeh penjagaan militer. Siapa sangka Giam Lo Ong itu ternyata mengumbar tawa dan senyum dan tanpa basa-basi langsung berujar kepada saya dan Agus Darmadi: Nah begitu dong kalau jadi mahasiswa!! Berani membela dosennya, kapan mau dijemput? Tapi ya jangan malam ini, kan Imaduddin seneng baca mustinya perlu beres-beres buku-bukunya yang sa abreg, wong sudah setahun di sana….Haa?? semudah itukah???

Ya Tuhan betulkah apa yang kami dengar ini? Saya terbengong-bengong khawatir kalau-kalau pak Domo itu main-main, sampai akhirnya saya melirik pak Doddy hanya tersenyum, senyum seorang ayah yang bahagia melihat anak-anaknya mendapatkan hadiah yang diimpikannya. Terima kasih ya Allah, Engkau mengabulkan doa kami, karena kami tahu persis bahwa bang Imad tidak mungkin terkait dengan komando jihad, yang menurut rumor merupakan alasan kenapa dia ditahan. Justru dalam berbagai kesempatan bang Imad menyayangkan adanya oknum muslim yang berpikiran sempit seperti mereka, bahkan dalam kegiatan mahasiswa melawan Suharto juga bang Imad berkali-kali menyuruh kita agar tetap berhati-hati untuk tidak bertindak anarkis. Melihat muka kami yang disaluti tanda-tanya, Sudomo menegaskan lebih lanjut bahwa bang Imad bersih sudah tidak perlu ditahan lebih lanjut. Pak John akhirnya mengangguk-ngangguk sementara pak Sirait dengan gaya batak solonya menanyakan: jadi tidak akan ada proses pengadilan untuk Imaduddin? Pak Domo dengan tertawa berkata: Nggak perlu !! wong dia nggak ada apa-apa koq, dia sudah bisa ngajar lagi kapan saja dan bilang sama kawan-kawan kamu (sambil memandang saya dan Agus) beresin skripsinya, cepetan lulus kasian orang tua yang telah keluar biaya untuk ongkos kuliah kalian.

Akhirnya pak John memutuskan bahwa kita akan menjemput bang Imad lusa dan akan segera memberitahu istri setia beliau untuk bersama-sama lusa pagi………….

Tibalah hari bahagia itu, bang Imad akhirnya bebas………….di Puncak dia sempat minta berhenti sebentar dan menyambar kamera Leicaflex nya untuk mengabadikan warna-warni Gantole yang terbang bebas di angkasa perkebunan teh Gunung Mas ….Bang Imad sering bilang bahwa kenapa manusia lebih tinggi di mata Allah dibandingkan makhluk lainnya? Kebebasan………….

Dua puluh tahun lamanya setelah kebebasan beliau saya tidak bertemu dengan bang Imad, karena saya mendengar beliau mendapatkan musibah penyakit yang menyerang otaknya yang konon membuat dia menangis sedih karena surat Al Fatihah saja dia gagal mengingatnya, padahal biasanya seluruh ayat dalam Al Qur’an beserta maknanya dia hapal. Sampai suatu ketika di tahun 98, Yusuf Miran, El 78 yang kebetulan menjadi kepala bagian di PLN proyek yang saya pimpin, membawa bang Imad ke ruang kerja saya untuk mengisi acara Isra Mi’raj di mesjid PLN. Selesai acara bang Imad bercerita bagaimana nyawanya diselamatkan Allah SWT setelah hampir semua dokter terbaik termasuk ahli otak di Jerman menyerah dan mengatakan bahwa penyakit bang Imad tidak mungkin disembuhkan. Bang Imad melanjutkan ceritanya setelah acara bahwa suatu hari tetangganya mengajak beliau untuk mencoba berobat kepada Nurul Yakin, mantan perawat di RS M Jamil Padang yang memperoleh berkah kepandaian untuk mengobati penyakit setelah dia sendir nyaris kehilangan nyawanya karena penyakitnya yang tak tersembuhkan. Awalnya dia sempat memaki-memaki Uun, panggilan Nurul Yaqin sebagai musyrik dan ngotot tidak mau mengikuti prosesi penyembuhan sampai akhirnya bang Imad mau mengikuti shalat Tahajud yang merupakan ritual utama model penyembuhan Uun yang berpraktek di sekitar Taman Galaxy, Bekasi Barat.

Singkat kata, akhirnya bang Imad berhasil disembuhkan dalam waktu singkat dan kembali bisa berdakwah termasuk memberikan ceramah pada setiap ritual meditasi bersama Uun yang pernah saya ikuti juga di Cipayung Puncak. Bang Imad berbisik lirih kepada saya bahwa apa yang dilakukan Uun adalah prinsip pengobatan yang digunakan Ibnu Sina yang mendiagnosa penyakit dengan prisma untuk melihat keseimbangan tubuh kita dari spectrum warna yang dipancarkan lewat aura kita. Uun sempat berbisik kepada saya bahwa bang Imad memiliki aura bersinar keemasan, tingkat tertinggi yang menyebabkan penyakit beliau bisa sembuh dalam waktu relative singkat.

