Monday, January 16, 2012

Gerakan Mahasiswa ITB 1978

by Facebook : Suara Rakyat on Wednesday, September 29, 2010 at 5:34am
Penolakan Soeharto sebagai Presiden kembali di ITB, 16 Januari 1978. Dan ini berbuntut panjang pada agresi aparat keamanan masuk ke dalam kampus ITB.

Gerakan Mahasiswa ITB 1978

Posted by Kaskusnews March 23, 2010

“Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Ia mau”

Mungkin mahasiswa ITB zaman sekarang sudah tidak mengenal lagi cerita ini. Dan mungkin juga mahasiswa-mahasiswa kampus lainnya, ketika almameter mereka mengalami tindakan represif yang sama. Tetapi gambar adalah bukti otentik bahwa benar kampus-kampus mereka pernah mencatat sejarah yang pahit.

memang ada benarnya apabila tugas utama mahasiswa itu belajar, tapi sudah seharusnya memang mahasiswa tetap menjadi kelompok yang juga paling dekat dengan masyarakat…

Jauh sebelum adanya “Gerakan Reformasi” di tahun 1998, para mahasiswa ITB di tahun 1978 telah melihat bahwa Presiden Soeharto sudah mulai keluar dari idealisme-idealisme membangun sebuah bangsa & negara dengan baik dan benar. Karena media massa saat itu sangat dikontrol oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak bisa mengutarakan pendapat, maka hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat.Dengan bersatu-padu, seluruh mahasiswa ITB saat itu melakukan berbagai kegiatan untuk “mengkoreksi” Presiden Soeharto melalui berbagai gerakan moral seperti menerbitkan buku putih dan mogok kuliah. Buku putih berisikan data-data kajian fakta dan juga pemikiran-pemikiran untuk perbaikan bangsa. Namun gerakan moral ini akhirnya di-“gebuk” dengan kekerasan melalui operasi pendudukan kampus ITB oleh tentara dan juga para tokoh mahasiswa-mahasiswanya dipenjara di tahanan politik, misalnya di tahanan Cimahi. Panglima Kodam Siliwangi di tahun 1978 adalah Mayor Jendral Himawan Soetanto.

Beberapa tokoh-tokoh pimpinan mahasiswa saat itu antara lain Heri akhmadi, Rizal ramli, Indro Tjahjono, Irzadi mirwan (alm), Al hilal, Ramles manampang, Jusman SD, Joseph Manurung, Kemal Taruc dan banyak lagi, ikut memimpin demonstrasi dan juga menuliskan sebuah buku putih. Dari sisi dosen ada nama Wimar witoelar yang cukup vokal dalam acara-acara demonstrasi.

wimar witoelar saat itu

Kisah Arya Rezavidi – Kisah tentang Dewan Mahasiswa ITB yang ketuanya ditangkap

Pada saat saya masuk ITB pada tahun 1977, suasana kampus saat itu sedang bergolak karena masalah politik. Suasana memang tidak terlalu kondusif untuk belajar, karena hampir setiap saat selalu ada orasi politik yang dilakukan oleh mahasiswa yang dilakukan di lapangan basket. Setelah memasuki kampus ITB, setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti paling tidak 2 jenis kegiatan ekstra kurikuler. Pada saat itu saya mengikuti 2 kegiatan yakni karate (KKI) dan PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan). Di PSIK ini saya berkenalan dengan Pudji Asmoro (sesama angkatan 1977) dan kemudian hari saya juga banyak mengenal beberapa tokoh mahasiswa yang menjadi anggotanya. Salah satu yang saya kenal adalah Anton Leonard (dari jurusan Geodesi). Saya sendiri tidak tahu apakah beliau anggota PSIK atau bukan, yang jelas pada saat itu sering kumpul-kumpul berdiskusi dengan tokoh-tokoh mahasiswa lainnya termasuk para pejabat Dewan Mahasiswa-ITB (DM-ITB). Pada saat itu sedang dilakukan pemilihan Ketua DM-ITB yang baru dan akhirnya terpilih Heri Akhmadi. Dalam kepengurusan DM ini, Anton Leonard menjadi Ketua Departemen penerangan DM-ITB.Seiring berjalannya waktu dan kemudian terjadi 2 kali pendudukan kampus oleh tentara, serta kemudian banyak pimpinan DM-ITB yang dibui termasuk juga Heri Akhmadi, maka kepengurusan DM-ITB akhirnya untuk sementara dijabat oleh sebuah presidium dengan salah satu ketuanya adalah Jusman SD, mahasiswa jurusan Mesin angkatan 1973 dan sekarang menjabat Menteri Perhubungan. Jusman terpaksa harus mengoperasikan organisasinya diluar kampus. Pada saat kepengurusan DM berada di luar kampus inilah, saya diminta Anton untuk membantu tugas-tugas Departemen Penerangan DM-ITB.