…….Berita itu saya terima dari bang Ikhwan Iskak, El 71, sepuluh tahun kemudian……….bang Imad menemui sang Khalik di rumahnya di bilangan Klender tanpa adanya gelegar berita…….Kedahsyatan dakwahnya yang bertekad melahirkan kader-kader untuk membela keadilan dan kebebasan manusia, ternyata tidak banyak menggerakkan hati para muridnya yang sebagian bahkan telah mencapai puncak karir di negri ini, seperti mentri???……Don’t worry, Allah lah yang tidak mungkin meninggalkan abang yang luar biasa ini…………..

Banda Aceh, 17 Januari 2012
YSL

(Ternyata mencari dokumentasi foto Jend. Sudomo saat Pangkopkamtib sulit ya ...)





Monday, January 16, 2012

Lanjutan kisah pembebasan bang Imad (Imaduddin Abdulrohim) bagian ke 3

agungeka@yahoo.com

To: ITB74@yahoogroups.com

Teman teman,

Ingin menambahkan; peristiwa 1978 dan Buku Putih pernah kita tayangkan
di milis ITB74 pada bulan February 2009 mulai thread 24525. Semoga informasi
disana bisa digabungkan dengan informasi baru yang kita tulis thn 2012 ini.
Diakhir tulisan ini, saya kopas kesan saya yang saya tulis waktu itu akan peristiwa
1978 itu.

Entah kebetulan entah ada yang mengatur, hari Sabtu tgl 14 Januari kemarin
saya bertandang ke sesepuh ex alumni ITB untuk bernostalgia. Beliau lulusan
jurusan arsitektur ITB - mungkin angkatan 50-an karena usia beliau sudah 82 tahun.
Lulusan Harvard awal thn 60-an sebelum G30S PKI meletus dan pernah menjadi
dosen ITB, yang kemudian menduduki posisi sangat tinggi dibidang perencanaan
di Citicorp Headquarter di NYC.

Kita berbincang bab peranan ITB, Soekarno s/d kondisi ITB sekarang ini dari kaca
mata beliau yang baru saja menengok kampus thn 2010 kemarin. Ternyata bukan
hanya Malari (1974) dan Buku Putih (1978) saja ITB di"permak" oleh Suharto.
Beliau menyebutkan beberapa orang nama dosen ... apakah saya pernah mendengar
nya?. Dia menguraikan cerita ... apakah saya pernah mendengarnya? Saya jawab
belum. Dari beliau saya terhenyak karena banyak sekali kekejaman yang dilakukan
rezim Suharto yang dikubur dan kita tidak tahu. Ternyata banyak sekali dosen
ITB yang brillian yang "lenyap" jaman pergoalakan G30S PKI. Dia bilang, ITB
sebetulnya kehilangan asset luar biasa, karena mereka yang hilang itu cream
of the cream nya ITB waktu itu. Seperti yang saya maklumi setelah sekian lama
hidup merantau di Amrik, biasanya orang orang top-markotop seperti ini (baik
di Amrik, Eropa, dan Asia) alirannya adalah humanist-sosialist dan sering dicap
kiri (sosialisme di Amrik kan nyaris disamakan dengan komunis - paling tidak
dianggap ekstrim kiri dan NO-NO-NO di kacamata masyarakat kapitalis Amrik).
Mereka yang lenyap bahkan banyak yang lulus dari Amrik sendiri.

Dengan mata berkaca-kaca ... saya tergagap .... menceritakan pengalaman
dari mata kepala sendiri ... bagaimana manusia berdiri berjejer disumur tua
rumahku membasuh darah dan mencuci luka korban penyiksaan RPKAD.
Hari demi hari, minggu demi minggu , bulan berganti bulan ... wajah wajah
baru berdatangan, pria dan wanita yang bersimbah darah, kepala yang tanpa
bentuk ... masih terbayang baju dan celana yang lusuh wajah yang pucat
ketakutan seperti mayat ... mereka berjajar bagaikan jeruji jeruji besi ... diam
dan kelu. Seorang anak umur 11 tahun, adik-adiknya serta teman temannya
... mereka mengenal kebiadaban anak negeri ini.

Semoga tidak terulang lagi.

salam

*******************************************************************
Re: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.


Teman teman,

Mata saya masih berkaca kaca kalau mengingat peristiwa itu. Saya waktu itu
masih dosen muda dan masih jabrig sepanjang bahu. Pada waktu tentara
masuk kampus saya bersama teman-teman di Jalan Ganesa, dimuka Salman
menghadang tentara. Dan kita kemudian buyar, maklum mereka memakai
mobil dengan kawat berduri dimukanya.

Sewaktu kampus diduduki selama enam bulan, hanya dosen yang boleh
masuk. Saya waktu itu masuk kampus dengan kartu dosen (KTP ku sudah
diganti pula sebagai dosen tahun 1977 - jadi konsisten). Saya lupa persisnya
kapan saya masuk kampus setelah pendudukan. Tetapi semua teringat
jelas sekali.

Saya melihat kampus sepi sekali - lengang. Daun daun kering dimana-mana,
sampah dan kertas berserakan, beberapa kaca terutama di student center
pecah. Lengang amat lengang. Di tengah kampus rasanya seperti ditengah
kuburan (kuburan masih lebih ramai) ... teman teman mudah-mudahan bisa
membayangkan yang saya saksikan dan rasakan waktu itu.

Kemudian saya masuk keruang kerjaku di departemen ... debu dimana-mana.
Meja, kursi, kertas riset dan persiapan kuliah tertutup debu. Saya
sempatkan duduk dikursi rotan ... tidak ada siapa-siapa ... saya tatap
tembok tembok. Saya berdiri dan menuju jendela kaca yang kusam ...
lengang teramat lengang ... kepalaku kusandarkan dikaca jendela,
tanganku berpegangan pada bingkai jendela dan aku menangis disitu.

Sangat pedih ... saya sampai sekarang masih bertanya "mengapa
kita semua harus melewati saat saat gelap seperti itu dalam hidup
kita yang singkat ini".

Salam




From: Robert delinom
Subject: Re: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.
To: ITB74@yahoogroups.com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 1:15 AM

Agung,

Terimakasih untuk mengingatkan kembali peristiwa 31 tahun yang lalu. Saya juga jadi ingat betapa dulu ikut merasakan dinginnya Jalan Jawa 13. Saya, Damai, Dede Tresnahadi, Harry Rahaedjo (GL 74), Denny dan Suriadarma (GL 75)m serta Widiatma (GL 76) ikut terjaring ketika sedang rapat di Sekeloa dan waktu itu kampus kita sudah dipenuhi tentara. Teman2 kita di GL menyebut kita, 7 Pendekar Bloon karena tidak lari ketika markas diserang. Waktu itu takut juga kalau ketembak, euy. Damai sebenarnya lebih bloon lagi. Saat ditangkap sebenarnya cuma berlima, tidak termasuk Damai dan Widiatma. Mereka ikut ditangkap ketika mereka datang kemudian dan ditanya, apakah anda teman mereka ini? Salah satu intel yang galak pasang aksi. Saya, Harry, Dede, Surya dan Deni sudah diam saja, dengan harapan mereka segera pergi dan pura2 tidak kenal. Eh, malah Damai menjawan, iya. Ayo, kamu ikut bergabung. Akhirnya, jadi deh 7 Pendekar Bloon. rasanya lebih sebulan kita disana. Ada Ramles Manampang (MS 75?) dan Komaruddin (Biologi 68?) dan yang lainnya. Ada juga beberapa tahanan G 30 S. Lumayan juga pengalaman disana.

RD

--- On Tue, 2/17/09, agung hertanto wrote:
From: agung hertanto
Subject: [ITB74] Semoga Tidak Lupa Sejarah.
To: "ITB74"
Date: Tuesday, February 17, 2009, 10:57 AM

Teman Teman,

Mari kita tundukkan kepala sebentar. Semoga kita tidak lupa sejarah.

salam
************ ********* *******
Penyerbuan Militer ke Kampus ITB 1978
Mengapa Kalian Begitu Pengecut?


Oleh
Daud Sinjal

JAKARTA – PAGI hari 13 Februari 1978, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Iskandar Alisyahbana mendatangi rumah Panglima Kodam Siliwangi di Jl. Wastukencana, Bandung. Ia ingin menuntut penjelasan sekaligus tanggung jawab atas perbuatan pengecut yang diyakininya dilakukan tentara.
Rumahnya, semalam, diberondong tembakan senapan mesin membabi buta. Sejumlah peluru menerabas sampai ke kamar tidur anaknya. ”Hoe kunnen jullie zo laf zijn (mengapa kalian bisa begitu pengecut?)”, katanya begitu bertemu Panglima, Mayjen TNI Himawan Soetanto.
Panglima Siliwangi menyatakan sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti motif penembakan tersebut. Kepada Alisyahbana, ia menegaskan, ”Keuntungan apa yang saya dapat? Sebaliknya perbuatan itu malah merugikan dan mencoreng kehormatan saya dan Siliwangi”.
Peristiwa penembakan rumah Rektor ITB di Jl. Sulanjana, Bandung adalah bagian dari tindakan kalap penguasa yang sudah tidak bisa lagi mentolerir gerakan ”inkonstitusional yang merongrong kewibawaan kepemimpinan nasional, yang menjurus penggagalan SU MPR 1978, mengancam kelangsungan pembangunan nasional, kestabilan dan keutuhan bangsa”.
Gerakan mahasiswa sudah bersemi sejak pertengahan 1977, yang diwujudkan dalam demonstrasi, arak-arakan, diskusi, DPR Jalanan, penyebaran pamflet, serta pemasangan poster dan spanduk. Hampir seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta bangkit bersuara. Tapi pusat kegiatannya adalah di Bandung, tepatnya di ITB.
Di kampus ITB, 24–27 Oktober 1977, diselenggarakan pertemuan 68 senat dan dewan mahasiswa se-Indonesia. Mereka mencetuskan Ikrar Mahasiswa Indonesia yang isinya mendesak MPR menggelar sidang istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden RI tentang penyelewengan- penyelewengan dalam pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila.