Terus terang saja karena saya sendiri masih awam dalam masalah kemahasiswaan dan karena saya sendiri belum genap setahun menjadi mahasiswa ketika terjadinya pendudukan kampus, maka keterlibatan saya ketika itu saya rasakan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak memiliki visi yang jelas benar sebenarnya kemana akan arah dari pergerakan mahasiswa ketika itu. Yang saya tahu hanyalah bahwa mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto tidak mencalonkan lagi menjadi presiden dalam SU-MPR berikutnya. Ketika kampus diduduki ini, kepengurusan DM beberapa kali membuat rapat di luar kampus berpindah dari rumah ke rumah, diantaranya yang saya ingat pernah ikut rapat di jalan Cipaganti, di jalan Tirtayasa dan bahkan pernah juga di kompleks Sesko ABRI di jalan Gatot Soebroto, Bandung. Saya tidah tahu rumah siapa saja yang dipakai rapat ini. Saya juga akhirnya berkenalan dengan Gembos, dari jurusan Geodesi angkatan 1975, yang bersama-sama Anton Leonard berada di Departemen Penerangan DM-ITB.

Digambar ini, mahasiswa di pagar betis dan dilakukan pemeriksaan KTM.

Kisah Arya rezavidi – Mencetak buku Putih I

Pihak Dewan Mahasiswa (DM) memutuskan untuk tetap berkomunikasi dengan seluruh mahasiswa yang ketika itu terpencar di luar kampus karena kampus diduduki tentara. Pihak DM menginginkan agar secara rutin menyebarkan selebaran untuk menunjukkan eksistensi mereka di luar kampus. Bersama-sama Anton dan Gembos, saat itu kami mencari beberapa lokasi untuk menempatkan mesin stensil milik DM, sampai akhirnya sampai di rumah Alex Supeli di Ciumbuleuit. Di tempat ini saya pertama kali berkenalan dengan Karlina Supeli, dari jurusan Astronomi angkatan 1977, adik dari rekan Alex. Selebaran sempat dicetak di rumah Alex Supeli ini, namun karena alasan keamanan Karlina menyarankan agar mesin stensil ini dipindahkan ke rumah Budiman Kresnaedi, teman seangkatan dari jurusan Planologi, yang biasa dipanggil Engkis. Kebetulan rumah Engkis tidak jauh dari rumah Alex yakni di jalan Panumbang Jaya, Ciumbuleuit.Akhirnya kami menuju ke rumahnya dan di rumah ini juga tinggal beberapa angkatan 1977 lainnya yakni Agus Dana, dari jurusan Biologi yang masih saudara sepupu Engkis, dan juga Ahmad Syamsi dari jurusan Fisika. Engkis tidak keberatan mesin ditempatkan di sana dan mulailah malam itu juga semua hasil rapat DM-ITB diperbanyak dan dijadikan selebaran stensilan untuk disebarkan keesokan harinya. Pengetikan selebaran dilakukan di tempat lain dan tugas kami hanya mencetak di atas mesin stensil tersebut.

Hampir setiap malam tangan kami belepotan hitam kena tinta stensil. Salah satu yang kemudian kami cetak juga adalah Buku Putih I yang penyusunan dan pengetikannya saya sendiri juga tidak tahu persis oleh siapa dan dimana. Yang pasti tugas kami hanyalah mencetak dan mencetak terus.Suatu saat Anton dan Gembos meminta saya untuk mengambil sumbangan dari seseorang, untuk membeli mesin stensil yang baru karena dengan hanya 1 mesin dirasakan kurang, tertutama pada saat mencetak Buku Putih I. Saya tidak tahu rumah siapa pada saat itu, tapi saya dibawa ke sebuah rumah di jalan Wastukancana. Di rumah ini Gembos menerima sejumlah uang yang menurut saya untuk saat itu ukurannya cukup banyak. Belakangan saya baru tahu bahwa rumah yang kami datangi tadi adalah rumah keluarga Panigoro. Dengan uang sumbangan tadi kami bisa membeli mesin stensil baru, tinta dan kertas-kertas yang semuanya kami beli di toko Gestetner di jalan Tamblong, Bandung. Dengan tambahan mesin stensil ini tugas kami mencetak semakin mudah dan cepat.