Operasi Kilat
Memasuki Januari 1978, gerakan mahasiswa makin bergelora. Pada 14 Januari, ITB menerbitkan Buku Putih, dan 16 Januari menggelar apel kesiapsiagaan yang diikuti sekitar 3.000 mahasiswa dan dihadiri oleh rektor.

Di sini dibacakan sikap mahasiswa ITB yang ”tidak mempercayai dan tidak menginginkan Soeharto kembali sebagai Presiden RI”.
Sehari setelah apel ITB, Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) bertekad menghentikan gerakan mahasiswa dan merancang operasi gerak cepat dan bersifat ”shock treatment”. Pernyataan mahasiswa ITB juga dianggap menantang pernyataan ABRI (ditandatangani Menhankam/Pangab, Wapangab, para kepala staf angkatan dan Kapolri) tepat sebulan sebelumnya yang ”akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang akan merongrong kewibawaan kepemimpinan nasional”.
Operasi gerak cepat ini dilancarkan 18 Januari dan dinamai ”Operasi Kilat”. Pokok-pokoknya adalah: menangkap semua pimpinan dewan dan senat mahasiswa yang menandatangani ”Ikrar Mahasiswa 28 Oktober 1977”, ”black out” kampus dari media massa dan memberangus untuk sementara koran-koran yang ”mengipasi” (antara lain Sinar Harapan, Kompas, Merdeka).
Kemudian, masuk ke kampus-kampus untuk menindak rapat-rapat dan poster-poster. Menindak tegas Pati ABRI yang memberi angin. Membantu rektor untuk berani menjatuhkan sanksi akademis terhadap mereka yang terlibat gerakan.
Fokus operasi adalah Bandung, khususnya ITB. Ke sana dikerahkan pasukan berkekuatan 2.000 personel, terbagi dalam 12 satuan setingkat kompi. Pada 20 Januari mulai dilakukan penangkapan- penangkapan dan dini hari 1 Februari, tentara masuk menertibkan kampus-kampus.
Operasi Kilat di Jawa Barat menangkap 98 aktivis mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpar, IPB, Unisba, IKIP Bandung, dll. Namun kendati pimpinan mahasiswa sudah ditangkap atau buronan (Rizal Ramli dan Al Hilal Hamdi baru ketangkap tiga bulan kemudian), kegiatan perlawanan di Kampus ITB (aksi mogok kuliah dan agitasi radio) terus berlangsung.
Kampus itu malah dijadikan tempat konsentrasi, bukan saja oleh mahasiswa ITB, tapi juga mahasiswa perguruan tinggi lain. Maka pada Kamis, 9 Februari, khusus pada ITB dilancarkan penyerbuan, kali ini dengan cara bengis yang menyebabkan delapan mahasiswa dan pelajar luka-luka. Kampus ITB diduduki tentara.
Setelah pendudukan militer itu, Rektor ITB Iskandar Alisyahbana masih membentuk Dewan Pemulihan yang diketuainya sendiri, padahal Jakarta menghendaki dia diganti, serta Menteri P dan K telah mengirim Dirjen Perguruan Tinggi Prof. Dody Tisnaamijaya, untuk menormalkan ITB.
Lagipula, Alisyahbana harus dicegah kehadirannya pada rapat kerja rektor se-Indonesia yang akan dibuka presiden 14 Februari.
Pak Harto jangan sampai bertatap muka dengan sang rektor yang telah membiarkan mahasiswa dan kampusnya menyinggung kehormatannya sebagai kepala negara. Rumah sang rektor diberondong tembakan, itulah salah satu isyarat keras dia harus mundur. Tanggal 16 Februari, Alisyahbana menyerahkan jabatannya kepada rektorium ITB yang diketuai Prof. Soedjana Sapi’ie.

”Strategy of Indirect Approach”
Panglima Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto mengatakan bahwa pasukan yang menyerbu ITB 9 Februari itu bukanlah kesatuan organik Kodam Siliwangi. Dan ketika penyerbuan brutal itu terjadi, ia sedang berada di Cirebon. Penembakan rumah rektor—berdasarkan pengakuan—juga oleh oknum dari luar Siliwangi.
Sejak semula Himawan merasa tidak perlu melakukan tindakan militer terhadap gerakan mahasiswa. Dalam pengarahannya kepada jajaran Kodam Siliwangi dan ABRI se-Garnisun Bandung-Cimahi dan juga di depan rapat pimpinan Golkar Jawa Barat serta Angkatan Muda Siliwangi, Panglima menggariskan strategi pendekatan tidak langsung.
Ia adalah penganut ajaran Liddle Hart, strategy of indirect approach. Dalam briefing semenjak Oktober 1977 sampai Januari 1978, berulangkali ia menguraikan siasat tersebut, yakni ”pengikatan” gerakan mahasiswa dalam lingkungannya sendiri agar tidak link-up dengan masyarakat luas.
Pendekatan ke tokoh masyarakat, partai politik, alim-ulama untuk membentuk basis massa yang kebal dari pengaruh agitasi mahasiswa (dan kelompok pressure group lainnya). Terhadap mahasiswa sendiri diadakan pendekatan dan dicegah turun ke jalan.
Kekerasan militer haruslah benar-benar sebagai last resort, karena dikhawatirkan akan merusak kepercayaan pada Siliwangi sebagai tentara rakyatnya Jawa Barat. Dan memulihkannya tidak cukup satu-dua generasi. Tapi sikap Himawan Soetanto itu oleh Jakarta dianggap sebagai keraguan, bahkan insubordinasi.
Maka bertepatan dengan pelaksanaan Operasi Kilat, Kopkamtib menurunkan Panglima Kowilhan II Jawa Letjen Wijoyo Suyono ke Bandung. Namun, Laksus Kopkamtib Wilayah Jawa-Nusa Tenggara itu memilih bermarkas di Batujajar. Belakangan, ia mengatakan menjalankan perintah atasan, tapi percaya Himawan Soetanto tahu apa yang sebaiknya ia perbuat.
Rabu pagi, 20 Februari 2008, para eksponen gerakan mahasiswa ITB 1977-1978 akan memperingati peristiwa 30 tahun lalu itu dengan diskusi dan pameran foto di Gedung Usmar Ismail, Jl. Rasuna Said. Para eks tawanan Operasi Kilat tersebut antara lain Rizal Ramli, Al Hilal Hamdi, Heri Akhmadi, Moh. Iqbal, Indro Tjahyono. n







Copyright © Sinar Harapan 2003

Lanjutan kisah pembebasan bang Imad (Imaduddin Abdulrohim)

Re: [ITB74] Saya, Agus Darmadi, diantara Sudomo dan Imaduddin JILID 2Monday, January 16, 2012 3:03 PM
From: "Supriadi Legino" Add sender to Contacts
To: ITB74@yahoogroups.com

Sebelum melanjutkan cerita pembebasan bang Imad, saya mencoba menguras
memori saya untuk mengingat cirri-ciri unik dari para karakter dalam
kisah ini sebagai berikut

………Doktor lulusan Amrik yang ngajar analisa sistim tenaga ini
merupakan dosen kebanggaan anak-anak elektro 74 walaupun lebih dari 90
% jadwal kuliahnya ngaco karena dia sering travelling sehingga
kuliahnya sering dirapel pada hari Sabtu dari pagi sampai sore, dan
bahan kuliahnya tulisan tangan sendiri (belum ada laptop boo) yang
dibuat di pesawat katanya. Ciri khas pak John yang anak Pangalengan
tapi istrinya bule ini, kalau ngajar kakinya lebih banyak di atas meja
daripada di lantai, mungkin ini yang membuat anak-anak semangat
walaupun 3 malam nggak tidur karena harus menyelesaikan iterasi yang
nggak kunjung mengerucut (maklum saat itu Cuma kalkulator hp saya saja
sudah termasuk yang paling top).saat ini Dr. Sudjana Sapiie mengajar
di ITB dan masih segar dan sehat, data yang bagus-bagusnya tentang
beliau silakan google aja ya……

Prof. Dr. D.A. Tisnaamijaya menurut saya adalah satu-satunya Rektor
ITB sementara yang lainnya hanya menggantikan beliau. Sosok pak Doddy
yang tegas bercahaya tapi tetap menunjukkan ciri “orang Sunda yang
santun” membuat beliau disegani kawan maupun lawan dan layak dijadikan
panutan anak itb sepanjang masa. Saya bangga karena ijazah itb saya
ditanda tangani beliau walaupun saat itu pak Doddy sudah tidak di itb
lagi. Pak Doddy yang dalam kisah ini menjabat dirjen dikti merupakan
karakter kunci dalam proses pembebasan bang Imad.