Penjagaan gerbang-gerbang kampus sejak suksesnya invasi aparat ke dalam kampus.

Kisah Karlina Supelli – terpaksa pindah tempat untuk pencetakan buku putih

Agus Dana dan Budiman (Engkis) dulu serumah di kawasan Ciumbuleuit. Di rumah merekalah “Buku Putih” ITB dan berkas-berkas sumber “Gerakan 1978” dibuat dan diperbanyak pakai mesin stensil, lalu disebar ke perguruan tinggi lain di Jawa. Beberapa mahasiswa ITB ditangkap di Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika sedang membawa Buku Putih itu. Saya ingat karena saya dan Alex ikut mengerjakan penerbitan gelap itu.Semula pengetikan dan perbanyakan dikerjakan di rumah kami, tetapi karena terlalu menyolok dan mulai didatangi intel, kami pindah ke rumah Engkis yang lebih terpencil tetapi masih di kawasan sama. Kegiatan di rumah Engkis dan Agus ini sangat menegangkan karena selalu dikerjakan tengah malam. Setelah selesai dicetak, berkas kemudian dibungkus, diangkut naik mobil atau motor secara diam-diam dan disebarkan. Buku putih ini merupakan salah satu sumber informasi bagi gerakan mahasiswa saat itu.

Kisah Agus Purnomo – mendistribusikan buku putih

Saya teringat sewaktu dikejar-kejar tentara dan punya KTP sampai 3 buah dengan nama yang berbeda-beda. Yang pasti, saya masih sedih mengingat cerita Kiswanti diseret dengan ditarik rambutnya oleh tentara yang dikirim dari Kodam Brawijaya pada saat pendudukan kampus. Terus ada juga yang mengalami patah tangan karena berhadapan dengan tentara, tapi rasanya bukan dari angkatan 1977.Salah satu dongeng kegiatan “perjuangan mahasiswa” -adalah bagaimana, Halim Mangunjudo (jurusan Elektro), Arie (Jurusan Sipil), June (Jurusan Teknologi Industri), Didi (Jurusan Arsitektur), Budi Kawi, Burhan, Goenarso (jurusan Teknik Industri) dan banyak teman angkatan 1977 lainnya melakukan operasi pencetakan dan pendistribusian buku-buku pleidoi dan “buku putih” di Motel di Karang Setra. Bagaimana mobil VW warna oranye punya Arie jebol mesin-nya di Jagorawi karena dipakai ke Jakarta pulang-pergi untuk dropping buku pleidoi. Padahal mobil itu pergi ke Jakarta tanpa meminta izin ke orang tua Arie.

Penjara Tahanan Politik Cimahi 1978

Kisah Husein Akil dipenjara bersama Tapol G-30-S & Gerakan DI-TII

Ketika baru menginjak tahun ke 2 sebagai mahasiswa ITB yaitu tahun 1978 terjadi gejolak mahasiswa dalam menentang pemerintahan Soeharto. Bagi angkatan saya pada saat itu pembagian jurusan belum dilaksanakan sehingga saat itu masih sebagai mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama). Meskipun demikian, cukup banyak mahasiswa seangkatan yang juga terlibat dalam pergerakan tersebut. Melakukan demonstrasi (unjuk rasa) saat itu dilarang sehingga melakukan penyebaran pamflet, poster dan spanduk sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah tidak dapat dilakukan secara terbuka.Salah satu cara dalam melakukan penyebaran/penempelan poster di tempat-tempat strategis di kota Bandung dilakukan dengan cara yang saat itu disebut bergerilya yaitu dilakukan pada waktu dini hari menjelang subuh (serangan fajar). Saya bersama sdr. Halim Mangunjudo, teman seangakatandari jurusan Elektro, ketika melakukan serangan fajar mengendarai vespa tertangkap polisi tibum (ketertiban umum) kemudian dimasukkan ke kendaraan truk terbuka dan ditahan sementara di kantor kodim baru di sore harinya kami dibawa ke penjara tahanan politik Cimahi diinapkan di sana selama 35 hari. Kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa ITB lainnya yang mereka juga tertangkap sedang melakukan serangan fajar di tempat lain.