Kalau ngajar, jagoan petir dan proteksi ini lebih banyak ngobrol
sendiri dengan papan tulis, tapi anak-anak elektro juga boleh bangga
sama doctor lulusan Jerman ini. Dr. Ing. KT Sirait termasuk satu
diantara sedikit pakar tegangan tinggi yang ada di Indonesia saat itu.
Apalagi beliau adalah pembimbing utama skripsi saya walaupun waktu
sidang dia yang menghajar saya sehingga harus ada perbaikan
(belakangan dia minta maaf karena dia tidak sempat membaca detail
skripsi saya yang memilih outlier case, dasar supriadi senangnya cari
penyakit). Dalam kisah ini pak Sirait yang waktu itu Ketua Jurusan
Elektro merupakan pembuka jalan dalam proses pembebasan bang Imad.
Seperti kebanyakan alumni itb yang pembosan di profesinya, pak Sirait
saat ini menjadi staf ahli di DPR setelah sempat menjadi wakil rakyat
mewakili Partai Damai Sejahtera.

Agus Darmadi, anak itb 74 yang satu ini merupakan salah satu sosok
unik dari species elektro. Walaupun badannya nyaris kaki semua
(Nyuwun sembah pangapunten injih den Agus) dan gayanya yang dingin
tapi anak Semarang ini sering menjadi andalan untuk bikin PR karena
ditunjang keenceran otaknya yang di atas rata-rata. Yang saya selalu
ingat adalah keberanian AD yang rajin bikin tulisan di Papeng (papan
pengumuman) HME dan menyebut dirinya sebagai PKI (penulis karangan
ini). Selepas itb Agus seperti saya bekerja di PLN karena terjebak
ikatan dinas 30 ribu rupiah yang saat itu bisa untuk nraktir 10 orang
di sate hadori dan goreng jeroan di Ponyo . Saya hanya ingat bahwa
hanya Agus sendiri yang menemani saya dalam usaha pembebasan bang Imad
ini, tapi otak bapak Satar saya yang sudah dumb ini tidak berhasil

mengorek memori, bagaimana asal usul Agus Darmadi ikut dalam cerita
ini. Lebih baik Agus sendiri nanti yang sharing di Milis yaa….

Sudomo, sebagai panglima Kopkamtib waktu itu, Jendral bermuka ramah
tap ber hati dingin ini bisa diibaratkan sebagai Giam Lo Ongnya (dewa
pencabut nyawa) orde baru yang setiap saat bisa memerintahkan Hek Pek
Moko, iblis kembar hitam putih dengan penggebuk Tok Kak Tong Jin nya
untuk menghabisi siapa saja yang dianggap menghalangi kerajaan orde
baru. Walaupun saat itu saya sangat benci pada kedzaliman baju hijau,
tapi secara pribadi saya respek sama Sudomo, kenapa? Berkat perkenan
dialah saya sama Herdi Waluyo (El itb 74) berhasil mendapatkan
sumbangan pemerintah untuk menyelesaikan mosaic putih menara Salman
yang berdiri tegar sampai saat ini…………

Supriadi (waktu itu nggak pakai Legino)…. Naah kalau karakter yang
ini saya kenal baik, maklum hampir semua sifat dia luar dalam mirip
banget sama saya. Cuma bedanya dengan Supriadi, saya seperti Yan Satar
Kuryana kepalanya bolenang sementara Supriadi lebih kurusan dan
rambutnya tebal dan panjang dan sedikit ikal di bahu. Tapi jauh
lumayan daripada kayak Rawono Sosrodimulyo, anak Cepu yang setiap hari
perlu “ngeblow rambutnya pakai sisir alumunium yang diikat di solderan
(catok.com). Salah satu kebanggaan EL 74 adalah Dedi Dhores mirip
Supriadi dan Rawono mirip Edi S. Tonga.

Strength:

Supriadi adalah anak ITB 74

Weaknesses

Banyak: yang jelas dia jago molor (paling tidak dua kali dibangunkan
dosen waktu kuliah di Amerika dan sekali nabrak oplet masuk selokan di
Sicincin Padang). Dia juga sensornya suka eror kebalik atau rada suka
cari penyakit; orang masuk SMA 3 Bandung yang ngetop dia malah masuk
SMA I yang biang jojing, disarankan psychotest masuk arsitek malah
pindah elektro sampai nyaris pindah ke ITT karena frustasi dengan
teori medan sementara melihat temennya pinter-pinter seperti HGS,
waktu masuk PLN orang rebutan di Jawa dia malah minta di Maninjau
(alasannya pengen naik kapal terbang gratis), ditawarin jadi direksi
PLN malahan minta sekolah ke Amrik.. ancur deh......