Penjara Tahanan Politik Cimahi 1978

Sumber: http://kaskusnews.us/2010/03/23/gerakan-mahasiswa-itb-1978/

Sunday, January 15, 2012

Kisah pembebasan Imaduddin Abdurahim dari penjara PANGKOMKAMTIB

From: Supriadi Legino
Sender: ITB74@yahoogroups.com
Date: Sun, 15 Jan 2012 23:09:14 +0700
To:
ReplyTo: ITB74@yahoogroups.com
Subject: [ITB74] Saya, Agus Darmadi, diantara Sudomo dan Imaduddin

Rehat dulu yu!! diskusinya HGS dan para Ustadz agak berat kayaknya.......

Supriadi dan Agus Darmadi diantara Sudomo dan Imaduddin

Kisah ini sekedar nostalgia paska revolusi 1978 di kampus ITB yang ingin saya ceritakan sebelum rekaman dalam memori saya semakin banyak yang tergerus karena usia. Saya kira tidak banyak orang ITB yang mengetahui sempalan kehidupan kampus ini selain para pelaku yaitu saya dan Agus Darmadi dari ITb EL 74, Dr. KT Ing Sirait yang Kajur Elektro, Dr. Sudjana Sapiie yang ketua Rektorium waktu itu, Almarhum yang kita cintai Prof. Dr. Doddy Tisna Amijaya yang saat itu menjabat Dirjen Dikti, Pangkopkamtib Sudomo, almarhum bang Imad sendiri beserta istri beliau. Bahkan mungkin para pelakunya sendiri sudah lupa atas kisah yang tersisih ini.

Pagi itu saya yang sekretaris umum HME sedang merapikan berbagai dokumen dan peralatan himpunan yang terasa masih semrawut setelah digunakan untuk perjuangan melawan tirani yang walaupun gagal secara fisik pada saat itu tapi secara moral berhasil menggulingkan tirani orde baru melalui reformasi dua puluh tahun kemudian. Satu unit televisi 14 inci merk Sanyo dan sebuah gitar Hoffner yang saya bawa dari rumah untuk hiburan teman-teman yang piket siaga ketika itu baru hari ini rencananya akan saya bawa pulang karena anak-anak elektro sudah mulai kuliah lagi setelah dicabutnya aksi mogok sebulan yang lalu.

Nampaknya perjuangan anak-anak itb untuk sementara sudah selesai, teman-teman yang sempat ditahan baik yang diciduk tibum maupun yang disortir di kampus sudah semuanya dibebaskan kecuali mereka yang harus disidangkan karena memproklamirkan DPRS seperti Al Hilal, Ramses, Indro Cahyono, dan sisanya saya lupa. Saya sendiri secara mujur tidak ditahan walaupun kepergok membawa notulen rapat siaga karena yang mensortir saya di kampus kebetulan anggota RPKADyang pro mahasiswa, dan ketika aksi lempar poster di pohon saya selamat dari kejaran Tibum karena berkat Vespa sakti saya sempat menyelinap ke Jalan Merdeka Lio setalah balapan dengan mobil tibum di Wastu Kencana. Nggak percuma saya kan anak Bandung yang hapal liku-liku sampai gang-gang dan branhang di kota Kembang tempat lahirku . Saya termasuk orang yang beruntung bisa mengalami langsung dua kali penyerbuan kampus, yang pertama kampus diduduki secara santun oleh pasukan Siliwangi yang menganggap mahasiswa ITB sebagai sedulur, dan yang kedua penyerbuan brutal karena konon dilakukan oleh pentol korek yang baru pulang dan selamat dari pembantaian di Timor Timur, wallahu alam. Saya sempat merinding bila teringat bahwa saking emosinya melihat cewek itb anak 75 pujaan saya (beraninya dalam hati saja sih) kena tendang sepatu lars hampir saja keluar penyakit nekat saya untuk menggelindingkan kapasitor yang telah saya isi tegangan tinggi 300 ribu volt (mentang mentang asisten lab tegangqan tinggi) ke tengah tengah para budugul cepak yang tidak punya perasaan itu. Kecolek sedikit saja kapasitor itu, prajurit-prajurit pentol korek itu dijamin garing. Untung saja kunci laboratoriumnya ketinggalan di bagasi Vespa yang diparkir jauh di halaman HME, sehingga tragedi besar tersebut tidak terjadi.

Lepas dari lamunan tersebut saya mulai membuka lagi ketikan skripsi yang sempat saya tinggalkan selama revolusi berlangsung. Ternyata saya harus beli tip-ex karena masih banyak salah ketik dan terjemahan bebas yang kurang pas, padahal besok hari saya sudah buat janji untuk konsultasi dengan pembimbing utama yaitu pak Sirait. Teringat akan dosen pembimbing, tiba-tiba muncul dalam benak saya nama Imaduddin sebagai salah satu dosen senior yang lebih dari satu tahun statusnya masih dalam tahanan Kopkamtib padahal seluruh tahanan ITB lainnya sudah dibebaskan atau di vonis di pengadilan. Rasa tanggung jawab sebagai pimpinan mahasiswa elektro mendorong saya untuk membicarakan cara pembebasan bang Imad ini kepada pak Sirait sebagai Ketua Jurusan Elektro, mumpung ada kesempatan ketemu beliau sambil konsultasi skripsi. Alih-alih membahas skripsi saya, pak Sirait justru tertarik dengan permohonan saya untuk membantu pembebasan bang Imad, saya bilang kasihan pak teman-teman saya yang dibimbing beliau akan terkatung-katung studinya. Tanpa menunggu lama pak Sirait menelpon rektorium dan Dr. Sudjana Sapiie yang dikenal dengan pak John sebagai ketua rektorium merangkap teman berdebatnya bang Imad langsung merespons dan meminta kita untuk membicarakan hal ini di kantor biro rector. Kebetulan saya ketemu Agus Darmadi yang kelihatan tersenyum, mungkin habis menang karambol, dan mengajak dia untuk mengatur rencana pembebasan bang Imad ini.

Singkat kata pak John, dengan gaya Amriknya, kaki di atas kursi, langsung menelepon pak Doddy Tisna yang dia bilang sebagai satu dari sedikit orang yang disegani oleh pak Sudomo. Di luar dugaan kami, ternyata Pak Doddy sangat antusias dan merespons sangat cepat untuk membantu pembebasan bang Imad ini, apalagi katanya idenya datang dari mahasiswa. Kami ditunggu di rumah beliau keesokan hari setelah magrib. Esok paginya, kita berangkat dan saya kebetulan diajak naik sedan built up bikinan Amrik yang dilengkapi dengan selimut otomatis punya pak John. Dan saya mendapat kehormatan duduk di samping beliau sekalian ngobrolin strategi apa yang akan kita gunakan menghadapi Sudomo. Saya usul sebaiknya bapak bapak sampaikan maksud untuk mengantarkan mahasiswa yang ingin menolong kawan-kawannya yang sekolahnya tertunda karena pembimbing skripsinya sudah lama ditahan. Pak John setuju, dan karena janjian dengan pak Doddy setelah magrib, kami punya cukup waktu untuk singgah dulu di RM Simpang Raya Puncak untuk menyantap ayam pop dan rendang paru yang nikmat sekali terutama karena ditraktir oleh Rektor ITB.
Apakah kita berhasil menemui Sudomo? Dan bagaimana hasilnya? Baca kisah lanjutannya setelah saya pulang dari Aceh






Wednesday, April 7, 2010

Kisah pegawai pajak yang lurus "antitesa Gayus"

From: Susilo Cahyono
Date: 2010/3/30
Subject: [ia-itb-qatar] Kisah Pemeriksa Pajak Yg Lurus "antitesa gayus"
To: IA ITB Qatar

Dari sebelah...

Catatan:Ini kisah nyata salah seorang teman di STAN. Thumbs up for him!!! Kalau baca mesti sampai selesai. Dijamin Anda akan meneteskan air mata.

Aku kagum sama istrinya, ketika ia tidak membuka sama sekali amplop pemberian teman suaminya.... selama dua tahun!!! Padahal sang suami menganggap bahwa tidak ada apa-apa atas 'hadiah' dari sohib suaminya itu.... Betapa sakit hatinya Anda, ketika Anda punya 'trusted friends' tiba-tiba terkuak kalau doi 'betray you'.

Selamat membaca..... .
------------ --------- --
Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup [anti] korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. 

Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. 

Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti inI seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. 

Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. 

Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan. 

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik. Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi?” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. 

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau. Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.Ia lalu mengatakan, Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai, katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian! 

Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. 


Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. 

Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas.

Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah. 

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana? Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, kenapa tidak bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah. 

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. 

Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda.. Uang setan ya dimakan hantu! Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. 

Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca)

Powered by Q-Tel BlackBerry®
"Then which of the Blessings of Allah will you deny?"