Profil asmara remajanya lebih amburadul lagi; kalau lagi ada yang
dikecengin noraknya keluar (misalnya pernah waktu naksir anak TP dia
pakai celana putih cutbray dan baju batik safari dengan bross
serenceng peniti dan jarum pentul dilengkapi dengan sepatu putih hak
15 cm). Anehnya semakin dia ngebet sama cewek malah semakin jutek sama
si cewek, kalau mau PDKT dating ke rumah cewek malah bersyukur kalau
ceweknya nggak di rumah. Pernah pacaran sekali dan kapok karena rugi
waktu katanya, dan memilih lebih suka bergerombolan sama batangan.com
sebangsanya si Ujang Kusmayadi dan Rawono Silitonga. Tapi menuruk
kisah yang lain dikabarkan akhir kisah cintanya berakhir bahagia
karena Tuhan mempertemukan dia dan menikah dengan anak ASMI kelahiran
Cianjur yang mengerti bahwa dibalik kelakuannya yang judes norak
terkandung kasih saying yang sejati sama wanita. Katanya dia bahagia
banget sampai sekarang dengan istrinya ini
……………

Anda puas sampaikan pada teman, anda kecewa sampaikan kepada kami,
itulah semboyan Simpang Raya Cipanas yang baru saja kami tinggalkan
setelah ditraktir pak John yang katanya lama di Amrik tapi ternyata
makannya banyak hehejoan (daun singkong). Mobil meluncur melewati
Puncak Pass dan menurun kembali menuju arah Cipayung di tengah
perkebunan the dan hawa yang segar, sesegar harapan untuk dapat
membebaskan bang Imad, guru dan tokoh yang saya hormati. Semakin dekat
dengan kota Jakarta lepas dari tol (tambah ongkos lancar) jagorawi
entah kenapa perasaan saya semakin tegang, maklum akan bertemu dengan
Sudomo yang pastinya tahu persis apa yang terjadi di kampus ITB waktu
itu. Walaupun saya sama Agus sudah siap dengan strategi untuk
berbicara dengan Sudomo tentunya diamankan juga oleh paraj Lo Cian Pwe
ITB, tetap saja ngeri menghadapi Giam Lo Ong nya Indonesia itu.
Akhirnya sampailah kita di kantor Dirjen Pendidikan Tinggi dan menemui
kenyataan bahwa ada sedikit kendala dalam renana kita.

Seandainya waktu itu sudah ada HP tentu ceritanya akan lain.

Euleuh euleuh waktosna seep……………hapunten ka para pangiarsa sadaya,
panggilan Boarding sudah menggema saya mau terbang dulu ke Banda Aceh
ya..........................

Sunday, January 15, 2012

Kisah pembebasan Imaduddin Abdurahim dari penjara PANGKOMKAMTIB

From: Supriadi Legino
Sender: ITB74@yahoogroups.com
Date: Sun, 15 Jan 2012 23:09:14 +0700
To:
ReplyTo: ITB74@yahoogroups.com
Subject: [ITB74] Saya, Agus Darmadi, diantara Sudomo dan Imaduddin

Rehat dulu yu!! diskusinya HGS dan para Ustadz agak berat kayaknya.......

Supriadi dan Agus Darmadi diantara Sudomo dan Imaduddin

Kisah ini sekedar nostalgia paska revolusi 1978 di kampus ITB yang ingin saya ceritakan sebelum rekaman dalam memori saya semakin banyak yang tergerus karena usia. Saya kira tidak banyak orang ITB yang mengetahui sempalan kehidupan kampus ini selain para pelaku yaitu saya dan Agus Darmadi dari ITb EL 74, Dr. KT Ing Sirait yang Kajur Elektro, Dr. Sudjana Sapiie yang ketua Rektorium waktu itu, Almarhum yang kita cintai Prof. Dr. Doddy Tisna Amijaya yang saat itu menjabat Dirjen Dikti, Pangkopkamtib Sudomo, almarhum bang Imad sendiri beserta istri beliau. Bahkan mungkin para pelakunya sendiri sudah lupa atas kisah yang tersisih ini.

Pagi itu saya yang sekretaris umum HME sedang merapikan berbagai dokumen dan peralatan himpunan yang terasa masih semrawut setelah digunakan untuk perjuangan melawan tirani yang walaupun gagal secara fisik pada saat itu tapi secara moral berhasil menggulingkan tirani orde baru melalui reformasi dua puluh tahun kemudian. Satu unit televisi 14 inci merk Sanyo dan sebuah gitar Hoffner yang saya bawa dari rumah untuk hiburan teman-teman yang piket siaga ketika itu baru hari ini rencananya akan saya bawa pulang karena anak-anak elektro sudah mulai kuliah lagi setelah dicabutnya aksi mogok sebulan yang lalu.

Nampaknya perjuangan anak-anak itb untuk sementara sudah selesai, teman-teman yang sempat ditahan baik yang diciduk tibum maupun yang disortir di kampus sudah semuanya dibebaskan kecuali mereka yang harus disidangkan karena memproklamirkan DPRS seperti Al Hilal, Ramses, Indro Cahyono, dan sisanya saya lupa. Saya sendiri secara mujur tidak ditahan walaupun kepergok membawa notulen rapat siaga karena yang mensortir saya di kampus kebetulan anggota RPKADyang pro mahasiswa, dan ketika aksi lempar poster di pohon saya selamat dari kejaran Tibum karena berkat Vespa sakti saya sempat menyelinap ke Jalan Merdeka Lio setalah balapan dengan mobil tibum di Wastu Kencana. Nggak percuma saya kan anak Bandung yang hapal liku-liku sampai gang-gang dan branhang di kota Kembang tempat lahirku . Saya termasuk orang yang beruntung bisa mengalami langsung dua kali penyerbuan kampus, yang pertama kampus diduduki secara santun oleh pasukan Siliwangi yang menganggap mahasiswa ITB sebagai sedulur, dan yang kedua penyerbuan brutal karena konon dilakukan oleh pentol korek yang baru pulang dan selamat dari pembantaian di Timor Timur, wallahu alam. Saya sempat merinding bila teringat bahwa saking emosinya melihat cewek itb anak 75 pujaan saya (beraninya dalam hati saja sih) kena tendang sepatu lars hampir saja keluar penyakit nekat saya untuk menggelindingkan kapasitor yang telah saya isi tegangan tinggi 300 ribu volt (mentang mentang asisten lab tegangqan tinggi) ke tengah tengah para budugul cepak yang tidak punya perasaan itu. Kecolek sedikit saja kapasitor itu, prajurit-prajurit pentol korek itu dijamin garing. Untung saja kunci laboratoriumnya ketinggalan di bagasi Vespa yang diparkir jauh di halaman HME, sehingga tragedi besar tersebut tidak terjadi.

Lepas dari lamunan tersebut saya mulai membuka lagi ketikan skripsi yang sempat saya tinggalkan selama revolusi berlangsung. Ternyata saya harus beli tip-ex karena masih banyak salah ketik dan terjemahan bebas yang kurang pas, padahal besok hari saya sudah buat janji untuk konsultasi dengan pembimbing utama yaitu pak Sirait. Teringat akan dosen pembimbing, tiba-tiba muncul dalam benak saya nama Imaduddin sebagai salah satu dosen senior yang lebih dari satu tahun statusnya masih dalam tahanan Kopkamtib padahal seluruh tahanan ITB lainnya sudah dibebaskan atau di vonis di pengadilan. Rasa tanggung jawab sebagai pimpinan mahasiswa elektro mendorong saya untuk membicarakan cara pembebasan bang Imad ini kepada pak Sirait sebagai Ketua Jurusan Elektro, mumpung ada kesempatan ketemu beliau sambil konsultasi skripsi. Alih-alih membahas skripsi saya, pak Sirait justru tertarik dengan permohonan saya untuk membantu pembebasan bang Imad, saya bilang kasihan pak teman-teman saya yang dibimbing beliau akan terkatung-katung studinya. Tanpa menunggu lama pak Sirait menelpon rektorium dan Dr. Sudjana Sapiie yang dikenal dengan pak John sebagai ketua rektorium merangkap teman berdebatnya bang Imad langsung merespons dan meminta kita untuk membicarakan hal ini di kantor biro rector. Kebetulan saya ketemu Agus Darmadi yang kelihatan tersenyum, mungkin habis menang karambol, dan mengajak dia untuk mengatur rencana pembebasan bang Imad ini.

Singkat kata pak John, dengan gaya Amriknya, kaki di atas kursi, langsung menelepon pak Doddy Tisna yang dia bilang sebagai satu dari sedikit orang yang disegani oleh pak Sudomo. Di luar dugaan kami, ternyata Pak Doddy sangat antusias dan merespons sangat cepat untuk membantu pembebasan bang Imad ini, apalagi katanya idenya datang dari mahasiswa. Kami ditunggu di rumah beliau keesokan hari setelah magrib. Esok paginya, kita berangkat dan saya kebetulan diajak naik sedan built up bikinan Amrik yang dilengkapi dengan selimut otomatis punya pak John. Dan saya mendapat kehormatan duduk di samping beliau sekalian ngobrolin strategi apa yang akan kita gunakan menghadapi Sudomo. Saya usul sebaiknya bapak bapak sampaikan maksud untuk mengantarkan mahasiswa yang ingin menolong kawan-kawannya yang sekolahnya tertunda karena pembimbing skripsinya sudah lama ditahan. Pak John setuju, dan karena janjian dengan pak Doddy setelah magrib, kami punya cukup waktu untuk singgah dulu di RM Simpang Raya Puncak untuk menyantap ayam pop dan rendang paru yang nikmat sekali terutama karena ditraktir oleh Rektor ITB.
Apakah kita berhasil menemui Sudomo? Dan bagaimana hasilnya? Baca kisah lanjutannya setelah saya pulang dari Aceh